6 Manfaat Stroberi untuk Kesehatan, Kaya Antioksidan
Stroberi kaya vitamin C, serat, dan antioksidan. Simak 6 manfaatnya untuk imunitas, jantung, hingga mencegah penyakit kronis.
Ilustrasi Kerokan.ist/solopos
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan “kerokan” kerap menjadi solusi instan saat tubuh terasa tidak enak, termasuk ketika mengalami nyeri dada. Namun, dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa metode tradisional ini tidak boleh dijadikan pertolongan pertama, terutama jika berkaitan dengan gangguan jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, menegaskan bahwa kerokan justru tidak menyelesaikan akar masalah nyeri dada. Bahkan, tindakan tersebut berpotensi menyesatkan karena hanya memberikan rasa nyaman sementara.
“Kerokan menyebabkan pembuluh darah kecil di permukaan kulit pecah. Warna merah yang muncul itu bukan tanda sembuh, melainkan efek dari pecahnya pembuluh darah,” ujarnya dalam temu media di Jakarta dikutip dari Antara, Selasa (9/6/2026).
Hanya Efek Hangat, Bukan Solusi Medis
Menurutnya, sensasi lega setelah kerokan lebih disebabkan oleh penggunaan balsem yang memberikan efek hangat. Efek ini memang dapat melebarkan pembuluh darah, tetapi hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh penyebab utama, seperti sumbatan pada pembuluh darah jantung.
Dalam dunia medis, kondisi nyeri dada yang berkaitan dengan jantung sering dikaitkan dengan Angina pektoris. Kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen akibat aliran darah yang terganggu.
“Efek balsem itu hanya jangka pendek. Berbeda dengan obat medis seperti pengencer darah yang bekerja lebih lama dan menyasar penyebabnya,” jelasnya.
Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat
Alih-alih melakukan kerokan, dr. Febtusia menyarankan langkah sederhana namun krusial saat seseorang mengalami nyeri dada atau sesak napas. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membantu penderita tetap tenang.
Kondisi panik justru dapat memperburuk gejala. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan suasana nyaman, seperti melonggarkan pakaian yang ketat dan membantu penderita mendapatkan posisi duduk yang lebih lega.
Jika tersedia, pemberian oksigen juga dapat membantu memperbaiki kondisi sementara. Namun, langkah terpenting adalah segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kenali Tanda Bahaya Nyeri Dada
Tidak semua nyeri dada berasal dari jantung. Namun, ada beberapa ciri yang perlu diwaspadai. Nyeri yang tidak dipengaruhi perubahan posisi tubuh, terasa semakin intens, atau disertai gejala lain seperti sesak napas, mual, hingga keringat dingin, bisa menjadi tanda kondisi serius.
Gejala tersebut berpotensi mengarah pada penyakit kardiovaskular yang berbahaya jika tidak segera ditangani.
Jangan Tunda Penanganan Medis
Kesadaran masyarakat terhadap gejala nyeri dada masih perlu ditingkatkan. Mengandalkan metode tradisional tanpa diagnosis medis berisiko memperlambat penanganan yang seharusnya dilakukan lebih cepat.
Dengan mengenali tanda bahaya dan mengambil langkah yang tepat, risiko komplikasi serius seperti serangan jantung dapat ditekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Stroberi kaya vitamin C, serat, dan antioksidan. Simak 6 manfaatnya untuk imunitas, jantung, hingga mencegah penyakit kronis.
Korlantas Polri menegaskan informasi aturan baru denda ban gundul Rp250.000 adalah hoaks. Sanksi tersebut sudah diatur dalam UU LLAJ.
Febri Diansyah mengungkap alasan menerima penunjukan sebagai kuasa hukum eks Jampidsus Febrie Adriansyah dan menegaskan fokus pada pembelaan hukum klien.
Sebanyak 20 kalurahan di Bantul menerima program budi daya ikan tematik dari KKP dengan pembangunan sedikitnya 20 kolam ikan di tiap kalurahan.
Nadeo Argawinata menegaskan Timnas Indonesia menargetkan gelar juara ASEAN Hyundai Cup 2026 untuk mengakhiri penantian 30 tahun.
Kaesang Pangarep menyatakan siap maju sebagai caleg DPR di Dapil V Jawa Tengah pada Pemilu 2029. PSI menyiapkan konsolidasi hingga tingkat RT.