Hipertensi- Diabetes Muncul di Usia 30-an, MCU Jadi Kunci Deteksi

Newswire
Newswire Rabu, 24 Juni 2026 02:27 WIB
Hipertensi- Diabetes Muncul di Usia 30-an, MCU Jadi Kunci Deteksi

Ilustrasi mengatur konsumsi gula untuk kesehatan tubuh. Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kasus hipertensi dan diabetes kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, yakni mulai usia 30-an, padahal sebelumnya penyakit tersebut lebih dominan dialami oleh kelompok usia di atas 40 tahun. Kondisi ini mendorong pentingnya pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau medical check up (MCU) secara rutin di lingkungan kerja.

Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Klinik Pertamina IHC, Muchammad Arief Gunawan, menyebut perubahan tren tersebut berkaitan erat dengan pola hidup modern, tingkat stres, serta kurangnya waktu istirahat yang cukup di kalangan pekerja produktif.

“Dahulu hipertensi dan diabetes banyak ditemukan pada usia di atas 40 tahun, kini mulai muncul pada usia 30-an. Faktor penyebabnya bisa dari pola hidup, stres, hingga kurang tidur. Medical check up CU dapat meningkatkan produktivitas pekerja hingga efisiensi biaya kesehatan perusahaan,” katanya di Klinik Pertamina IHC Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa biaya pemeriksaan MCU untuk satu pekerja relatif kecil, yakni sekitar Rp1–2 juta, jika dibandingkan dengan biaya penanganan penyakit berat seperti serangan jantung yang dapat mencapai Rp150–200 juta. Karena itu, deteksi dini dinilai jauh lebih efisien secara ekonomi maupun kesehatan.

Arief menegaskan bahwa program kesehatan di perusahaan perlu disesuaikan dengan jenis risiko kerja masing-masing industri, karena setiap sektor memiliki paparan dan tantangan kesehatan yang berbeda.

Pada industri pertambangan, misalnya, pekerja memiliki risiko paparan debu silika yang dapat berdampak pada kesehatan paru-paru, sementara di sektor migas terdapat potensi paparan zat kimia yang lebih tinggi dan berisiko terhadap kesehatan jangka panjang.

Sementara itu, pekerja kantor dengan sistem work from office (WFO) juga tidak lepas dari risiko kesehatan, terutama akibat gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik yang dapat memicu berbagai penyakit metabolik.

“Program kesehatan yang efektif harus berdasarkan hasil medical check up, sehingga intervensi lebih spesifik dan hemat biaya,” ujar dia.

Dalam salah satu survei perusahaan, ia juga menemukan sekitar 70 persen pekerja mengonsumsi kopi setiap hari sebagai bagian dari cara mengelola stres kerja atau stressor di lingkungan profesional.

Menurutnya, stres dalam kadar tertentu memang dibutuhkan untuk menjaga produktivitas, namun jika berlebihan dapat menyebabkan burnout dan gangguan kesehatan lainnya, sehingga perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup.

Ia juga menyoroti faktor lingkungan kerja seperti pencahayaan yang kurang memadai yang dapat memicu kelelahan mata, dan temuan tersebut kerap dikonfirmasi melalui hasil MCU pekerja untuk melihat dampaknya terhadap kesehatan.

“Jika ingin menilai dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, cakupannya masuk ke analisis dampak lingkungan yang lebih luas dan melibatkan banyak pihak,” tuturnya.

Arief menambahkan, perbedaan tingkat stres juga terlihat jelas antara pekerja lapangan dan pekerja kantor, di mana sektor migas misalnya menghadapi tantangan seperti jauhnya jarak dari keluarga, isolasi sosial, hingga tingginya risiko obesitas akibat keterbatasan aktivitas fisik di lokasi kerja terpencil.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online