Zulhas Target 80 Persen Sampah RI Tertangani Lewat PSEL 2029
Pemerintah targetkan 80% sampah tertangani 2029 lewat PSEL dan pemilahan dari sumber, dorong perubahan perilaku masyarakat.
Alergi/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—Meski sama-sama menggunakan susu, tetapi alergi susu sapi dan laktosa intoleran memiliki perbedaan gejala dan penanganan.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Budi Setiabudiawan menyebutkan laktosa intoleran adalah kondisi ketika seseorang kekurangan enzim laktase.
Baca Juga: Jangan Anggap Remeh! Ini Pentingnya Susu Bagi Kehidupan Manusia
Susu sapi mengandung laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu. Di dalam pencernaan laktosa seharusnya dipecah oleh enzim laktase dan kemudian dicerna. Namun, ketika enzimnya tidak ada dalam tubuh, laktosa ini tidak dipecah dan masuk ke dalam usus besar.
Di dalam usus besar, laktosa akan difermentasi oleh kuman-kuman. Akibatnya fermentasi tersebut, perut menghasilkan gas yang berlebihan.
"Makanya gejala utamanya kembung, sering buang angin, bahkan sampai mual dan muntah," papar Dokter Budi dalam webinar, Rabu (20/9/2023).
Selain jadi banyak buang gas, penderita laktosa intoleran juga akan mengalami kondisi fesesnya menjadi asam, sehingga ketika buang air besar akan menyebabkan anus meradang dan kemerahan.
Apa Bedanya dengan Alergi Susu Sapi?
Dokter Budi menjelaskan lebih lanjut bahwa laktosa intoleran gejalanya murni hanya terjadi di saluran cerna.
Sementara itu, alergi susu sapi gejalanya bisa juga terjadi terbanyak muncul di kulit, berupa dermatitis atopik atau eksim sebanyak 35 persen. Kemudian gejala urtikaria atau biduran 18 persen.
Alergi susu sapi juga bisa juga menyerang saluran napas seperti menyebabkan asma dan rhinitis dengan prevalensi masing-masing 21 persen dan 20 persen.
Selain itu, alergi susu sapi juga menyerang ke saluran cerna sehingga menyebabkan diare hingga 53 perseb dan kolik 27 persen.
Selain itu, tak sedikit pula gejala alergi susu sapi sampai mengancam nyawa atau anafilaksis, ketika reaksi alergi menyebabkan kondisi gawat darurat, dengan prevalensi hingga 11 persen.
Untuk menggantikan konsumsi susu sapi bagi anak yang mengalami laktosa intoleran maupun alergi susu sapi bisa dengan menggunakan susu formula nabati berbahan kedelai atau soya.
"Selain digunakan sebagai alternatif dengan alergi susu sapi bergejala ringan sedang, susu soya tidak mengandung laktosa, jadi ini berguna memenuhi nutrisi pada anak dengan laktosa intoleran," ungkapnya.
Selain itu, susu soya juga memiliki kelebihan yakni mengandung serat. Serat adalah salah satu prebiotik yang merupakan makanan untuk kuman yang menguntungkan untuk usus atau probiotik.
"Kalau prebiotik dan probiotik bagus, akan mengubah sistem imun sel-selnya nanti menghasilkan regulator sehingga akan menyeimbangkan sistem imun. Ini akan menyebabkan percepatan terjadinya penyembuhan alergi susu sapi atau remisi pada anak, tidak alergi lagi terhadap alergi susu sapi," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah targetkan 80% sampah tertangani 2029 lewat PSEL dan pemilahan dari sumber, dorong perubahan perilaku masyarakat.
AI Claude prediksi Spanyol juara Piala Dunia 2026 setelah 50.000 simulasi. Argentina menjadi lawan final terkuat. Simak hasil analisis dan data di balik prediks
KPK menyatakan laporan gratifikasi amplop uang yang dilaporkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni selesai diproses di ranah pencegahan.
Pilur Serentak Gunungkidul 2026 memasuki tahap pendataan pemilih di 31 kalurahan. DPS dijadwalkan ditetapkan 31 Juli, sedangkan DPT pada 24 Agustus 2026.
Program Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026 TVRI dan TNI AD menjangkau 1,13 juta penonton di 25.912 titik serta mendorong ekonomi daerah.
DPR meminta ledakan Gudang Pusat Munisi TNI di Madiun menjadi momentum evaluasi sistem keselamatan, manajemen risiko, dan keamanan aset pertahanan nasional.