Neraca Dagang RI Defisit US$450 Juta pada Juni, Impor Lampaui Ekspor
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
Ilustrasi obesitas./Harian Jogja
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebanyakan orang usia paruh baya telah keliru dan percaya bahwa mereka tidak mengalami obesitas. Padahal, menurut sebuah penelitian di Italia yang mengamati lemak tubuh menunjukkan ada jutaan orang obesitas tersembunyi yang tidak menyadari dirinya sudah masuk dalam kategori obesitas.
Obesitas merupakan kondisi medis berupa berat badan di atas normal karena penumpukan lemak berlebih. Hal ini bisa memicu risiko berbagai penyakit seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, penurunan kepadatan tulang, dan lainnya.
Melansir BBC, menurut para peneliti, batasan pengukuran baru dengan angka lebih rendah untuk obesitas bisa memberikan gambaran yang lebih baik tentang siapa saja yang terkena dampak obesitas.
Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh University of Tor Vergata di Roma, seiring bertambahnya usia, otot menurun dan lemak menumpuk di sekitar organ di daerah pinggang.
Hal ini seringkali terjadi tanpa perubahan berat badan. Oleh karena itu, tantangannya selanjutnya adalah bagaimana menemukan alat yang dapat dengan mudah menentukan orang yang obesitas.
Sebelumnya, cara standar untuk mengategorikan berat badan seseorang adalah dengan menghitung indeks massa tubuh, atau Body Mass Index (BMI).
Pengukuran ini menghitung dengan cara membagi berat badan orang dewasa dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, yang menghasilkan indeks berikut:
Metode ini memang cara yang cepat dan mudah, serta didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan cukup akurat pada sebagian besar orang.
Namun, pengukuran ini tidak dapat membedakan antara lemak, otot, dan tulang. Sebuah penelitian terhadap 4.800 orang dewasa berusia 40-80 tahun, yang dipimpin oleh Universitas Tor Vergata di Roma, dan dipresentasikan di Kongres Obesitas Eropa, mencari alternatif, mengukur persentase lemak tubuh.
BACA JUGA: Atasi Obesitas dengan Rumus Kalori Ini
Hasilnya, hanya 38% pria dan 41% wanita yang memiliki BMI di atas 30. Akan tetapi ketika melihat persentase lemak tubuh mereka yang dihitung menggunakan pemindaian, sebanyak masing-masing 71% dan 64% ditemukan mengalami obesitas.
Menurut Prof. Antonino De Lorenzo, yang terlibat dalam penelitian tersebut, jika masih terus menggunakan standar WHO untuk skrining obesitas, akan ada banyak nyawa orang dewasa paruh baya yang terancam oleh risiko penyakit terkait obesitas, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Menurutnya, BMI dengan indeks 27 harus digunakan sebagai batasan baru untuk menentukan obesitas di masa depan. “Menetapkan titik batas BMI baru dalam pengaturan klinis dan pedoman obesitas akan bermanfaat bagi potensi kesehatan jutaan orang lanjut usia,” kata Prof De Lorenzo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Neraca dagang Indonesia defisit US$450 juta pada Juni 2026. BPS mencatat impor melampaui ekspor, terutama akibat defisit komoditas migas.
NNSiDE by Meliá Yogyakarta resmi memulai pembangunan ballroom baru melalui prosesi Groundbreaking Ceremony yang digelar pada Kamis (27/8).
Vietnam menyiapkan visa preferensial bagi wisatawan asing yang banyak belanja dan tinggal lebih lama. Simak target pariwisata Vietnam hingga 2030.
Kamboja menutup lebih dari 700 kompleks penipuan online dan menangkap hampir 30.000 tersangka dalam operasi pemberantasan selama setahun terakhir.
Mario Aji menunjukkan peningkatan signifikan pada Practice Moto2 Aragon 2026 dengan finis di posisi ke-17 setelah sebelumnya berada di peringkat ke-27 pada FP1.
Kita harapkan Pemkot Yogyakarta dapat menyiapkan menu Mustika Rasa guna atasi stunting di Yogyakarta