Rapat Paripurna DPR RI Setujui Destry Jadi Gubernur BI, Ini Dua Nama Pendampingnya
DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai DGS, dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur.
Ilustrasi bahan pangan. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Meskipun kandungan gizi dari suatu makanan itu baik, namun jika cara memasaknya tidak tepat, justru bisa memicu penyakit.
Dokter spesialis gizi klinik Claresta Diella mengungkapkan bahwa cara memasak yang tidak tepat dapat memicu risiko kanker. Salah satunya membakar daging merah sampai gosong.
"Cara pengolahan yang salah itu bisa jadi pencetus terjadinya kanker. Makan daging merah itu bagus, tapi kalau proses memasaknya salah seperti dibakar sampai gosong, itu memicu kanker," kata Diella dikutip dari Antara, Kamis (20/10)..
Oleh karena itu, ia mengatakan jika ingin memasak daging dengan cara dibakar, dianjurkan untuk tidak sampai gosong. Namun jika terlanjur, ia menyarankan untuk menyingkirkan bagian yang gosong sebelum daging itu dikonsumsi.
Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) itu menambahkan cara memasak lain yang tidak tepat adalah menggoreng sayuran. Hal ini lazim dilakukan, padahal bisa memicu kanker.
"Sayur kol itu sehat, tapi kalau cara memasaknya digoreng dan dikonsumsi terus menerus, itu juga meningkatkan risiko terjadinya kanker," ujarnya.
Menurutnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng akan membuat tubuh kelebihan lemak. Salah satu dampak buruk semakin banyak jaringan lemak dalam tubuh yaitu kadar estrogen juga akan semakin banyak, yang akhirnya dapat memicu risiko kanker payudara.
Meski demikian, Diella menegaskan bahwa cara memasak yang tidak tepat tersebut tidak serta merta membuat seseorang langsung terkena kanker.
Pasalnya, kata dia, ada faktor lain yang menyebabkan seseorang berisiko terkena kanker di antaranya faktor genetik, terlalu banyak terpapar zat-zat kimia penyebab kanker, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
"Ada beberapa penyakit yang memang faktor genetik ini tinggi, misalnya ibunya kanker payudara biasanya ke anaknya atau cucunya bisa kanker payudara juga," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.
Ia melanjutkan, seseorang memang tak bisa menghindari faktor risiko yang berasal dari genetik, namun dia tetap bisa mencegah kanker dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
"Yang pasti genetik ini tidak bisa dimodifikasi, tapi faktor lainnya bisa ya dengan cara menerapkan perilaku hidup sehat, makan makanan yang sehat, dan ada aktivitas fisik jadi jangan lupa olahraga juga," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai DGS, dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur.
AS memperingatkan ekonomi Iran bisa runtuh dalam hitungan minggu atau bulan akibat tekanan sanksi yang terus diperketat.
DPRD Bantul mendorong tambahan anggaran APBD Perubahan 2026 untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla selama kemarau.
Israel kembali menyerang Gaza pada 1 September 2026. Hamas mengecam serangan dan mendesak mediator menekan Israel mematuhi gencatan senjata.
BPS mencatat perjalanan wisnus tujuan DIY mencapai 4,28 juta pada Juli 2026, naik 21,68 persen dibandingkan Juli 2025.
Indonesia menyampaikan belasungkawa atas mangkatnya Raja Harald V dari Norwegia pada 28 Agustus dalam usia 89 tahun.