Advertisement
Perilaku Generasi Alpha Ubah Strategi Hotel
Foto ilustrasi hotel. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, DENPASAR — Industri perhotelan di Indonesia mulai menghadapi perubahan tren signifikan seiring munculnya Generasi Alpha sebagai segmen pasar baru yang potensial. Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) menilai kelompok usia ini memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan tingkat hunian kamar hotel.
Ketua Umum IHGMA, I Gede Arya Pering Arimbawa, menjelaskan Generasi Alpha yang lahir sekitar 2013 hingga pertengahan 2020-an memiliki karakter unik dalam menentukan pilihan perjalanan. Mereka cenderung aktif mengajak orang tua untuk berlibur, sehingga secara tidak langsung menjadi faktor pendorong meningkatnya okupansi hotel.
Advertisement
“Generasi Alpha suka traveling dan pasti mengajak orang tua. Perilaku seperti itu yang berdampak terhadap peningkatan hunian kamar hotel,” ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Merumatta.
Menurutnya, tren okupansi hotel dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pemulihan, terutama pada periode libur panjang seperti Lebaran, Nyepi, dan libur sekolah. Momentum tersebut dimanfaatkan keluarga untuk berwisata, dengan anak-anak sebagai salah satu penentu destinasi.
BACA JUGA
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Alpha tumbuh di era digital dan sangat akrab dengan teknologi. Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap pengalaman liburan, mulai dari fasilitas hotel hingga aktivitas yang ditawarkan. Hotel yang menyediakan konsep interaktif, ramah anak, serta pengalaman unik dinilai lebih menarik bagi segmen ini.
Perubahan perilaku ini membuat industri perhotelan harus beradaptasi lebih cepat. Tidak hanya fokus pada kenyamanan tamu dewasa, hotel kini dituntut mampu memenuhi kebutuhan anak-anak sebagai bagian dari strategi menarik wisatawan keluarga.
“Ketika Generasi Alpha muncul, maka perlu percepatan dalam beradaptasi melihat peluang,” kata Arimbawa.
Selain Generasi Alpha, kelompok Generasi X, Y, hingga Generasi Z juga masih menjadi pasar penting. Sebagian dari mereka memilih menunda pernikahan dan memprioritaskan perjalanan wisata sebagai bagian dari gaya hidup.
IHGMA juga menyoroti potensi lain yang mulai terlihat, yakni pergerakan keluarga transmigran. Generasi ketiga dari keluarga ini yang telah mapan secara ekonomi cenderung melakukan perjalanan kembali ke daerah asal, sehingga turut meningkatkan permintaan kamar hotel, meskipun sifatnya musiman.
“Selama ini segmen tersebut kurang diperhatikan, padahal faktanya memberi kontribusi terhadap okupansi,” ujar dia.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat penghunian kamar hotel berbintang pada Februari 2026 berada di angka 44,89 persen, turun dibanding Januari yang mencapai 47,53 persen.
Adapun rata-rata lama menginap tamu, baik domestik maupun mancanegara, masih relatif singkat, yakni sekitar 1,64 hari pada Februari dan 1,59 hari pada Januari 2026.
Dengan dinamika tersebut, pelaku industri perhotelan diharapkan mampu membaca perubahan tren dan menghadirkan inovasi layanan yang lebih relevan. Kehadiran Generasi Alpha dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








