Kehidupan Seni Malioboro Digairahkan Lagi lewat Nol Koma #1
Komunitas Malioboro Classical menghadirkan acara bertajuk 0, Nol Koma #1 untuk menggairahkan lagi kehidupan seni di Malioboro.
The Hu.-Ist/thehuofficial.com
Harianjogja.com, JOGJA—Rajawali Indonesia sudah mengumumkan grup-grup musik yang akan tampil di Jogjarockarta. Salah satu penampil yang bisa menarik perhatian para rocker yakni keberadaan The Hu.
The Hu merupakan band cadas Mongolia yang menggabungkan heavy metal dengan musik tradisional Mongolia. Sebanyak dua video klip awal mereka, Yuve Yuve Yu dan Wolf Totem, yang dirilis pada 2018, langsung menarik perhatian pemerhati musik dunia. Tercatat dua video itu dilihat sampai 30 juta kali begitu kedua video itu dirilis.
Alhasil, media-media internasional langsung menurunkan artikel mengenai The Hu. Sebut saja ada NPR, ET India Times, Playboy Mexico, Jack Canal+Fr, Hong Kong 01 ataupun DW News Germany. Nama The Hu diambil dari kata Mongolia yang berarti manusia. Mereka menyebut gaya musiknya dengan Hunnu Rock yang terinspirasi dari Hunnu, nenek moyang kerajaan Mongolia.
Band ini didirikan pada 2016 di Ulaanbaatar Mongolia. Sejauh ini The Hu sudah menelurkan satu album, yakni The Gereg, yang dirilis pada September 2019. Titel Gereg diambil dari sejarah kata Gereg yang dijadikan passport pertama yang dipakai di era kerajaan Mongolia di masa Genghis Khan. Album itu terdiri dari sembilan lagu, termasuk Yuve Yuve Yu dan Wolf Totem.
The Hu, bersama Kelompok Penerbang Roket, Scorpion, Whitesnake, Godbless, Death Vomit, Powerslaves serta Navicula akan tampil di Jogjarockarta edisi keempat pada 1 Maret 2020 di Stadion Kridosono, Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komunitas Malioboro Classical menghadirkan acara bertajuk 0, Nol Koma #1 untuk menggairahkan lagi kehidupan seni di Malioboro.
AS mengerahkan dua baterai rudal Patriot tambahan ke Saudi dan Qatar untuk melindungi fasilitas energi di tengah ancaman konflik Iran.
Angka pernikahan di Jogja turun. Pendidikan, karier, ekonomi hingga ketakutan gagal berumah tangga memengaruhi keputusan anak muda.
Sebanyak 1.001 pembatik meramaikan Malioboro lewat Simfoni 1001 Pembatik, mengajak masyarakat mengenal proses dan budaya batik.
Angka pernikahan di Kota Jogja terus menurun. Kemenag mencatat rata-rata perempuan menikah usia 22-25 tahun dan laki-laki 25-28 tahun.
Pawukon merupakan bagian dari penanggalan Jawa yang mengenal 30 wuku. Simak perbedaan Pawukon, wuku, dan weton.