Abidin Fikri Sebut Pemuda Terdampak Problem Bangsa, Bukan Biang Masalah
Abidin Fikri mengingatkan pemuda ikut terdampak problem bangsa dan menyoroti pentingnya keteladanan pemimpin dalam menyiapkan generasi menuju 2045.
Ilustrasi daging merah/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA—Ancaman kanker mulut tidak hanya datang dari kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Para ahli kini mengungkap bahwa pola makan, khususnya konsumsi makanan olahan tertentu, juga berkontribusi besar dalam meningkatkan risiko penyakit mematikan ini.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa makanan yang memicu peradangan dalam tubuh dapat menjadi faktor tersembunyi yang memperbesar potensi kanker rongga mulut. Salah satu yang paling disorot adalah daging olahan seperti bacon, sosis, ham, hot dog, hingga daging deli.
Kepala Pengobatan Mulut dan Onkologi Mulut di Herbert Wertheim Cancer Institute, Alessandro Villa, dikutip dari Antara pada Kamis (11/6/2026) menyebut bahwa daging olahan telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker mulut dan orofaring. Bahkan, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, yang berarti memiliki bukti kuat menyebabkan kanker pada manusia.
Kandungan nitrat dan nitrit yang umum digunakan sebagai bahan pengawet dalam daging olahan menjadi salah satu pemicunya. Senyawa tersebut dapat berubah menjadi zat karsinogenik yang berbahaya bagi sel tubuh. Berbagai studi juga mengaitkan zat ini dengan risiko kanker lain seperti kanker payudara dan prostat.
Tak hanya itu, cara memasak juga turut berpengaruh. Daging yang dipanggang, diasap, atau dibakar pada suhu tinggi dapat menghasilkan zat berbahaya seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA). Kedua senyawa ini diketahui dapat merusak DNA dan memicu pertumbuhan sel abnormal.
Dokter spesialis THT, Kelly F. Moyer, menjelaskan bahwa konsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat memicu peradangan kronis di dalam mulut. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kemampuan tubuh memperbaiki sel yang rusak, sehingga meningkatkan risiko kanker.
Selain itu, gangguan pada mikrobioma mulut juga diduga berperan dalam perkembangan kanker. Ketidakseimbangan bakteri di rongga mulut dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel abnormal.
Meski demikian, risiko kanker mulut sebenarnya dapat ditekan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Menghindari rokok, alkohol, serta membatasi konsumsi makanan olahan menjadi langkah awal yang penting.
Para ahli juga menyarankan untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang kaya antioksidan guna melawan peradangan. Menjaga kebersihan mulut dengan rutin menyikat gigi, menggunakan benang gigi, serta melakukan pemeriksaan ke dokter gigi secara berkala juga tak kalah penting.
Selain itu, vaksinasi HPV bagi individu hingga usia 26 tahun turut direkomendasikan. Pasalnya, infeksi HPV kini menjadi salah satu penyebab utama kanker tenggorokan dan mulut, terutama pada usia muda.
Dengan perubahan gaya hidup sederhana, risiko kanker mulut bisa ditekan secara signifikan. Kesadaran terhadap pola makan dan kesehatan mulut menjadi kunci utama dalam pencegahan penyakit ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abidin Fikri mengingatkan pemuda ikut terdampak problem bangsa dan menyoroti pentingnya keteladanan pemimpin dalam menyiapkan generasi menuju 2045.
Kelurahan Gowongan mengedukasi orang tua tentang TBC pada anak sebagai upaya mencegah penularan dan mendukung pencegahan stunting.
Menag Nasaruddin Umar mendorong pesantren menghidupkan tradisi keilmuan Baitul Hikmah dan melahirkan ilmuwan lintas disiplin.
SIM Keliling Jogja Sabtu 31 Oktober 2026 melayani malam hari di Alun-Alun Kidul. Simak jadwal, lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM.
Cek jadwal perpanjangan SIM A dan C di Kulonprogo, Sabtu 31 Oktober 2026, termasuk layanan SIM Keliling di Kapanewon Nanggulan.
Menkeu Suahasil Nazara menyebut belanja negara naik sekitar Rp300 triliun akibat penanganan bencana dan kenaikan harga energi dunia.