Klaten Ubah Sampah Jadi Listrik, Proyek Dimulai Tahun Ini
Klaten siapkan proyek sampah jadi listrik di TPA Troketon. Target operasi 2028, volume sampah capai 170 ton per hari.
Ilustrasi anak mengonsumsi fast food yang bisa menimbulkan obesitas/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Obesitas merupakan faktor risiko antara terjadinya penyakit tidak menular dan merupakan faktor risiko penyabab kematian ke 5 tertinggi. Kontribusi terbesar obesitas sebagai faktor risiko terjadi pada penayakit jantung, diabetes, dan ginjal.
Obesitas juga mengancam anak dan remaja dimana kini semakin sering ditemukan di berbagai negara termasuk Indonesia.
Dalam Rangka Hari Obesitas Sedunia Tahun 2022 pada 4 Maret nanti, Kementerian Kesehatan RI menghimbau untuk bersatu, mencegah, dan mengobati obesitas yang mencapai angka lebih dari 1,9 miliar di dunia dengan usia lebih dari 19 tahun.
Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, Elvieda Sariwati, menjelaskan mengenai tiga pilar mengenai penanggulangan penyakit tidak menular yang juga tertuang pada Kebijakan Permenkes 71/2015.
“Tiga pilar tersebut adalah promosi kesehatan yaitu bisa dari informasi, edukasi, iklan layanan masyarakat, video, dan medsos. Lalu ada skrining atau deteksi dini yaitu identifikasi sejak awal kemungkinan adanya faktor penyakit. Terakhir, dengan penanganan kasus yaitu pengobatan di fasyankes sesuai standar,” jelas Elvieda.
Tertuang juga pada Permenkes Nomor 4/2019 bahwa standar pelayanan minimal bidang kesehatan yaitu pelayanan kesehatan pada usia produktif.
Cara pencegahan bisa dilakukan dengan mencermati jumlah kalori dari makanan yang akan kita konsumsi.
“Menjamurnya makananan yang tinggi kadar kalorinya menjadi faktor penyebab terjadinya obesitas, banyak makanan yang enak tapi kita perlu mencermati kalorinya berapa,” lanjut Elvieda.
Pencegahan juga bisa diterapkan kepada anak-anak, seperti yang dikatakan Perwakilan Dokter Anak Indonesia, Dr. Winda Pratita, MKed(Ped), Sp(A)K.
“Anak itu suka makanan yang manis dan kalorinya tinggi, jika tidak diatasi maka anak akan overweight atau obesitas karena nutrisinya salah. Pencegahannya dengan mengedukasi orang tua, jangan menaruh TV di kamar anak agar tidak keasikan makan terus, harus dijadwal misal 30 menit saja waktu makan,” jelas Winda.
Winda melanjutkan, ada tiga tahap pencegahan yaitu primer, sekunder, dan tersier.
“Pencegahan terjadinya gizi lebih dan obesitas terdiri dari 3 tahap, pencegahan primer dengan menerapkan pola makan dan aktivitas yang benar sejak bayi, pencegahan sekunder dengan mendeteksi early adiposity rebound, dan pencegahan tersier dengan mencegah terjadinya komplikasi,” jelasnya.
Edukasi mengenai obesitas harus ditingkatkan dan coba selalu pantau berat badan secara berkala. Selain itu, lakukan aktivitas fisik secara teratur serta terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Klaten siapkan proyek sampah jadi listrik di TPA Troketon. Target operasi 2028, volume sampah capai 170 ton per hari.
Airlangga Hartarto bertemu Menteri Perdagangan China, Huawei, dan ByteDance di Shanghai untuk membahas investasi kawasan industri, AI, cloud computing.
Presiden FIFA Gianni Infantino kokoh di tengah skandal Balogun dan protes Eropa. Dapat dukungan 200+ asosiasi, ia menuju jabatan keempat tanpa rival.
Pemerintah China panggil produsen mobil, larang perang harga dan iklan berlebihan. Fokus pada keamanan ADAS dan sanksi tegas bagi pelanggar regulasi.
DeepSeek diperkirakan memiliki valuasi Rp929 triliun setelah transaksi investasi terbaru. Startup AI asal China itu kini menjadi perusahaan AI paling bernilai d
Akses antarwilayah di wilayah kepulauan Indonesia bergantung pada transportasi laut dengan kondisi yang kerap berubah.