13 Dampak Minum Teh Berlebihan, dari Gangguan Tidur hingga Penyerapan Zat Besi

Jumali
Jumali Kamis, 01 Oktober 2026 06:27 WIB
13 Dampak Minum Teh Berlebihan, dari Gangguan Tidur hingga Penyerapan Zat Besi

Foto ilustrasi teh. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Minum teh menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang. Teh dapat dinikmati pada pagi hari, menemani waktu makan, atau menjadi minuman saat bersantai. Namun, terlalu banyak minum teh, terutama yang mengandung kafein, dapat menimbulkan sejumlah keluhan pada sebagian orang.

Teh berasal dari tanaman Camellia sinensis dan tersedia dalam berbagai jenis, seperti teh hitam, teh hijau, teh putih, dan teh oolong. Minuman ini mengandung berbagai senyawa, termasuk polifenol dan kafein, yang turut memberikan karakteristik rasa, aroma, serta efek fisiologis. 

Masalah biasanya lebih berkaitan dengan jumlah konsumsi, kadar kafein, kekentalan teh, tambahan gula, serta kondisi tubuh masing-masing orang. Berikut sejumlah dampak yang dapat muncul jika minum teh terlalu banyak atau pada waktu yang kurang tepat.

1. Mengganggu Kualitas Tidur

Kafein merupakan salah satu komponen teh yang dapat membuat seseorang lebih sulit tidur. Efek tersebut terutama perlu diperhatikan jika teh berkafein diminum mendekati waktu tidur atau dalam jumlah banyak.

Respons setiap orang terhadap kafein dapat berbeda. Karena itu, seseorang yang mudah sensitif terhadap kafein mungkin merasakan gangguan tidur meski jumlah yang dikonsumsi tidak sama dengan orang lain.

2. Membuat Jantung Berdebar

Asupan kafein dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan sebagian orang mengalami jantung berdebar atau sensasi tidak nyaman pada dada. Keluhan ini lebih mungkin dirasakan oleh orang yang sensitif terhadap kafein.

Karena itu, munculnya jantung berdebar setelah mengonsumsi minuman berkafein dapat menjadi alasan untuk memperhatikan kembali jumlah dan frekuensi konsumsi.

3. Memicu Rasa Cemas atau Gelisah

Selain memengaruhi tidur, kafein dalam jumlah tinggi juga dapat membuat sebagian orang merasa lebih gelisah, gugup, atau sulit rileks. Efek tersebut berkaitan dengan sifat stimulasi kafein terhadap sistem saraf.

Respons ini tidak dialami semua orang dengan tingkat yang sama sehingga jumlah teh yang dapat ditoleransi setiap orang bisa berbeda.

4. Menyebabkan Sakit Kepala

Kafein dapat memengaruhi pembuluh darah dan pada sebagian orang dapat berkaitan dengan munculnya sakit kepala. Keluhan tersebut dapat terjadi ketika asupan kafein terlalu tinggi atau ketika konsumsi kafein berubah secara mendadak.

Artinya, sakit kepala setelah minum teh tidak otomatis berarti teh menjadi satu-satunya penyebab. Faktor lain tetap perlu diperhatikan, termasuk pola konsumsi kafein secara keseluruhan.

5. Mengganggu Penyerapan Zat Besi

Ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang berisiko mengalami kekurangan zat besi. Polifenol tertentu dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme yang berasal dari makanan nabati. 

Karena itu, kebiasaan minum teh bersamaan dengan makanan utama dapat menjadi perhatian bagi orang yang kebutuhan atau cadangan zat besinya rendah. Efek penghambatan penyerapan tersebut tidak berarti setiap peminum teh akan mengalami kekurangan zat besi, karena status zat besi juga dipengaruhi keseluruhan pola makan.

6. Memicu Gangguan Lambung

Pada sebagian orang, teh berkafein dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada lambung, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau ketika perut kosong. Keluhannya dapat berupa rasa tidak nyaman hingga mual.

Respons saluran pencernaan terhadap teh dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, sehingga waktu minum serta kekentalan teh juga dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan.

7. Meningkatkan Frekuensi Buang Air Kecil

Kafein memiliki efek diuretik ringan. Pada konsumsi dalam jumlah besar, efek tersebut dapat membuat sebagian orang merasa lebih sering buang air kecil.

Namun, perubahan frekuensi buang air kecil tidak selalu disebabkan teh karena jumlah cairan yang diminum secara keseluruhan juga ikut menentukan.

8. Membuat Gigi Lebih Mudah Bernoda

Konsumsi teh secara rutin dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan warna atau noda pada permukaan gigi. Senyawa tertentu dalam teh dapat berkontribusi terhadap terbentuknya noda tersebut.

Karena itu, meskipun teh diminum tanpa gula, kebersihan gigi tetap penting untuk diperhatikan, terutama bagi orang yang menjadikan teh sebagai minuman sehari-hari.

9. Menambah Asupan Gula

Teh tanpa tambahan pemanis pada dasarnya dapat menjadi minuman rendah kalori. Persoalannya muncul ketika teh ditambahkan gula, sirup, susu kental manis, atau pemanis lain dalam jumlah banyak.

Tambahan tersebut dapat meningkatkan asupan gula dan kalori tanpa disadari. Dengan demikian, dampak minum teh tidak hanya ditentukan oleh daun teh atau kafeinnya, tetapi juga bahan yang ditambahkan ke dalam minuman.

10. Memicu Mual pada Sebagian Orang

Teh yang terlalu pekat atau dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan mual pada sebagian orang. Keluhan tersebut juga dapat lebih terasa ketika teh diminum dalam kondisi perut kosong.

Sejumlah tinjauan mengenai komponen teh mencatat adanya gangguan saluran pencernaan, termasuk mual, terutama pada konsumsi yang tinggi. 

11. Menimbulkan Ketergantungan Kafein

Kebiasaan mengonsumsi minuman berkafein dalam jumlah tinggi dapat membuat tubuh terbiasa dengan asupan kafein. Ketika konsumsi kemudian dikurangi secara mendadak, sebagian orang dapat mengalami keluhan seperti sakit kepala dan kelelahan.

Karena itu, orang yang ingin mengurangi konsumsi teh berkafein dapat memperhatikan perubahan jumlah konsumsinya, terutama jika sebelumnya minum teh dalam jumlah banyak setiap hari.

12. Dapat Memperburuk Gejala Refluks pada Sebagian Orang

Teh tidak otomatis menyebabkan penyakit refluks pada semua orang. Bukti penelitian mengenai hubungan konsumsi teh dan refluks juga belum menunjukkan hasil yang seragam.

Sebuah meta-analisis terhadap 23 artikel dan 30 studi tidak menemukan hubungan signifikan antara konsumsi teh dan risiko gastroesophageal reflux disease (GERD) secara keseluruhan. Namun, analisis berdasarkan wilayah menunjukkan adanya peningkatan risiko pada subkelompok populasi di Asia Timur. 

Karena respons setiap orang berbeda, orang yang sudah memiliki keluhan refluks dapat memperhatikan apakah teh tertentu atau jumlah konsumsi tertentu berkaitan dengan munculnya rasa panas di dada atau keluhan refluks.

13. Dapat Mengganggu Pola Makan Jika Berlebihan

Terlalu banyak mengonsumsi teh, terutama jika sampai menggantikan makanan atau minuman yang lebih bernutrisi, dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang. Kondisi ini perlu diperhatikan karena tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi dari beragam sumber makanan.

Teh sendiri tidak otomatis menjadi minuman yang berbahaya. Jenis teh, jumlah yang diminum, kandungan kafein, waktu konsumsi, bahan tambahan, serta kondisi kesehatan seseorang ikut menentukan bagaimana tubuh meresponsnya.

Bagi orang yang merasakan gangguan tidur, jantung berdebar, gelisah, mual, sakit kepala, atau keluhan pencernaan setelah minum teh, memperhatikan jumlah dan waktu konsumsinya dapat menjadi langkah awal. Sementara bagi orang yang memiliki risiko kekurangan zat besi, waktu konsumsi teh juga layak diperhatikan karena polifenol teh dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme.  

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online