Bambang Joko Sutarto Gandeng Media Perkuat Literasi BPJamsostek
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan dorong peran media tingkatkan literasi jaminan sosial bagi pekerja informal dan rentan di Indonesia.
Tangkapan layar penampilan penyanyi Shakira saat membawakan lagu resmi Piala Dunia FIFA 2026 berjudul "Dai Dai". YouTube/@shakira
Harianjogja.com, JAKARTA—Piala Dunia FIFA bukan hanya panggung adu strategi dan skill para pesepak bola terbaik dunia, tetapi juga selalu menghadirkan lagu-lagu ikonik yang melekat di ingatan penggemar. Dari era 1990 hingga 2026, soundtrack turnamen ini terus berevolusi, menghadirkan warna musik global yang semakin beragam.
Meski lagu bertema Piala Dunia sudah ada sejak 1960-an, FIFA baru mulai menetapkan soundtrack resmi pada 1990. Sejak saat itu, setiap edisi turnamen menghadirkan lagu yang tak hanya meramaikan atmosfer stadion, tetapi juga menjadi fenomena budaya pop di seluruh dunia.
Lagu “Un’estate italiana (To Be Number One)” menjadi pembuka era modern soundtrack Piala Dunia pada 1990 di Italia. Nuansa megah dan emosionalnya masih dikenang hingga kini. Empat tahun berselang, “Gloryland” hadir di Amerika Serikat dengan sentuhan gospel yang kuat.
Puncak popularitas soundtrack Piala Dunia terjadi pada 1998 lewat “La Copa de la Vida” dari Ricky Martin. Lagu ini sukses besar secara global dan bahkan meraih penghargaan Grammy, menjadikannya salah satu lagu olahraga paling legendaris sepanjang masa.
Memasuki era 2000-an, FIFA mulai mengeksplorasi berbagai genre. “Boom” dari Anastacia pada 2002 membawa nuansa pop energik, disusul “The Time of Our Lives” pada 2006 yang mempertemukan Il Divo dan Toni Braxton dalam balutan klasik modern.
Namun, fenomena terbesar terjadi pada 2010 lewat “Waka Waka (This Time for Africa)” yang dibawakan Shakira. Lagu ini tidak hanya menjadi anthem turnamen di Afrika Selatan, tetapi juga viral secara global dengan miliaran penayangan.
Setelah itu, tren kolaborasi lintas negara semakin kuat. “We Are One (Ole Ola)” pada 2014 menghadirkan Pitbull, Jennifer Lopez, dan Claudia Leitte. Sementara “Live It Up” pada 2018 memadukan Nicky Jam, Will Smith, dan Era Istrefi.
Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi titik perubahan besar. Untuk pertama kalinya, FIFA menghadirkan konsep multi-lagu dengan berbagai artis dunia seperti Jungkook BTS, Nicki Minaj, hingga Davido. Pendekatan ini dinilai lebih inklusif karena merepresentasikan keragaman budaya global.
Konsep tersebut berlanjut di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sejumlah nama besar seperti LISA, Burna Boy, Shakira, hingga Daddy Yankee turut ambil bagian dalam proyek soundtrack kali ini.
Beberapa lagu yang sudah diperkenalkan antara lain “Lighter”, “Por Ella”, hingga “Dai Dai”. Menariknya, lagu “Dai Dai” tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari inisiatif sosial FIFA untuk menggalang dana pendidikan global.
Dengan perjalanan panjang ini, soundtrack Piala Dunia tidak sekadar musik pengiring. Ia telah menjadi identitas turnamen, menyatukan jutaan orang dari berbagai negara melalui irama dan semangat yang sama: sepak bola.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan dorong peran media tingkatkan literasi jaminan sosial bagi pekerja informal dan rentan di Indonesia.
Pemerintah kaji pemangkasan anggaran MBG Rp268 triliun. Fokus pada efisiensi dan tepat sasaran penerima.
DPRD Kota Yogyakarta mempercepat pembahasan Raperda Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan dengan skema restitusi yang diperluas.
Pemkab Kebumen dan Bank Jateng jajaki kerja sama strategis untuk dorong ekonomi, UMKM, dan investasi daerah.
Timnas Indonesia U-19 hadapi Australia di semifinal AFF U-19 2026. Ini susunan pemain dan prediksi laga.
Penjualan Pertamax di Gunungkidul turun hingga 60% usai harga naik. Pelaku Pertashop mengeluhkan dampaknya.