AI Masuk E-Katalog, Luhut Klaim Anggaran Bisa Hemat 30 Perse
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Ilustrasi anak mengonsumsi fast food yang bisa menimbulkan obesitas/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Obesitas merupakan faktor risiko antara terjadinya penyakit tidak menular dan merupakan faktor risiko penyabab kematian ke 5 tertinggi. Kontribusi terbesar obesitas sebagai faktor risiko terjadi pada penayakit jantung, diabetes, dan ginjal.
Obesitas juga mengancam anak dan remaja dimana kini semakin sering ditemukan di berbagai negara termasuk Indonesia.
Dalam Rangka Hari Obesitas Sedunia Tahun 2022 pada 4 Maret nanti, Kementerian Kesehatan RI menghimbau untuk bersatu, mencegah, dan mengobati obesitas yang mencapai angka lebih dari 1,9 miliar di dunia dengan usia lebih dari 19 tahun.
Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, Elvieda Sariwati, menjelaskan mengenai tiga pilar mengenai penanggulangan penyakit tidak menular yang juga tertuang pada Kebijakan Permenkes 71/2015.
“Tiga pilar tersebut adalah promosi kesehatan yaitu bisa dari informasi, edukasi, iklan layanan masyarakat, video, dan medsos. Lalu ada skrining atau deteksi dini yaitu identifikasi sejak awal kemungkinan adanya faktor penyakit. Terakhir, dengan penanganan kasus yaitu pengobatan di fasyankes sesuai standar,” jelas Elvieda.
Tertuang juga pada Permenkes Nomor 4/2019 bahwa standar pelayanan minimal bidang kesehatan yaitu pelayanan kesehatan pada usia produktif.
Cara pencegahan bisa dilakukan dengan mencermati jumlah kalori dari makanan yang akan kita konsumsi.
“Menjamurnya makananan yang tinggi kadar kalorinya menjadi faktor penyebab terjadinya obesitas, banyak makanan yang enak tapi kita perlu mencermati kalorinya berapa,” lanjut Elvieda.
Pencegahan juga bisa diterapkan kepada anak-anak, seperti yang dikatakan Perwakilan Dokter Anak Indonesia, Dr. Winda Pratita, MKed(Ped), Sp(A)K.
“Anak itu suka makanan yang manis dan kalorinya tinggi, jika tidak diatasi maka anak akan overweight atau obesitas karena nutrisinya salah. Pencegahannya dengan mengedukasi orang tua, jangan menaruh TV di kamar anak agar tidak keasikan makan terus, harus dijadwal misal 30 menit saja waktu makan,” jelas Winda.
Winda melanjutkan, ada tiga tahap pencegahan yaitu primer, sekunder, dan tersier.
“Pencegahan terjadinya gizi lebih dan obesitas terdiri dari 3 tahap, pencegahan primer dengan menerapkan pola makan dan aktivitas yang benar sejak bayi, pencegahan sekunder dengan mendeteksi early adiposity rebound, dan pencegahan tersier dengan mencegah terjadinya komplikasi,” jelasnya.
Edukasi mengenai obesitas harus ditingkatkan dan coba selalu pantau berat badan secara berkala. Selain itu, lakukan aktivitas fisik secara teratur serta terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Peneliti Jepang mengembangkan program e-Bocchi untuk membantu anak menghadapi kesepian, meningkatkan kemampuan mencari bantuan, dan mencegah depresi.
Petisi penolakan proyek geothermal Gunung Ungaran menembus 7.000 dukungan. Pemprov Jateng memastikan perizinan dan amdal dikaji ketat.
Muhammadiyah meminta polisi tidak tebang pilih mengusut dugaan kekerasan yang melibatkan anggota maupun ormas berdasarkan bukti hukum.
Dokter UGM mengingatkan pentingnya mengontrol kolesterol dan menerapkan gaya hidup sehat untuk menekan risiko penyakit jantung dan stroke.
Program Manajemen Talenta Nasional di ISI Jogja menyiapkan talenta seni, olahraga, riset, dan inovasi untuk berkontribusi pada ekonomi nasional.