Miom dan Kista Bisa Ditangani Tanpa Angkat Rahim, Ini Caranya

Newswire
Newswire Rabu, 19 Agustus 2026 10:27 WIB
Miom dan Kista Bisa Ditangani Tanpa Angkat Rahim, Ini Caranya

Pemeriksaan ibu hamil. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Miom tidak selalu harus ditangani dengan operasi pengangkatan rahim. Pada kondisi tertentu, benjolan jinak yang tumbuh pada otot rahim tersebut dapat diangkat melalui prosedur operasi dengan tetap mempertahankan rahim.

Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital MT Haryono, dr. Sita Ayu Arumi, mengatakan perkembangan teknologi medis memungkinkan penanganan miom dan kista berukuran besar melalui teknik bedah minimal invasif, termasuk bedah robotik ginekologi.

Menurutnya, keputusan mengenai metode penanganan tetap harus disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain ukuran, jumlah, dan lokasi miom atau kista, kondisi kesehatan pasien, serta rencana kehamilan.

“Pilihan prosedur tetap harus ditentukan berdasarkan ukuran, jumlah, dan lokasi miom atau kista, kondisi kesehatan pasien, serta rencana kehamilan,” kata Sita dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Bedah Robotik untuk Miom dan Kista

Sita menjelaskan miom merupakan benjolan jinak yang tumbuh dari otot rahim. Sementara itu, kista ovarium merupakan kantung yang dapat berisi cairan atau jaringan dan tumbuh di indung telur.

Keduanya pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, pada kondisi tertentu, miom atau kista dapat berukuran besar dan membutuhkan tindakan medis.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah bedah robotik da Vinci Xi. Teknologi tersebut merupakan metode operasi minimal invasif yang digunakan dalam bidang ginekologi.

Dalam prosedur tersebut, instrumen robotik dikendalikan sepenuhnya oleh dokter bedah melalui konsol khusus. Teknologi ini memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan tingkat presisi yang tinggi.

Selain presisi, bedah robotik memiliki sejumlah keunggulan, seperti sayatan yang lebih kecil, bekas luka yang relatif minimal, serta potensi nyeri dan perdarahan yang lebih rendah. Proses pemulihan juga relatif lebih cepat dibandingkan sejumlah metode operasi konvensional, meski hasil dan waktu pemulihan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

“Jika pasien didiagnosis memiliki miom, kista berukuran besar atau disarankan menjalani operasi angkat rahim dan ingin mendapatkan pendapat medis kedua atau second opinion, maka teknologi bedah robotik bisa jadi pilihan,” ujar Sita.

Penanganan Disesuaikan Kondisi Pasien

Sita yang memiliki fokus pada Minimally Invasive Gynecologic Surgery (MIGS) dan kesehatan reproduksi mengatakan pasien perlu menjalani sejumlah tahapan sebelum menjalani operasi.

Tahapan tersebut meliputi pemeriksaan diagnostik, skrining kesehatan sebelum operasi, hingga persiapan tindakan pembedahan dan rawat inap. Seluruh proses disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing pasien.

Ia menekankan bahwa keberadaan miom tidak otomatis berarti pasien harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Pilihan terapi perlu ditentukan melalui pemeriksaan dan pertimbangan medis yang komprehensif.

Karena itu, pasien yang mendapatkan rekomendasi operasi pengangkatan rahim dapat mendiskusikan kembali pilihan penanganannya dengan dokter, terutama apabila masih mempertimbangkan fungsi reproduksi dan ingin mempertahankan rahim.

“Jangan biarkan rasa takut kehilangan rahim membatasi seseorang untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat,” kata Sita.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online