Dua Assist Messi Antar Argentina ke Final, Ini Rahasianya
Lionel Messi menegaskan Argentina lolos ke final Piala Dunia 2026 berkat kerja keras dan kualitas permainan, bukan karena perlakuan istimewa.
Ilustrasi merokok/reuters
Harianjogja.com, JAKARTA-- Salah satu cara untuk menekan kasus penyalahgunaan narkoba adalah dengan memerangi rokok. Hal itu diungkapkan oleh psikolog Reza Indragiri Amriel.
"Saya kerap menyatakan bahwa rokok adalah gerbang ideal untuk menjadi penyalahguna narkoba," katanya di Jakarta, Rabu (26/6/2019) malam, merefleksikan Hari Antinarkotika Internasional yang diperingati setiap 26 Juni.
Menurut dia, idealnya pemerintah melakukan pelarangan terhadap rokok untuk mengantisipasi terpengaruhnya generasi muda oleh narkoba.
Bersama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), ia mendorong agar rokok masuk secara eksplisit dalam pasal pidana pada Undang-Undang Perlindungan Anak.
Reza yang pernah menulis buku berjudul "Psikologi Kaum Muda Pengguna Narkoba" menyampaikan anak-anak muda adalah kelompok masyarakat yang paling vital, sekaligus paling riskan.
Artinya, kata alumnus psikologi forensik University of Melbourne itu, pemerintah harus berhati-hati dalam menyikapi persoalan menyangkut anak-anak muda.
Penyalahgunaan narkoba, keluarga yang tidak harmonis, dan kesulitan ekonomi, kata dia, secara klasik kerap disebut sebagai biang kerok utama kejahatan.
"Dan ketiganya ada di sini," kata Dosen Perlindungan Anak, Politeknik llmu Pemasyarakatan (Poltekip), Kemenkumham itu.
Ia mengatakan anak-anak muda merupakan sasaran empuk peredaran narkoba karena untuk menghancurkan generasi suatu negara tidak lagi harus pakai bom.
"Narcoterrorism. Perdagangkan narkoba dalam kemasan kecil agar terjangkau, bahkan oleh anak sekalipun," ujarnya.
Setelah ketagihan, lanjut dia, mereka akan menjadi konsumen setia dengan takaran yang semakin lama semakin besar.
Pada tahap awal, kata dia, cara tersebut memang menghasilkan profit yang kecil, tetapi secara gradual dan dalam tempo singkat permintaan konsumen akan menggila dengan potensi keuntungan kelas dewa.
Reza berpendapat "pull factor" atau faktor penarik pada kalangan anak dan remaja bisa berupa ajakan, tekanan teman, dan media.
"Sementara, \'push factor\'-nya adalah anak dan remaja tidak cukup asertif untuk mengatakan \'tidak\'. Jadi, \'pull\' bertemu \'push\', sempurna," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Lionel Messi menegaskan Argentina lolos ke final Piala Dunia 2026 berkat kerja keras dan kualitas permainan, bukan karena perlakuan istimewa.
Presiden Prabowo meresmikan pembangunan Blok Masela senilai Rp376,02 triliun yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 hingga 2030.
Pemkab Sleman mengevaluasi studi kelayakan proyek KPBU lampu jalan. Konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027 untuk pemerataan penerangan.
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul berencana menyambungkan potensi wisata di wilayahnya dengan sektor industri agar kian maksimal.
Kejagung memastikan FA dan DR tetap berstatus tersangka meski penanganan tiga perkara dugaan korupsi dialihkan dari Polri ke Kejagung.
Kasus anak di Pleret mendapat perhatian DPRD Bantul. Proses hukum, pendampingan psikologis, dan perlindungan korban diminta berjalan optimal.