Road Rage Meningkat, Tekanan Ekonomi Bikin Pengendara Mudah Emosi?

Sunartono
Sunartono Rabu, 19 Agustus 2026 06:47 WIB
Road Rage Meningkat, Tekanan Ekonomi Bikin Pengendara Mudah Emosi?

Ekspresi marah./Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perselisihan antarpengendara, aksi main hakim sendiri hingga perusakan kendaraan akibat luapan emosi semakin sering terlihat di jalan raya maupun media sosial. Fenomena tersebut dikenal sebagai road rage, kondisi ketika emosi negatif mengambil alih kendali pengemudi hingga mendorong perilaku agresif yang dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.

Kemacetan dan kepadatan lalu lintas kerap dianggap sebagai penyebab utama. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Di balik kemarahan yang muncul dalam hitungan detik, terdapat akumulasi tekanan psikologis, kelelahan fisik, tuntutan pekerjaan hingga persoalan sosial-ekonomi yang dapat memperpendek batas toleransi seseorang.

Mengapa Pengendara Mudah Terpancing Emosi?

Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang lebih mudah kehilangan kendali ketika berada di jalan raya. Situasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan karakter individu, tetapi juga lingkungan dan kondisi yang sedang dihadapi.

1. Merasa Aman karena Berada di Balik Kendaraan

Kendaraan atau helm dapat menciptakan sensasi anonimitas. Pengendara merasa berada di ruang yang terlindungi sehingga konsekuensi langsung dari perilakunya seolah lebih kecil.

Kondisi itu dapat membuat batas kesopanan dan toleransi menurun. Respons terhadap kesalahan pengguna jalan lain pun lebih mudah berubah menjadi kemarahan atau tindakan agresif.

2. Kemacetan Memicu Tekanan

Kemacetan panjang membuat pengendara menghadapi ketidakpastian sekaligus rasa tidak berdaya. Waktu yang terbuang di jalan dapat meningkatkan ketegangan, terlebih ketika seseorang tidak mengetahui kapan perjalanan akan kembali lancar.

Kondisi tersebut dikenal berkaitan dengan traffic stress syndrome. Ketegangan selama berjam-jam di jalan dapat meningkatkan tekanan psikologis, detak jantung, serta emosi negatif.

3. Jalan Raya Bisa Menjadi Persoalan Harga Diri

Bagi sebagian orang, jalan raya tidak hanya dipandang sebagai ruang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jalan juga dapat dipersepsikan sebagai arena persaingan.

Pengendara yang dipotong, diklakson atau disalip dapat menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk ancaman terhadap ego, harga diri, atau dominasi pribadi. Reaksi yang sebenarnya tidak sebanding dengan persoalan di jalan pun dapat muncul.

4. Kelelahan Mengurangi Kemampuan Mengendalikan Diri

Beban pekerjaan dan aktivitas sepanjang hari dapat membuat kondisi fisik serta mental pengendara menurun. Situasi itu semakin berat ketika ditambah cuaca panas dan kebisingan lalu lintas.

Kelelahan tersebut dapat menurunkan kapasitas seseorang untuk melakukan kontrol diri atau self-regulation. Akibatnya, gangguan kecil di jalan lebih mudah memicu respons emosional.

Apakah Kondisi Ekonomi Memengaruhi Road Rage?

Persoalan ekonomi memiliki keterkaitan dengan kondisi emosional seseorang, baik dari sisi psikologis maupun sosiologis. Tekanan finansial dapat membuat seseorang memiliki ambang toleransi yang lebih rendah terhadap gangguan.

Seseorang yang menghadapi utang, kenaikan biaya hidup atau ketidakpastian pekerjaan dapat terus berada dalam tekanan. Persoalan yang belum selesai di rumah maupun tempat kerja kemudian terbawa ketika berada di jalan.

Gangguan kecil seperti tersenggol atau diklakson dapat menjadi pemicu munculnya kemarahan yang sesungguhnya merupakan akumulasi dari tekanan sebelumnya.

Waktu di Jalan Bisa Berarti Pendapatan

Tekanan tersebut dapat menjadi lebih kuat bagi pekerja sektor informal, pengemudi transportasi daring, maupun kurir logistik. Bagi mereka, waktu yang dihabiskan di jalan berkaitan langsung dengan pendapatan.

Kemacetan atau tindakan pengendara lain yang dianggap menghambat perjalanan dapat dipersepsikan sebagai potensi kehilangan penghasilan. Tekanan semacam itu dapat mendorong perilaku berkendara menjadi lebih agresif dan defensif.

Dengan kata lain, jalan raya bukan sekadar ruang mobilitas bagi kelompok pekerja tersebut. Waktu perjalanan juga berkaitan dengan kemampuan mereka memperoleh pendapatan.

Ketimpangan Sosial Juga Bisa Memicu Gesekan

Jalan raya mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Pertemuan tersebut terkadang menghasilkan gesekan yang dipengaruhi prasangka kelas atau perasaan adanya ketidakadilan (perceived inequality).

Perbedaan jenis dan kelas kendaraan, misalnya, dapat menjadi salah satu pemicu munculnya prasangka tertentu. Ketika prasangka tersebut bertemu dengan emosi yang sudah tinggi, konflik antarpengguna jalan menjadi lebih mudah terjadi.

Karena itu, road rage tidak tepat dipahami hanya sebagai persoalan pengendara yang memiliki temperamen buruk. Ada kondisi lingkungan dan tekanan kehidupan yang dapat memperbesar kemungkinan seseorang kehilangan kendali.

Tekanan Ekonomi Bisa Menjadi Penguat

Faktor lalu lintas dan kepribadian tetap berperan dalam munculnya road rage. Namun, kondisi ekonomi dapat berfungsi sebagai amplifier atau pengeras tekanan emosional.

Ketika seseorang berada dalam tekanan ekonomi berkepanjangan, ketahanan mentalnya dapat ikut menurun. Jalan raya kemudian menjadi salah satu ruang yang rentan menjadi tempat pelampiasan frustrasi ketika terjadi gangguan kecil.

Pada akhirnya, kemarahan di jalan tidak selalu bermula dari persoalan di jalan. Klakson, senggolan, salipan atau kemacetan bisa saja hanya menjadi pemicu terakhir dari tekanan yang telah menumpuk sebelumnya.

Memahami faktor-faktor tersebut penting agar persoalan road rage tidak hanya dilihat sebagai konflik antarpengendara, tetapi juga sebagai fenomena yang berkaitan dengan tekanan psikologis, kondisi pekerjaan, mobilitas dan situasi sosial-ekonomi masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online