Gejalanya Mirip Flu, Ini Gejala Khas Virus Ebola varian Bundibugyo

Jumali
Jumali Kamis, 28 Mei 2026 22:47 WIB
Gejalanya Mirip Flu, Ini Gejala Khas Virus Ebola varian Bundibugyo

Ilustrasi Ebola/Ist-express.co.uk

Harianjogja.com, JOGJA— Wabah Ebola varian Bundibugyo dilaporkan menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan memicu kekhawatiran internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut laju penyebaran wabah kini lebih cepat dibanding kemampuan pengendalian di lapangan.

Dalam beberapa pekan terakhir, tercatat lebih dari 1.000 kasus suspek dengan sedikitnya 220 kematian dilaporkan di wilayah terdampak. Varian Bundibugyo dinilai berbahaya karena memiliki tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat yang disetujui secara resmi.

Gejalanya Mirip Flu Biasa

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan wabah ini adalah gejalanya yang menyerupai penyakit umum seperti flu. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, lemas, sakit tenggorokan, muntah, diare, hingga gangguan pencernaan.

Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi pendarahan internal, kerusakan organ, hingga gagal organ yang berujung kematian.

Karena gejala awal tampak “ringan”, banyak kasus terlambat terdeteksi sehingga risiko penularan menjadi lebih tinggi.

Masa Inkubasi Bisa Sampai 21 Hari

Virus Ebola Bundibugyo memiliki masa inkubasi yang cukup panjang, yakni hingga 21 hari sebelum gejala muncul.

Selama periode tersebut, pasien diduga sudah dapat menularkan virus kepada orang lain melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, air liur, muntahan, keringat, hingga jenazah korban yang terinfeksi.

WHO mengingatkan bahwa penularan paling berisiko terjadi pada lingkungan keluarga, fasilitas kesehatan, dan proses pemakaman tanpa protokol ketat.

WHO Akui Situasi Semakin Sulit

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengakui bahwa wabah berkembang lebih cepat dibanding kemampuan respons saat ini.

“Kami meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi menyebar lebih cepat daripada kemampuan kami untuk mengendalikannya,” dikutip dari Daily Mail.

Situasi di lapangan juga diperparah konflik bersenjata di Provinsi Ituri dan Kivu Utara yang memicu perpindahan massal penduduk. Lebih dari 100.000 orang dilaporkan mengungsi, sehingga memperbesar risiko penyebaran penyakit ke wilayah lain.

Harapan Baru dari Vaksin Oxford

Meski belum ada vaksin resmi untuk varian Bundibugyo, ilmuwan dari University of Oxford disebut sedang mengembangkan vaksin berbasis teknologi ChAdOx, platform yang sebelumnya digunakan dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Vaksin tersebut diperkirakan memasuki uji coba manusia dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Selain itu, beberapa kandidat vaksin eksperimental lain juga tengah dikembangkan dan diproyeksikan mulai diuji dalam enam hingga sembilan bulan mendatang.

Cara Mengurangi Risiko Penularan

WHO meminta masyarakat di wilayah terdampak meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat.

Berikut langkah pencegahan yang dianjurkan:

1. Rajin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer
2. Menghindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh pasien
3. Tidak menyentuh jenazah korban Ebola tanpa prosedur kesehatan resmi
4. Menggunakan alat pelindung diri saat merawat pasien
5. Segera memeriksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan

Bandara Dunia Mulai Perketat Pengawasan

Sejumlah negara mulai meningkatkan pemeriksaan kesehatan di bandara internasional menyusul kekhawatiran penyebaran lintas negara.

Italia sempat melaporkan dua kasus suspek pada pekerja kemanusiaan yang baru pulang dari Uganda, meski hasil akhirnya dinyatakan negatif.

Sementara itu, Amerika Serikat juga memperketat pemeriksaan setelah seorang dokter asal negara tersebut dilaporkan terinfeksi saat bekerja di wilayah wabah.

Jadi Alarm Kesiapsiagaan Global

Wabah Ebola Bundibugyo kembali menunjukkan bahwa ancaman penyakit menular global tidak hanya berasal dari virus pernapasan.

Dengan tingkat kematian tinggi, masa inkubasi panjang, dan belum adanya vaksin resmi, kesiapan sistem kesehatan internasional menjadi sorotan utama.

WHO memang masih menilai risiko penyebaran global relatif rendah. Namun negara-negara diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap pelaku perjalanan dari wilayah Afrika Tengah.

Bagi masyarakat, penting untuk tidak mengabaikan gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, atau sakit tenggorokan—terutama setelah bepergian dari daerah berisiko.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online