Krisis Air Bersih Mulai Meluas di DIY, Puncak Kekeringan di Agustus
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Ilustrasi kesehatan mental (Freepik)
Harianjogja.com, JOGJA— Gangguan kecemasan dan depresi tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup seseorang. Kondisi yang tidak tertangani dengan baik bahkan berpotensi memengaruhi hubungan sosial serta menambah beban ekonomi bagi individu maupun masyarakat.
Data hasil skrining kesehatan jiwa dalam Program Cek Kesehatan Gratis per 15 Agustus 2025 menunjukkan gejala kecemasan dan depresi masih ditemukan di masyarakat. Temuan tersebut menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan peningkatan literasi kesehatan mental untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Mengutip laman Universitas Gadjah Mada (UGM), berdasarkan hasil skrining terhadap 13 juta penduduk yang mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis hingga 15 Agustus 2025, sekitar 1% masyarakat mengalami gejala depresi dan 0,9% mengalami gejala kecemasan.
Angka tersebut relatif lebih rendah dibandingkan estimasi global yang menunjukkan prevalensi depresi umumnya berada pada kisaran 3% hingga 5%.
Psikolog sekaligus Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati, mengatakan terdapat beragam faktor yang memengaruhi munculnya gejala depresi dan kecemasan pada seseorang.
"Bisa mencakup tekanan psikologis dan sosial-ekonomi, penyakit kronis, pekerjaan, serta keterbatasan akses layanan kesehatan psikologis," ujarnya.
Menurut Nurul, stigma dan rendahnya literasi kesehatan mental juga menjadi faktor yang menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi sehingga tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, keterampilan coping atau kemampuan mengelola tekanan yang belum berkembang secara optimal turut berkontribusi terhadap munculnya gangguan kesehatan mental.
Ia menjelaskan depresi dan kecemasan dapat menurunkan produktivitas masyarakat melalui meningkatnya ketidakhadiran di tempat kerja maupun kondisi hadir bekerja tanpa mampu menjalankan tugas secara optimal (presenteeism).
"Secara global, kondisi ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari US$1 triliun per tahun serta menurunkan kualitas hidup dan relasi sosial masyarakat," jelasnya.
Nurul mengingatkan bahwa kecemasan dan depresi yang tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan risiko berkepanjangan. Karena itu, gejala yang muncul perlu dikenali sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi gangguan kronis.
Gangguan kesehatan mental yang berlangsung dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko penggunaan strategi coping yang maladaptif, seperti penyalahgunaan zat, memburuknya kondisi kesehatan fisik, hingga meningkatkan risiko tindakan bunuh diri.
"Di sisi lain, beban psikologis, ekonomi, dan sosial juga makin memperberat individu, keluarga, dan juga masyarakat," katanya.
Untuk menekan angka depresi dan kecemasan, Nurul menilai peningkatan literasi kesehatan mental perlu menjadi prioritas. Melalui langkah tersebut, diharapkan stigma terhadap gangguan kesehatan mental dapat berkurang, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, peningkatan literasi kesehatan mental juga dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini terhadap gejala depresi dan kecemasan, baik di lingkungan keluarga maupun layanan kesehatan primer.
Ia juga mendorong pengembangan dan perluasan program maupun intervensi berbasis bukti yang dapat dijalankan oleh tenaga non-spesialis guna memperluas akses layanan kesehatan mental bagi masyarakat.
"Penting juga untuk mengupayakan gerakan promosi dan prevensi yang berkelanjutan serta alur rujukan masalah kesehatan mental baik di sekolah, kampus, dan tempat kerja," lanjutnya.
Upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi penting mengingat gangguan kecemasan dan depresi tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga dapat memengaruhi lingkungan sosial serta produktivitas di berbagai sektor kehidupan, termasuk di tempat kerja dan lingkungan pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Jadwal perpanjangan SIM Sleman Agustus 2026 di Satpas, MPP, SCH, dan SIMMADE lengkap dengan syarat, lokasi, dan jam pelayanan.
Jadwal SIM Keliling dan Samsat Keliling malam di SSA Bantul Agustus 2026 lengkap dengan syarat perpanjangan SIM dan layanan PKB tahunan.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Agustus 2026 lengkap dengan layanan SIMMADE, Simenor Ngabuburit, MPP, Satpas, dan biaya perpanjangan SIM.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Agustus 2026 lengkap dengan lokasi SIMMADE, SIMPITU, SIM Station, Saturday Night Service, syarat, dan biaya.
Rute Trans Jogja 2026 makin luas. Simak daftar jalur terbaru, tarif, dan manfaat transportasi publik murah untuk mobilitas warga Jogja.