PSEL Bogor Raya Target 30 MW, Ini Faktor Penentunya
PSEL Bogor Raya menargetkan listrik 20 MW–30 MW dari 1.500 ton sampah per hari, sekaligus menangani timbunan lama TPAS Galuga.
Ilustrasi obesitas./Harian Jogja
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebanyakan orang usia paruh baya telah keliru dan percaya bahwa mereka tidak mengalami obesitas. Padahal, menurut sebuah penelitian di Italia yang mengamati lemak tubuh menunjukkan ada jutaan orang obesitas tersembunyi yang tidak menyadari dirinya sudah masuk dalam kategori obesitas.
Obesitas merupakan kondisi medis berupa berat badan di atas normal karena penumpukan lemak berlebih. Hal ini bisa memicu risiko berbagai penyakit seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, penurunan kepadatan tulang, dan lainnya.
Melansir BBC, menurut para peneliti, batasan pengukuran baru dengan angka lebih rendah untuk obesitas bisa memberikan gambaran yang lebih baik tentang siapa saja yang terkena dampak obesitas.
Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh University of Tor Vergata di Roma, seiring bertambahnya usia, otot menurun dan lemak menumpuk di sekitar organ di daerah pinggang.
Hal ini seringkali terjadi tanpa perubahan berat badan. Oleh karena itu, tantangannya selanjutnya adalah bagaimana menemukan alat yang dapat dengan mudah menentukan orang yang obesitas.
Sebelumnya, cara standar untuk mengategorikan berat badan seseorang adalah dengan menghitung indeks massa tubuh, atau Body Mass Index (BMI).
Pengukuran ini menghitung dengan cara membagi berat badan orang dewasa dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, yang menghasilkan indeks berikut:
Metode ini memang cara yang cepat dan mudah, serta didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan cukup akurat pada sebagian besar orang.
Namun, pengukuran ini tidak dapat membedakan antara lemak, otot, dan tulang. Sebuah penelitian terhadap 4.800 orang dewasa berusia 40-80 tahun, yang dipimpin oleh Universitas Tor Vergata di Roma, dan dipresentasikan di Kongres Obesitas Eropa, mencari alternatif, mengukur persentase lemak tubuh.
BACA JUGA: Atasi Obesitas dengan Rumus Kalori Ini
Hasilnya, hanya 38% pria dan 41% wanita yang memiliki BMI di atas 30. Akan tetapi ketika melihat persentase lemak tubuh mereka yang dihitung menggunakan pemindaian, sebanyak masing-masing 71% dan 64% ditemukan mengalami obesitas.
Menurut Prof. Antonino De Lorenzo, yang terlibat dalam penelitian tersebut, jika masih terus menggunakan standar WHO untuk skrining obesitas, akan ada banyak nyawa orang dewasa paruh baya yang terancam oleh risiko penyakit terkait obesitas, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Menurutnya, BMI dengan indeks 27 harus digunakan sebagai batasan baru untuk menentukan obesitas di masa depan. “Menetapkan titik batas BMI baru dalam pengaturan klinis dan pedoman obesitas akan bermanfaat bagi potensi kesehatan jutaan orang lanjut usia,” kata Prof De Lorenzo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
PSEL Bogor Raya menargetkan listrik 20 MW–30 MW dari 1.500 ton sampah per hari, sekaligus menangani timbunan lama TPAS Galuga.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
Ahli waris pekerja padat karya di Sleman menerima santunan JKM Rp74 juta. Capaian UCJ Sleman hingga Oktober 2026 mencapai 36,48%.
Rachel/Febi kalah 16-21, 17-21 dari Treesa/Gayatri pada 16 besar Denmark Open 2026. Indonesia pun kehilangan seluruh wakil di ganda putri.
Malaysia menempati peringkat kelima Digital Nomad Visa Index 2026 dengan skor 82,9. Simak posisi Bali dan daftar 10 destinasi teratas.
Sentra kerajinan kulit Manding, Bantul, sepi pembeli. Perajin menghadapi persaingan toko online dan keluhan konsumen soal kualitas produk.