Advertisement
Live Streaming Marapthon Disorot, Konten Reza Arap CS Tuai Kritik
Reza Arap - Instagram : @Ybrap
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Tayangan live streaming bertajuk Marapthon yang digagas Reza Arap Oktovian bersama kelompok AAA Clan menuai sorotan tajam publik. Program yang awalnya viral karena hiburan ringan kini justru dibanjiri kritik, terutama terkait konten yang dinilai berpotensi menormalisasi gaya hidup tertentu.
Sorotan ini mencuat setelah episode bertajuk The Last Tale menampilkan aktivitas para kreator selama 100 hari penuh, termasuk pesta dengan nuansa kehidupan malam yang dianggap sebagian warganet tidak sesuai dengan nilai sosial di Indonesia.
Advertisement
Dalam tayangan tersebut, sejumlah influencer seperti Erika Carlina, Rachel Vennya, hingga Fujianti Utami Putri turut hadir. Kehadiran mereka mengubah suasana siaran menjadi layaknya pesta dengan musik DJ, pencahayaan temaram, hingga aktivitas bersulang yang memicu perdebatan di ruang publik.
Konten tersebut memperlihatkan sisi kehidupan malam yang ditayangkan secara langsung tanpa penyuntingan. Hal ini memicu kekhawatiran sebagian warganet, terutama terkait potensi pengaruh terhadap penonton usia muda.
BACA JUGA
Di media sosial, kritik ramai bermunculan. Sejumlah pengguna menilai tayangan tersebut tidak hanya soal hiburan, tetapi juga membawa pesan implisit mengenai gaya hidup. Ada kekhawatiran bahwa konten seperti ini dapat membentuk persepsi baru tentang “gaya bergaul” yang dianggap wajar oleh generasi muda.
Fenomena ini juga menyoroti perbedaan standar konten global dan lokal. Konsep marathon streaming atau subathon sendiri sebelumnya dipopulerkan oleh kreator seperti Ludwig Ahgren dan Kai Cenat. Namun, penerapannya di Indonesia memicu diskursus karena konteks budaya yang berbeda.
Seiring derasnya kritik, perbincangan kini tidak lagi sekadar soal popularitas Marapthon, tetapi juga tanggung jawab kreator dalam menyajikan konten. Tayangan digital yang dikonsumsi tanpa batas dinilai memiliki dampak besar terhadap pembentukan nilai dan perilaku audiens.
Di tengah polemik ini, publik diingatkan untuk lebih selektif dalam mengonsumsi konten, sementara kreator diharapkan mampu menyeimbangkan antara hiburan dan tanggung jawab sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Jadwal KRL Solo ke Jogja Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026
- Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto
Advertisement
Advertisement








