Ajarkan Toilet Training pada Anak, Bakal Jadi Masalah Jika Tertunda

Newswire
Newswire Selasa, 24 Desember 2024 18:47 WIB
Ajarkan Toilet Training pada Anak, Bakal Jadi Masalah Jika Tertunda

Ilustrasi toilet training. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTAToilet training atau atau melatih cara buang air kecil maupun buang air besar pada anak harus diajarkan sejak dini. Jika tertunda bisa menimbulkan masalah pada kesehatan anak.

Hal ini diutarakan anggota Unit Kelompok Kerja Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Meitha Pingkan Esther T. Sp.A (K).

"Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran adanya peningkatan penyebaran penyakit baik infeksi, diare, maupun hepatitis A," katanya dalam webinar IDAI yang diikuti dari Jakarta, Selasa (24/12/2024).

"Toilet training yang tertunda juga pada anak menyebabkan penolakan untuk buang air besar dan bisa terjadi konstipasi, juga masalah-masalah pencapaian dan pemeliharaan kontrol kandung kemih," kata dokter konsultan tumbuh kembang pediatri sosial lulusan Universitas Indonesia itu.

BACA JUGA: Libur Natal, Terjadi Peningkatan Volume Kendaraan di Kawasan Gumaton

Dia mengatakan, pembelajaran toilet training yang tertunda juga berpeluang menyebabkan stres pada orang tua, anggota keluarga, petugas di tempat penitipan anak, dan guru di sekolah.

Kehadiran anak-anak yang belum terlatih menggunakan toilet untuk buang air kecil maupun buang air besar bisa menambah beban kerja petugas tempat penitipan anak dan taman bermain anak.

Dokter Meitha menyampaikan, toilet training dimaksudkan untuk melatih anak supaya bisa secara mandiri buang air kecil maupun buang air besar di toilet.

Menurut dia, ada dua tujuan utama pelatihan menggunakan toilet secara mandiri bagi anak, yakni memampukan anak mengenali sensasi buang air kecil serta menguasai tata cara buang air kecil maupun buang air besar di toilet.

"Misalnya, begitu anak merasa ada sensasi untuk buang air kecil dia akan menuju toilet, dia akan duduk di toilet, buang air kecil, setelah itu dia akan membersihkan dirinya sendiri, menyiram toiletnya, cuci tangan, dan seterusnya," katanya.

Pada intinya, pelatihan dilakukan supaya anak menguasai seluruh tata laku yang menyertai kunjungan ke toilet, termasuk memakai celana sendiri.

Orang tua bisa memberikan contoh untuk membiasakan anak berkemih atau buang air besar di toilet.

Dokter Meitha menyarankan orang tua memberikan apresiasi jika anak berhasil menjalani fase pelatihan menggunakan toilet secara mandiri, mengingat proses belajar menggunakan toilet secara mandiri merupakan tonggak penting dalam perkembangan anak.

Selain dapat memudahkan orang tua, anggota keluarga, maupun pengasuh anak, melatih kemandirian anak menggunakan toilet bisa mengurangi biaya penyediaan popok.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online