Ole Romeny Ungkap Arti Trofi FIFA ASEAN Cup bagi Timnas Indonesia
Ole Romeny menyebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026 sangat berarti setelah Timnas Indonesia mengalahkan Thailand lewat adu penalti.
Kardiovaskular/istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Dr Eva Susanti, S.Kp., M.Kes mengatakan kurangnya beraktivitas fisik menjadi salah satu faktor risiko selain hipertensi tidak terkontrol dan obesitas terhadap kejadian penyakit kardiovaskular.
"Kurang aktivitas fisik, semakin banyak orang yang tidak berolahraga. Kita harus memastikan masyarakat beraktivitas fisik lebih dari 30 menit sehari," ujar dia dalam sebuah acara kesehatan daring, Rabu (28/9/2022).
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kejadian penyakit kardiovaskular termasuk kebiasaan merokok dan adanya penyakit diabetes.
Dia lalu mengingatkan masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup sehat serta membiasakan deteksi dini untuk mencegah atau mengantisipasi penyakit jantung.
Menurut Kementerian Kesehatan, gaya hidup sehat selain rutin beraktivitas fisik, juga meliputi menerapkan pola makan sehat termasuk tinggi buah dan sayuran dan menghindari lemak saturasi yang buruk untuk jantung seperti makanan yang digoreng.
Selain itu, orang-orang juga disarankan menjaga berat badan normal demi dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung. Berat badan berlebih biasanya lekat kaitannya dengan penyakit jantung, diabetes, dan kadar kolesterol yang buruk.
Eva juga mengingatkan supaya masyarakat dapat mengelola stres karena ini berhubungan dengan sistem imun dan terjadinya penyakit.
Penyakit kardiovaskular terjadi karena adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini menyumbangkan 14,4 persen sebagai penyakit tidak menular (PTM) penyebab kematian terbanyak, menurut data Global Status Report 2019.
Di antara berbagai jenis penyakit kardiovaskular, penyakit jantung termasuk salah satunya. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia berdasarkan diagnosis jantung sebesar 1,5 persen dan prevalensi penyakit jantung koroner 0,5 persen tahun 2013.
"Beban penyakit global berdasarkan faktor risiko adalah tekanan darah tinggi, gula darah dan obesitas yang menduduki lima besar penyebab kematian utama di Indonesia. Kesemuanya faktor ini menjadi faktor risiko utama untuk menyebabkan penyakit jantung," jelas Eva.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Ole Romeny menyebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026 sangat berarti setelah Timnas Indonesia mengalahkan Thailand lewat adu penalti.
BGN menguji coba MBG prasmanan di dua sekolah DIY dengan 106 siswa. Kepuasan siswa dan guru mencapai 5/5, sisa makanan 3,3 kg.
Veda Ega Pratama punya rekam jejak kuat di Mandalika. Simak modal dan tantangan pembalap Honda Team Asia di Moto3 Indonesia 2026.
DPR RI resmi mengesahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan menjadi UU pada 6 Oktober 2026 setelah pembahasan sejak 14 September.
Unisa Jogja menggelar Unisa Festdengan konsep eko-green. Sampah botol plastik dikelola untuk mendukung beasiswa mahasiswa
Schneider Electric mengakuisisi PTC senilai Rp404 triliun untuk memperkuat bisnis software dan infrastruktur data center AI.