OJK Cabut Izin 9 BPR dan BPRS Sepanjang 2026, Ini Daftarnya
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
Ilustrasi serangan jantung./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA - Beberapa orang percaya kaget dapat menyebabkan kematian akibat serangan jantung. Meski kondisi ini jarang terjadi, ini adalah sesuatu yang dapat dijelaskan secara medis.
Kaget, atau juga dikenal dengan syok merupakan kondisi serius yang disebabkan oleh penurunan aliran darah secara tiba-tiba. Syok dapat terjadi akibat trauma, ketakutan, sengatan panas, kehilangan darah, reaksi alergi, kercaunan, luka bakar parah dan lainnya.
Pada awalnya, tubuh merespons situasi yang mengancam jiwa ini dengan menyempitkan pembuluh darah di ekstermitas (tangan dan kaki). Ini disebut vasokonstriksi dan membantu menghemat aliran darah ke organ vital.
Namun, tubuh juga melepaskan hormon adrenalin, dan ini dapat membalikkan respons awal tubuh.
Saat seseorang merasa takut atau dianggap dalam bahaya, otak memicu lonjakan adrenalin, yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mendorong tubuh langsung ke mode fight or flight yang artinya melawan atau melarikan diri.
Melansir Heart.org, Jumat (10/12/2021), seorang ahli jantung dan presiden Advocate Medical Group di Illnois Vincent Bufalino mengatakan lonjakan adrenalin yang lebih berbahaya datang dari respons tubuh terhadap situasi yang mengancam jiwa atau stres akibat kehilangan orang yang dicintai.
"Anda bisa mengalami kejadian terkait jantung yang berhubungan dengan lonjakan adrenalin. Tapi saya pikir akan berlebihan untuk mengatakan bahwa Anda bisa mendapatkannya dari seseorang yang mengenakan kostum serigala di depan pintu," kata Vincent.
Tapi tentu saja, kondisi ini akan lebih berisiko pada orang dengan penyakit kardiovaskular, sehingga syok perlu dihindari untuk mencegah kematian.
Pada dasarnya, ketika tubuh merespons situasi yang mengancam jiwa, menakutkan, atau stres yang tiba-tiba, tubuh akan memompa banyak adrenalin ekstra atau yang disebut katekolamin. Nah peningkatan hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh.
Beberapa efek khas yang mungkin Anda rasakan termasuk meningkatnya detak jantung, tekanan darah, kadar glukosa darah dan reaksi umum dari sistem saraf simpatik yang memberi tahu tubuh apakah harus melawan atau berlari.
Kondisi ini juga memengaruhi sistem kelistrikan jantung, yang dapat menyebabkan aritmia, penyempitan pembuluh darah atau kejang yang membuat fungsi jantung menurun.
Dalam hal ini, otot jantung mungkin berhenti berdetak dan tidak memompa darah secara efisien seperti yang diperlukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
Putri Kusuma Wardani bertahan di peringkat 6 dunia BWF per 30 Juli 2026. Pebulu tangkis Indonesia itu hanya terpaut 565 poin dari posisi lima besar yang ditempa
Wakil Ketua DPRD Bantul, Agung Laksmono, mendorong pengembangan pariwisata menjadi salah satu cara Kabupaten Bantul memperkuat kemandirian fiskal di tengah kebi
Harga emas Antam di Pegadaian turun Rp12.000 per gram pada Kamis 30 Juli 2026. Harga emas 1 gram kini Rp2.706.000, sementara buyback Rp2.406.000.
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe lolos ke semifinal WTA 500 DC Open 2026 usai kalahkan wakil tuan rumah 6-3, 6-2. Modal menuju US Open!
Pemerintah menyiapkan uji coba penyaluran bansos melalui 900 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Skema ini diharapkan memudahkan akses penerima manfaat di desa