Advertisement

Kenapa Kebaya Selalu Dipakai Saat Hari Kartini? Ini Sejarahnya

Jumali
Senin, 20 April 2026 - 13:37 WIB
Jumali
Kenapa Kebaya Selalu Dipakai Saat Hari Kartini? Ini Sejarahnya Model kebaya Indonesia. / Foto ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGpt

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Suasana peringatan Hari Kartini 2026 di berbagai daerah di Indonesia kembali dipenuhi perempuan yang mengenakan kebaya, mulai dari pelajar hingga pekerja kantoran.

Tradisi ini membuat kebaya tidak hanya menjadi busana seremonial, tetapi juga simbol penghormatan terhadap perjuangan Raden Adjeng (RA) Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.

Advertisement

Namun di balik penggunaannya yang masif setiap 21 April, kebaya memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan budaya Nusantara.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan kebaya telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit dan terus berkembang melalui proses akulturasi budaya selama berabad-abad.

Istilah kebaya sendiri diyakini berasal dari kata Arab “abaya” yang berarti pakaian, kemudian mengalami penyesuaian bahasa di Nusantara hingga menjadi “kebaya”.

Perkembangannya dipengaruhi berbagai budaya seperti Jawa, Sunda, Bali, serta unsur Arab dan Portugis pada masa kolonial.

Pada era penjajahan Belanda, kebaya tidak hanya menjadi pakaian sehari-hari, tetapi juga simbol identitas perempuan pribumi dalam mempertahankan budaya di tengah pengaruh Barat.

Dalam konteks ini, kebaya menjadi bentuk ekspresi diam yang menunjukkan keteguhan jati diri masyarakat Nusantara.

Kedekatan RA Kartini dengan kebaya dapat dilihat dari berbagai dokumentasi visual yang memperlihatkan dirinya selalu mengenakan busana tersebut.

Pilihan itu tidak hanya bersifat estetika, tetapi juga menjadi pernyataan budaya bahwa perempuan Indonesia dapat tampil berwibawa tanpa meninggalkan identitasnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Kartini yang tertuang dalam kumpulan suratnya berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menekankan keberanian, martabat, dan pendidikan bagi perempuan.

Dari pemikiran itu kemudian lahir istilah “kebaya Kartini”, yaitu model kebaya sederhana dengan potongan lurus yang dipadukan dengan kain batik atau sarung.

Desain tersebut mencerminkan keseimbangan antara kesederhanaan, keanggunan, dan kekuatan karakter perempuan Indonesia.

Menariknya, tradisi mengenakan kebaya saat Hari Kartini bukan berasal dari masa hidup Kartini, melainkan berkembang pada era Orde Baru sebagai bentuk simbolisasi perempuan Indonesia.

Sejak saat itu, kebaya menjadi identitas seremonial setiap 21 April, digunakan di sekolah, kantor, hingga berbagai acara budaya di seluruh Indonesia.

Dari sisi filosofi, kebaya mencerminkan perpaduan antara keanggunan dan kesantunan, serta menggambarkan perempuan yang kuat namun tetap lembut dalam karakter.

Dalam sejarah perjuangan Kartini, semangat tersebut juga tercermin melalui pendirian sekolah perempuan di berbagai kota seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, hingga Cirebon.

Beberapa institusi pendidikan bahkan menggunakan nama Sekolah Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya di bidang pendidikan.

Seiring perkembangan zaman, kebaya juga mengalami inovasi dalam bentuk, bahan, dan gaya, mulai dari kebaya encim, kutubaru, hingga kebaya modern dan syar’i yang menyesuaikan kebutuhan perempuan masa kini.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kebaya bukan sekadar warisan statis, melainkan busana yang terus hidup dan beradaptasi.

Pengakuan internasional terhadap kebaya juga semakin kuat setelah UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2024.

Status tersebut menegaskan kebaya sebagai bagian penting identitas budaya Indonesia sekaligus warisan kawasan Asia Tenggara.

Di tengah perayaan Hari Kartini, kebaya yang dikenakan masyarakat tidak hanya menjadi simbol peringatan, tetapi juga pengingat bahwa nilai kesetaraan dan pendidikan yang diperjuangkan Kartini masih relevan hingga saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pendaftar Manajer Kopdes Merah Putih Tembus 220 Ribu Orang

Pendaftar Manajer Kopdes Merah Putih Tembus 220 Ribu Orang

News
| Senin, 20 April 2026, 14:57 WIB

Advertisement

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Wisata
| Senin, 20 April 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement