HPP Gula Tak Naik 3 Tahun, Petani Terancam Tak Menikmati
HPP gula petani tak berubah sejak 2024. APTRI mengusulkan Rp15.500/kg, tetapi keputusan pemerintah belum terbit saat musim giling 2026 berakhir.
Ilustrasi batuk/Okezone.com
Harianjogja, JAKARTA — Batuk rejan merupakan batuk yang disebabkan bakteri pada saluran pernapasan dan pasru-paru. Kasus batuk rejan sudah semakin banyak ditemukan. Dengan sederet komplikasinya, masyarakat harus mengetahui perbedaan batuk rejan dengan batuk biasa, terutama di musim pancaroba.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kasus Batuk Rejan di Indonesia pada 2022 hanya 437 kasus. Namun, pada 2023 melonjak menjadi 2.163 kasus karena surveilans semakin banyak.
Adapun, pada 2024 sampai dengan Agustus kasusnya sudah 1.017, dengan sebagian besar penderita adalah anak-anak dan hampir tiga perempatnya tidak diimunisasi.
Dr. Anggraini Alam, SpA(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, menjelaskan bahwa pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh bakteri Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh infeksi bakteri Eksotoksin B. pertussis.
"Dalam bakteri ini ada 5 toksin yang bisa menyebabkan saluran nafas kita seperti lumpuh oleh toksin yang dikeluarkan bakteri tersebut, sehingga tidak bisa mengeluarkan dahak, kumannya menetap lebih lama, dan produksi dahak lebih banyak, dan terjadi berbulan-bulan," jelasnya.
Adapun, batuk rejan bisa menyebabkan komplikasi ke penyakit lain seperti:
"Dari kasus yang ada di Indonesia, tingkat kematiannya mencapai 1%. Mayoritas terjadi pada anak-anak karena tidak diberi vaksinasi," ungkapnya dalam Media Briefing, Jumat (23/8/2024).
BACA JUGA: Sering Batuk Saat Malam Hari? Begini Cara Mudah Mengatasinya
Lantas apa yang membedakan batuk pertusis dengan batuk biasa?
Dr. Anggraini mengatakan, perbedaan pertusis dengan batuk biasa adalah batuknya yang rapat atau sering dan keras.
"Ini hal yang seringkali tidak diketahui sebagai orang tua bahkan tenaga kesehatan. Pada anak, batuknya sering dianggap alergi, atau asma, atau gerd di mana keluar asam lambung yang menyebabkan batuk, atau TBC," katanya.
Selain itu pada pertusis, demamnya tidak tinggi, dan bisa disertai pilek. Selanjutnya, bisa disertai dengan muntah, lesu dan lelah.
Perlu diingat bahwa pertusis tidak bisa diobati. Batuk rejan hanya bisa dicegah dengan vaksinasi serta pola hidup bersih sehat (PHBS).
"Vaksinasi adalah satu-satunya cara kita tidak terdampak toksin pertusis yang menyebabkan batuk. Sementara pengobatan antibiotik hanya untuk mencegah penularan lebih lanjut," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
HPP gula petani tak berubah sejak 2024. APTRI mengusulkan Rp15.500/kg, tetapi keputusan pemerintah belum terbit saat musim giling 2026 berakhir.
Menhub Dudy Purwagandhi meminta operator menyiapkan armada, awak, dan rencana darurat untuk Angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Google memperkenalkan Gemini 4 Carbon dengan kemampuan pemrograman, keamanan siber, dan tugas kompleks jangka panjang. Simak fitur dan harganya.
Penerima PKH yang terindikasi judi online bisa mengajukan sanggahan. Simak cara klarifikasi, dokumen yang perlu disiapkan, dan tahapan verifikasinya.
Spotify berencana meluncurkan fitur remix musik berbasis AI pada 2027. Pengguna bisa mengubah genre dan vokal lagu dengan biaya tambahan.
Dubai Access Club menawarkan visa kunjungan lima tahun, kartu SIM gratis, dan kredit Rp9,8 juta. Simak biaya serta syarat pendaftarannya.