Nyeri Lutut Jangan Dianggap Sepele, Kenali Tanda Gangguan Sendi

Newswire
Newswire Jum'at, 14 Agustus 2026 11:07 WIB
Nyeri Lutut Jangan Dianggap Sepele, Kenali Tanda Gangguan Sendi

Ilustrasi nyeri sendi lutut/magnific

Harianjogja.com, JAKARTA— Nyeri lutut sering dianggap sebagai keluhan biasa, terutama ketika dialami orang yang sudah berumur. Namun, nyeri lutut yang berulang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari bisa menjadi tanda adanya gangguan fungsi sendi.

Dokter Spesialis Ortopedi dr Andito Wibisono, SpOT, Subsp PL, mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan rasa sakit. Penurunan kemampuan bergerak dan berkurangnya jarak berjalan juga perlu menjadi perhatian karena dapat menunjukkan adanya masalah pada fungsi lutut.

"Yang paling utama, munculnya sakit, ada yang gangguan fungsi [sendi]," ujar Andito saat peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026), seperti dilansir Antara.

Gangguan Lutut Tidak Selalu Terasa Sakit

Menurut Andito, gangguan pada lutut tidak selalu ditandai dengan rasa nyeri. Sebagian pasien justru mengalami penurunan kemampuan berjalan meskipun tidak merasakan sakit.

"Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk," katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fungsi lutut perlu dinilai secara keseluruhan. Tingkat gangguan tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan rasa sakit ataupun hasil pemeriksaan pencitraan.

Andito mencontohkan pasien yang mengalami perubahan bentuk kaki berdasarkan hasil rontgen, tetapi masih mampu berjalan dan menjalankan aktivitas dengan baik. Kondisi seperti itu tidak otomatis menjadi alasan untuk menjalani operasi.

"Dia bilang secara rontgen harus dioperasi. Tapi fungsinya masih baik, ya tidak saya operasi," ujarnya.

Kondisi Tulang Rawan Ikut Menentukan

Sebaliknya, pasien dengan gangguan yang belum terlalu berat tetap dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut apabila mengalami nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi yang terus berlangsung.

Operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebutuhan operasi karena kerusakan sendi juga dapat terjadi pada pasien yang lebih muda.

"Biasanya 60 tahun ke atas, kebanyakan. Ada yang 25 tahun," katanya.

Andito menjelaskan kondisi tulang rawan dan fungsi sendi setiap orang berbeda. Orang lanjut usia masih dapat melakukan aktivitas fisik apabila kondisi tulang rawannya masih baik.

"Kalau rawannya masih bagus, silakan jogging. Kalau arthritis, berubah jadi low impact," ujarnya.

Penanganan kerusakan sendi pun perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan apakah gangguan masih dapat ditangani dengan terapi nonoperatif atau membutuhkan operasi.

Robotik Bukan Pengganti Dokter

Bagi pasien yang membutuhkan operasi penggantian lutut, teknologi robotik ROSA dapat membantu dokter meningkatkan presisi dalam perencanaan dan pelaksanaan tindakan.

"Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat," katanya.

Meski demikian, teknologi robotik tidak ditujukan untuk menggantikan dokter. Teknologi tersebut menjadi alat bantu untuk meningkatkan ketepatan tindakan, sementara keputusan medis tetap ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Karena itu, masyarakat yang mengalami nyeri lutut berulang, kesulitan berjalan, atau penurunan kemampuan beraktivitas diimbau segera memeriksakan kondisinya kepada dokter. Pemeriksaan tidak perlu menunggu sampai gangguan menjadi semakin berat.

Perempuan Memiliki Risiko Lebih Tinggi

Sebelumnya, Dokter Spesialis Ortopaedi dan Traumatologi Siloam Hospitals Mampang, dr I Made Yudi Mahardika, Sp OT, mengatakan perempuan memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa kondisi tertentu, termasuk cedera ligamen lutut dan osteoporosis.

“Hal ini berkaitan dengan faktor hormonal, khususnya peran estrogen dalam memengaruhi kekuatan ligamen dan kepadatan tulang, serta faktor anatomi dan biomekanik, termasuk perbedaan struktur panggul dan pola gerakan tubuh,” ujar I Made Yudi seperti dilansir Antara.

Menurut dia, keluhan seperti nyeri lutut tidak semestinya dianggap sebagai kelelahan biasa. Kondisi tersebut perlu dievaluasi sejak dini, terlebih ketika gaya hidup aktif membuat banyak perempuan menjalani berbagai peran sekaligus, baik sebagai profesional maupun ibu rumah tangga yang aktif secara fisik.

Risiko kesehatan yang muncul juga dapat tidak disadari dan berkembang sejak usia muda. Keluhan berupa nyeri lutut saat naik tangga, pegal berkepanjangan, atau rasa tidak nyaman ketika berolahraga kerap dianggap wajar.

Padahal, secara klinis, gejala tersebut dapat menjadi indikasi awal gangguan muskuloskeletal yang membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online