Hujan Intensitas Tinggi Guyur Merapi Sabtu Siang, Waspada Lahar
Hujan intensitas tinggi di lereng barat daya Merapi picu potensi lahar dan awan panas, warga diminta waspada.
Foto ilustrasi pasta. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi pasta kerap dikaitkan dengan lonjakan gula darah, namun ahli gizi menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dalam kondisi tertentu, pasta justru dapat dikonsumsi tanpa memicu kenaikan gula darah yang berlebihan.
Menurut penjelasan ahli gizi asal Amerika Serikat, Gina Hassick, seperti dikutip dari Eatingwell, Rabu (25/3/2025) cara mengonsumsi pasta jauh lebih menentukan dibanding sekadar frekuensinya.
Lonjakan Gula Darah Bergantung Cara Konsumsi
Pasta tetap termasuk karbohidrat yang akan dipecah menjadi glukosa saat dicerna. Proses ini secara alami akan meningkatkan kadar gula darah, tetapi sekaligus menjadi sumber energi bagi tubuh.
“Pasta adalah karbohidrat, sehingga ia terurai menjadi glukosa selama pencernaan dan dapat meningkatkan kadar gula darah, terutama jika dimakan sendirian atau dalam porsi besar,” kata Gina Hassick,
Pada orang tanpa diabetes, tubuh umumnya mampu mengontrol lonjakan ini melalui insulin. Namun bagi penderita diabetes, konsumsi pasta perlu lebih diperhatikan agar tidak memicu kenaikan gula darah yang berlebihan.
Tidak Semua Karbohidrat Bereaksi Sama
Menariknya, pasta disebut memiliki efek yang lebih stabil dibandingkan jenis karbohidrat lain seperti roti putih atau makanan manis.
Hassick menjelaskan bahwa pasta memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah. Struktur protein di dalam pasta memperlambat proses pencernaan, sehingga kenaikan gula darah terjadi lebih bertahap.
Penelitian juga menunjukkan bahwa bahkan pasta dari gandum olahan tetap memiliki indeks glikemik yang tergolong rendah dibandingkan karbohidrat lain.
Jenis Pasta dan Pendamping Jadi Penentu
Pilihan bahan pasta turut memengaruhi respons gula darah. Pasta berbahan gandum utuh, kacang buncis, atau lentil dinilai lebih baik karena mengandung lebih banyak serat dan protein.
Kombinasi menu juga menjadi faktor penting. Mengonsumsi pasta bersama sayuran, protein tanpa lemak seperti ayam atau ikan, serta lemak sehat seperti minyak zaitun dapat membantu menjaga kestabilan gula darah.
Bisa Dikonsumsi Setiap Hari dengan Catatan
Pasta tetap bisa menjadi bagian dari menu harian, mengingat kebutuhan karbohidrat mencapai sekitar 45% hingga 65% dari total kalori harian.
Namun, Hassick menegaskan bahwa keseimbangan menu dan ukuran porsi lebih berpengaruh dibandingkan seberapa sering pasta dikonsumsi.
Orang dengan masalah gula darah tetap dapat mengonsumsi pasta setiap hari selama dikombinasikan dengan pola makan seimbang.
Cara Sederhana Menekan Dampak Gula Darah
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pasta terhadap gula darah. Salah satunya adalah memasak pasta dalam jumlah besar, lalu mendinginkannya sebelum dipanaskan kembali.
Proses ini membentuk pati resisten yang lebih lambat dicerna tubuh. Selain itu, memasak pasta dalam kondisi al dente juga membantu menurunkan indeks glikemiknya.
Porsi juga perlu diperhatikan. Konsumsi sekitar satu cangkir pasta matang atau dua ons pasta kering disarankan, dengan tambahan sayuran dalam jumlah lebih banyak.
Dengan pendekatan yang tepat, pasta tidak harus dihindari, melainkan bisa tetap dinikmati tanpa mengganggu keseimbangan gula darah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Eatingwell
Hujan intensitas tinggi di lereng barat daya Merapi picu potensi lahar dan awan panas, warga diminta waspada.
Mediasi tambang CV BKS dan warga Padukuhan Karang Kulon Progo menghasilkan titik temu. Pemda DIY menjelaskan legalitas perizinan.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo hari ini 30 September 2026, lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 30 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan, kedatangan tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.