HUT ke-81 RI, IDM Resmikan Rumah Layak Huni di Sleman
IDM meresmikan rumah layak huni ke-56 untuk warga Sleman dalam HUT ke-81 RI. Program TJSL ini menyasar masyarakat sekitar destinasi wisata.
Ilustrasi Kerokan.ist/solopos
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan “kerokan” kerap menjadi solusi instan saat tubuh terasa tidak enak, termasuk ketika mengalami nyeri dada. Namun, dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa metode tradisional ini tidak boleh dijadikan pertolongan pertama, terutama jika berkaitan dengan gangguan jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, menegaskan bahwa kerokan justru tidak menyelesaikan akar masalah nyeri dada. Bahkan, tindakan tersebut berpotensi menyesatkan karena hanya memberikan rasa nyaman sementara.
“Kerokan menyebabkan pembuluh darah kecil di permukaan kulit pecah. Warna merah yang muncul itu bukan tanda sembuh, melainkan efek dari pecahnya pembuluh darah,” ujarnya dalam temu media di Jakarta dikutip dari Antara, Selasa (9/6/2026).
Hanya Efek Hangat, Bukan Solusi Medis
Menurutnya, sensasi lega setelah kerokan lebih disebabkan oleh penggunaan balsem yang memberikan efek hangat. Efek ini memang dapat melebarkan pembuluh darah, tetapi hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh penyebab utama, seperti sumbatan pada pembuluh darah jantung.
Dalam dunia medis, kondisi nyeri dada yang berkaitan dengan jantung sering dikaitkan dengan Angina pektoris. Kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen akibat aliran darah yang terganggu.
“Efek balsem itu hanya jangka pendek. Berbeda dengan obat medis seperti pengencer darah yang bekerja lebih lama dan menyasar penyebabnya,” jelasnya.
Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat
Alih-alih melakukan kerokan, dr. Febtusia menyarankan langkah sederhana namun krusial saat seseorang mengalami nyeri dada atau sesak napas. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membantu penderita tetap tenang.
Kondisi panik justru dapat memperburuk gejala. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan suasana nyaman, seperti melonggarkan pakaian yang ketat dan membantu penderita mendapatkan posisi duduk yang lebih lega.
Jika tersedia, pemberian oksigen juga dapat membantu memperbaiki kondisi sementara. Namun, langkah terpenting adalah segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kenali Tanda Bahaya Nyeri Dada
Tidak semua nyeri dada berasal dari jantung. Namun, ada beberapa ciri yang perlu diwaspadai. Nyeri yang tidak dipengaruhi perubahan posisi tubuh, terasa semakin intens, atau disertai gejala lain seperti sesak napas, mual, hingga keringat dingin, bisa menjadi tanda kondisi serius.
Gejala tersebut berpotensi mengarah pada penyakit kardiovaskular yang berbahaya jika tidak segera ditangani.
Jangan Tunda Penanganan Medis
Kesadaran masyarakat terhadap gejala nyeri dada masih perlu ditingkatkan. Mengandalkan metode tradisional tanpa diagnosis medis berisiko memperlambat penanganan yang seharusnya dilakukan lebih cepat.
Dengan mengenali tanda bahaya dan mengambil langkah yang tepat, risiko komplikasi serius seperti serangan jantung dapat ditekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IDM meresmikan rumah layak huni ke-56 untuk warga Sleman dalam HUT ke-81 RI. Program TJSL ini menyasar masyarakat sekitar destinasi wisata.
Malone Lam, pemuda Singapura 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto US$245 juta dan menjalani gaya hidup mewah.
BMKG memantau sebaran abu vulkanik dari lima gunung api pada 10 September 2026. Simak wilayah yang terdampak dan imbauannya.
Dinkes Bantul menduga jalur makanan matang dan mentah di SPPG Patalan 2 memicu kontaminasi bakteri dalam kasus keracunan MBG.
Tiga kapal TNI AL dikerahkan dalam pencarian jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda saat meliput Gunung Anak Krakatau.
Donald Trump menyebut perundingan AS-Iran masih mungkin terjadi meski Washington tidak sedang mengupayakan perundingan dengan Teheran.