DJ Kalahkan Dokter dan AI Engineer, Jadi Pekerjaan Impian Warga AS

Jumali
Jumali Selasa, 14 Juli 2026 08:27 WIB
DJ Kalahkan Dokter dan AI Engineer, Jadi Pekerjaan Impian Warga AS

Disjoki atau DJ/Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Disjoki (DJ) ternyata menjadi pekerjaan impian bagi warga Amerika Serikat, mengalahkan profesi dokter. Layanan keuangan digital Remitly merilis data terbaru mengenai pekerjaan yang paling banyak dicari oleh masyarakat di 145 negara. Data ini menampilkan bahwa tren profesi impian telah bergeser secara drastis sejak penelitian ini pertama kali dilakukan pada tahun 2022.

Dari data tersebut, tercatat bahwa DJ berada di posisi ke-10 sebagai pekerjaan yang paling diimpikan dengan 97.930 pencarian. Profesi ini melonjak dari posisi ke-24 pada data sebelumnya.

Menariknya, angka tersebut justru lebih tinggi daripada dokter yang berada di posisi ke-16 dengan 79.860 pencarian.

Profesi dokter sendiri tadinya berada di posisi ke-11 dalam data sebelumnya. Bekerja sebagai seorang DJ telah menjadi pekerjaan yang paling diimpikan di beberapa negara, mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, hingga Irlandia.

Popularitas DJ juga mengungguli kategori profesi baru dalam studi tersebut. Di tahun ketika kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan menggeser pekerjaan kreatif, profesi prompt engineer justru hanya mencatatkan sekitar 5.500 pencarian di seluruh dunia.

Angka ini jauh di bawah popularitas DJ yang mencapai hampir 100 ribu pencarian. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun AI semakin berkembang, minat masyarakat terhadap profesi kreatif yang melibatkan musik dan hiburan justru semakin tinggi. Namun, realita industri musik EDM sering kali tidak seindah bayangan.

Survei tahun 2025 terhadap 15.000 musisi oleh Pete Tong DJ Academy mengungkapkan bahwa 61 persen DJ pendatang baru merasa jumlah pengikut di media sosial kini lebih krusial ketimbang kemampuan bermusik.

Sementara itu, 62 persen di antaranya menganggap industri ini sebagai lingkungan yang eksklusif dan sulit ditembus. Tantangan besarnya adalah apakah algoritma media sosial akan berpihak pada mereka atau tidak.

Bagi para penggemar musik dan mereka yang bercita-cita menjadi DJ, data ini menjadi cerminan bahwa profesi impian tidak selalu tentang gaji atau status, tetapi juga tentang gaya hidup dan ekspresi diri. Meskipun industri musik sangat kompetitif, popularitas DJ sebagai pekerjaan impian menunjukkan bahwa masyarakat masih mendambakan kebebasan kreatif dan koneksi emosional melalui musik.

Namun, persaingan yang ketat dan ketergantungan pada algoritma media sosial menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Bagi mereka yang serius menekuni profesi ini, kemampuan bermusik tetap penting, tetapi membangun personal branding dan keterlibatan dengan penggemar di media sosial menjadi kunci kesuksesan di era digital.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online