10 Tanda Bos Toxic yang Bisa Bikin Karyawan Cepat Burnout

Jumali
Jumali Jum'at, 12 Juni 2026 09:57 WIB
10 Tanda Bos Toxic yang Bisa Bikin Karyawan Cepat Burnout

Karyawan duduk - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Hubungan antara atasan dan karyawan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kenyamanan bekerja. Ketika seorang pemimpin mampu membangun komunikasi yang baik, lingkungan kerja biasanya menjadi lebih produktif dan kondusif.

Namun kondisi sebaliknya dapat terjadi apabila seorang atasan memiliki perilaku toxic. Tidak sedikit pekerja yang mengalami stres, kehilangan motivasi, hingga mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan dari pimpinan yang tidak sehat.

Mengacu pada ulasan Physician Leaders, perilaku bos toxic dapat memengaruhi kinerja tim secara keseluruhan. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam pekerjaan, tetapi juga dapat merembet ke kehidupan pribadi karyawan.

Ada sejumlah ciri yang sering muncul pada sosok atasan toxic.

Salah satunya adalah merasa dirinya selalu benar. Tipe pemimpin seperti ini cenderung sulit menerima kritik maupun masukan karena menganggap pendapatnya paling tepat.

Ciri lain yang cukup menonjol adalah kurangnya empati terhadap anggota tim. Mereka jarang memahami tantangan, beban kerja, atau kondisi pribadi bawahannya sehingga hubungan kerja menjadi kaku dan penuh tekanan.

Bos toxic juga sering kali terlalu berfokus pada kepentingan pribadi. Tidak jarang hasil kerja tim diklaim sebagai pencapaian individu, sementara kesalahan justru dibebankan kepada bawahan.

Perilaku yang tidak konsisten turut menjadi tanda lain. Hari ini memberikan pujian, namun keesokan harinya melontarkan kritik tanpa alasan yang jelas. Kondisi tersebut membuat karyawan kesulitan memahami ekspektasi yang sebenarnya.

Selain itu, penyalahgunaan jabatan juga sering ditemukan. Atasan memanfaatkan posisi dan kekuasaan untuk menekan bawahan agar selalu mengikuti keinginannya tanpa ruang diskusi.

Tanda berikutnya adalah kebiasaan melakukan micromanaging. Mereka mengawasi pekerjaan secara berlebihan, mengontrol setiap detail, hingga membuat karyawan kehilangan ruang untuk berkembang dan mengambil keputusan.

Bos toxic juga kerap menetapkan target yang tidak realistis. Tenggat waktu yang terlalu sempit dan beban kerja berlebihan dapat memicu stres berkepanjangan.

Tidak berhenti di situ, sebagian atasan bahkan mempermalukan karyawan di depan umum, melontarkan komentar merendahkan, atau menjadikan bawahan sebagai bahan candaan.

Saat terjadi masalah, mereka cenderung mencari kambing hitam daripada melakukan evaluasi secara objektif. Sikap enggan bertanggung jawab ini sering kali merusak kepercayaan dalam tim.

Karakteristik terakhir adalah rasa percaya diri yang berlebihan. Mereka merasa sudah mengetahui segalanya sehingga menolak masukan dan tidak mau belajar dari orang lain.

Dampak dari perilaku tersebut dapat sangat serius. Karyawan berisiko mengalami kecemasan, kehilangan motivasi kerja, burnout, hingga gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan depresi.

Karena itu, para ahli menyarankan pekerja untuk menjaga kesehatan mental dengan mendokumentasikan komunikasi penting, menyimpan bukti percakapan profesional, mencari dukungan dari rekan kerja atau mentor, serta memanfaatkan jalur sumber daya manusia (HR) apabila situasi semakin memburuk.

Jika berbagai upaya tidak membuahkan hasil, mencari posisi lain di dalam maupun luar perusahaan dapat menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan.

Para pakar menegaskan bahwa tidak ada pekerjaan yang layak dipertahankan apabila harus dibayar dengan kerusakan kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang. Mengenali tanda-tanda bos toxic sejak dini menjadi langkah penting agar pekerja dapat melindungi diri dan menjaga kualitas hidupnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online