Mendag Budi Ungkap Sikap Indonesia soal Tiga Isu Dagang di G20
Indonesia menyampaikan sikap soal excess capacity, kerja paksa, dan MFN dalam Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Amerika Serikat.
Lukisan kaca Pawukon karya Alm Drs. Djoko Suryono, M.Sn./Solopos-Sunaryo Haryo Bayu)
Harianjogja.com, SOLO— Tanggal kelahiran dalam tradisi masyarakat Jawa tidak hanya berkaitan dengan usia dan hari ulang tahun. Waktu kelahiran juga dapat menjadi bagian dari sistem penanggalan Jawa yang dikenal sebagai Pawukon.
Pawukon sering disebut atau dibandingkan dengan zodiak karena sama-sama menggunakan waktu kelahiran dalam pembacaan karakter. Meski demikian, keduanya memiliki sistem perhitungan dan latar budaya yang berbeda.
Pemerhati budaya Jawa asal Solo, Mufti Rahardjo, menjelaskan Pawukon merupakan bagian dari pengetahuan penanggalan Jawa.
“Pawukon itu bagian dari penanggalan Jawa,” ujar Mufti saat berbincang dengan Espos pada Sabtu (26/9/2026).
Mengenal 30 Wuku dalam Pawukon
Menurut Mufti, penanggalan Jawa tidak hanya mengenal hari. Di dalamnya terdapat pasaran, bulan, tahun, windu, hingga wuku.
Salah satu bagian yang cukup dikenal dalam Pawukon adalah siklus 30 wuku. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu putaran lengkap membutuhkan waktu 210 hari.
Setelah mencapai wuku ke-30, siklus tersebut kembali berulang dari wuku pertama. Ke-30 wuku dalam Pawukon terdiri atas:
Dalam tradisi Pawukon, masing-masing wuku juga dikaitkan dengan gambaran watak berdasarkan waktu kelahiran.
Kaitan antara waktu kelahiran dan gambaran watak tersebut yang kemudian membuat Pawukon kerap disandingkan dengan zodiak. Namun, pembagian dalam Pawukon menggunakan sistem wuku dalam penanggalan Jawa.
Weton Berbeda dengan Wuku
Selain wuku, penanggalan Jawa mengenal hari pasaran. Pasaran tersebut terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Perpaduan antara hari dan pasaran inilah yang dikenal sebagai weton. Karena sama-sama berkaitan dengan waktu kelahiran, weton dan wuku terkadang dianggap sebagai bagian yang sama, padahal keduanya berbeda.
Mufti menjelaskan weton merupakan gabungan antara hari dan pasaran. Sementara itu, wuku merupakan bagian dari siklus 30 wuku dalam Pawukon.
Dengan demikian, Pawukon, wuku, dan weton memiliki posisi serta pengertian yang berbeda dalam penanggalan Jawa.
Ada Dewa, Pohon, Burung, hingga Umbul-Umbul
Pawukon tidak hanya berkaitan dengan nama dan urutan wuku. Setiap wuku juga memiliki sejumlah simbol yang menjadi bagian dari pembacaan dalam tradisi tersebut.
Filolog dan konsultan Pawukon Museum Radya Pustaka Solo, Totok Yasmiran, menyebut simbol dalam setiap wuku antara lain berupa dewa, pohon, burung, hingga umbul-umbul.
“Di setiap Wuku ada dewanya, ada pohonnya, ada burungnya, ada umbul-umbul-nya,” jelas Totok ketika ditemui Espos pada Jumat (25/9/2026).
Berbagai simbol tersebut memiliki makna yang digunakan dalam tradisi untuk menggambarkan karakter atau sifat seseorang berdasarkan wuku kelahirannya.
Pemaknaan terhadap simbol-simbol tersebut merupakan bagian dari interpretasi dalam tradisi Pawukon. Karena itu, pembacaan karakter melalui wuku lebih tepat dipahami sebagai pengetahuan dan warisan budaya Jawa.
Mengetahui Wuku Kelahiran Lewat Kalender Daring
Perkembangan teknologi membuat masyarakat kini tidak harus menghitung wuku kelahiran secara manual. Totok mengatakan pencarian wuku dapat dilakukan melalui layanan kalender Jawa secara daring.
Kemudahan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan Pawukon kepada generasi muda. Mengenal Pawukon tidak hanya berkaitan dengan mengetahui hitungan wuku, tetapi juga memahami bagian dari pengetahuan budaya Jawa yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Indonesia menyampaikan sikap soal excess capacity, kerja paksa, dan MFN dalam Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Amerika Serikat.
Sebanyak 1.001 pembatik meramaikan Malioboro lewat Simfoni 1001 Pembatik, mengajak masyarakat mengenal proses dan budaya batik.
Angka pernikahan di Kota Jogja terus menurun. Kemenag mencatat rata-rata perempuan menikah usia 22-25 tahun dan laki-laki 25-28 tahun.
Pawukon merupakan bagian dari penanggalan Jawa yang mengenal 30 wuku. Simak perbedaan Pawukon, wuku, dan weton.
Sebanyak 7.990 atlet akan mengikuti Porprov Jateng 2026 dan memperebutkan 2.769 medali dari 58 cabang olahraga.
Gempa M6,1 mengguncang Sumba Barat Daya, NTT, Minggu pagi. Guncangan terasa hingga Manggarai Barat dan tidak berpotensi tsunami.