Zulhas Target 80 Persen Sampah RI Tertangani Lewat PSEL 2029
Pemerintah targetkan 80% sampah tertangani 2029 lewat PSEL dan pemilahan dari sumber, dorong perubahan perilaku masyarakat.
Ilustrasi batuk/Okezone.com
Harianjogja, JAKARTA — Batuk rejan merupakan batuk yang disebabkan bakteri pada saluran pernapasan dan pasru-paru. Kasus batuk rejan sudah semakin banyak ditemukan. Dengan sederet komplikasinya, masyarakat harus mengetahui perbedaan batuk rejan dengan batuk biasa, terutama di musim pancaroba.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kasus Batuk Rejan di Indonesia pada 2022 hanya 437 kasus. Namun, pada 2023 melonjak menjadi 2.163 kasus karena surveilans semakin banyak.
Adapun, pada 2024 sampai dengan Agustus kasusnya sudah 1.017, dengan sebagian besar penderita adalah anak-anak dan hampir tiga perempatnya tidak diimunisasi.
Dr. Anggraini Alam, SpA(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, menjelaskan bahwa pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh bakteri Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh infeksi bakteri Eksotoksin B. pertussis.
"Dalam bakteri ini ada 5 toksin yang bisa menyebabkan saluran nafas kita seperti lumpuh oleh toksin yang dikeluarkan bakteri tersebut, sehingga tidak bisa mengeluarkan dahak, kumannya menetap lebih lama, dan produksi dahak lebih banyak, dan terjadi berbulan-bulan," jelasnya.
Adapun, batuk rejan bisa menyebabkan komplikasi ke penyakit lain seperti:
"Dari kasus yang ada di Indonesia, tingkat kematiannya mencapai 1%. Mayoritas terjadi pada anak-anak karena tidak diberi vaksinasi," ungkapnya dalam Media Briefing, Jumat (23/8/2024).
BACA JUGA: Sering Batuk Saat Malam Hari? Begini Cara Mudah Mengatasinya
Lantas apa yang membedakan batuk pertusis dengan batuk biasa?
Dr. Anggraini mengatakan, perbedaan pertusis dengan batuk biasa adalah batuknya yang rapat atau sering dan keras.
"Ini hal yang seringkali tidak diketahui sebagai orang tua bahkan tenaga kesehatan. Pada anak, batuknya sering dianggap alergi, atau asma, atau gerd di mana keluar asam lambung yang menyebabkan batuk, atau TBC," katanya.
Selain itu pada pertusis, demamnya tidak tinggi, dan bisa disertai pilek. Selanjutnya, bisa disertai dengan muntah, lesu dan lelah.
Perlu diingat bahwa pertusis tidak bisa diobati. Batuk rejan hanya bisa dicegah dengan vaksinasi serta pola hidup bersih sehat (PHBS).
"Vaksinasi adalah satu-satunya cara kita tidak terdampak toksin pertusis yang menyebabkan batuk. Sementara pengobatan antibiotik hanya untuk mencegah penularan lebih lanjut," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah targetkan 80% sampah tertangani 2029 lewat PSEL dan pemilahan dari sumber, dorong perubahan perilaku masyarakat.
Jadwal layanan SIM Polresta Sleman Agustus 2026 telah dirilis. Cek lokasi SIM Keliling, MPP, SIMMADE, jam layanan, dan syarat perpanjangan.
Cek jadwal DAMRI Bandara YIA Rabu 19 Agustus 2026. Ada lima rute menuju Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 per penumpang.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu 19 Agustus 2026. Ada lima keberangkatan dari Jogja dan lima dari Kutoarjo.
Catat jadwal KA Bandara YIA reguler dan Xpress dari Tugu Jogja ke YIA maupun sebaliknya, lengkap dengan waktu keberangkatan.
Cek jadwal KRL Palur-Jogja Rabu 19 Agustus 2026, lengkap dari Stasiun Palur hingga Stasiun Yogyakarta.