OJK Cabut Izin 9 BPR dan BPRS Sepanjang 2026, Ini Daftarnya
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
Jus jeruk
Harianjogja.com, JAKARTA – Mahasiswa PhD, Pooria Lesani telah mengembangkan teknik deteksi kanker yang terbuat dari jus jeruk.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Chemical Engineering, Lesani menggambarkan probe berbasis jeruk berbiaya rendah yang terbukti menjadi nanobiosensor yang berguna untuk menyaring sel-sel yang mungkin berisiko terkena kanker.
Nanobiosensor adalah probe kecil yang ‘bersinar’ dalam sel manusia dan memberi sinyal apabila sel-sel itu menjadi asam, yang menunjukkan bahwa kanker tidak jauh. Ini menunjukkan sel mana yang paling berisiko terkena kanker sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan.
Dalam penelitian ini, melansir Cosmos, Rabu (8/12/2021), Lesani menggunakan jeruk yang telah busuk sebagai bahan utama dalam nanobiosensor dan merupakan bagian integral untuk membuat titik-titik karbon berpendar, gumpalan kecil karbon yang panjangnya hanya sepermiliar meter.
Lesani menuturkan, proses pembuatan titik karbon untuk nanobiosensor ini mirip dengan membuat makanan di panci bertekanan tinggi.
“Kami menuang semua bahan bersama-sama, dalam hal ini jus jeruk busuk dan sedikit air ke dalam reaktor yang agak menyerupai panci bertekanan tinggi. Tutup rapat dan masukkan ke dalam oven ilmiah yang dipanaskan hingga sekitar 200 derajat Celcius,” jelasnya.
Meningkatnya suhu dan tekanan di dalam reaktor memecah struktur molekul awal bahan, membantu mereka membentuk bahan baru yakni titik karbon.
Titik-titik inilah yang kemudian digunakan untuk membangun nanobiosensor.
Nah, untuk menggunakan biosensor, biopsi jaringan kecil diambil dari pasien dan dimasukkan ke dalam cawan petri. Biosensor diterapkan ke sel dan diperiksa di bawah mikroskop fluoresen, yang mengambil perubahan kecil dalam cahaya. Jeruk juga tinggi akan asam askorbat yang meningkatkan fungsi sensor.
Apabila sel tersebut sehat, maka biosensor akan bersinar terang. Tetapi, bila sel lebih pada sisi asam dan cahaya tampak redup, sel-sel ini mungkin bersifat prakanker.
Teknik ini tidak memakan waktu lama dan memberikan hasil yang cepat dan akurat.
“Kami telah mengembangkan nanobiosensor yang sensitif dan hemat biaya untuk mengukur tingkat keasaman sel secara real time. Nanobiosensor ini juga dapat membantu kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana penyakit ini berkembang,” ungkapnya.
Selain dapat mendeteksi kanker dengan cepat dan akurat, ini tentu juga memiliki manfaat tambahan dengan mengalihkan limbah makanan dari tempat pembuangan akhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
OJK telah mencabut izin usaha sembilan BPR dan BPRS sepanjang 2026. Simak daftar bank yang ditutup serta alasan pencabutan izinnya.
Indonesia menempati peringkat kedua dunia sebagai negara dengan jumlah universitas terbanyak, mencapai 3.277 kampus. Simak daftar lengkap 10 negara teratas.
Putri Kusuma Wardani bertahan di peringkat 6 dunia BWF per 30 Juli 2026. Pebulu tangkis Indonesia itu hanya terpaut 565 poin dari posisi lima besar yang ditempa
Wakil Ketua DPRD Bantul, Agung Laksmono, mendorong pengembangan pariwisata menjadi salah satu cara Kabupaten Bantul memperkuat kemandirian fiskal di tengah kebi
Harga emas Antam di Pegadaian turun Rp12.000 per gram pada Kamis 30 Juli 2026. Harga emas 1 gram kini Rp2.706.000, sementara buyback Rp2.406.000.
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe lolos ke semifinal WTA 500 DC Open 2026 usai kalahkan wakil tuan rumah 6-3, 6-2. Modal menuju US Open!