Advertisement
Pakar PAUD Ingatkan Risiko Anak Dipaksa Belajar Terlalu Dini
Anak/anak. / Ilustrasi dibuat oleh AI ChatGpt
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan akademik sejak usia dini berpotensi menghambat perkembangan anak jika tidak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembangnya. Hal ini ditegaskan pakar pendidikan anak usia dini asal India, Dr. Swati Popat Vats, yang menekankan pentingnya pendekatan belajar berbasis permainan dan pengalaman sensorik.
Advertisement
Dr. Swati Popat Vats dikenal sebagai pakar pendidikan, mentor pengasuhan (parenting), sekaligus aktivis hak anak dengan pengalaman lebih dari 35 tahun di bidang pendidikan anak usia dini (PAUD). Seperti dikutip dari The Times of India, Jumat (27/2/2026), ia menilai fase awal kehidupan anak merupakan periode krusial bagi perkembangan otak yang tidak seharusnya didominasi tekanan akademik formal.
Perubahan Pola Masa Kanak-Kanak Modern
BACA JUGA
Menurutnya, masa kanak-kanak modern kini cenderung lebih menekankan pencapaian dibandingkan imajinasi. Kondisi tersebut membuat banyak anak mengalami stres dan kelelahan sejak dini. Padahal, perkembangan otak optimal justru didukung melalui aktivitas gerak, permainan bebas, serta pengalaman sensorik yang kaya, bukan latihan akademik yang kaku.
Perubahan pola masa kanak-kanak juga terlihat dibandingkan dua dekade lalu. Permainan tidak terstruktur yang dulu identik dengan tawa anak kini banyak tergantikan kelas terjadwal, beban tugas yang berat, serta tuntutan performa sejak usia dini. Anak diperkenalkan pada metrik pencapaian akademik terlalu cepat, sehingga muncul pertanyaan penting mengenai dampaknya terhadap perkembangan jangka panjang.
Dalam pengalamannya bekerja dengan anak, pendidik, dan orang tua selama puluhan tahun, ia melihat pergeseran dari eksplorasi menyenangkan menuju budaya performa. Tekanan akademik dini, paparan digital berlebihan, serta budaya perbandingan antaranak dinilai mempersempit waktu bermain dan waktu luang yang justru penting bagi perkembangan. Dampaknya, muncul generasi anak yang terstimulasi secara intelektual tetapi rentan merasa kewalahan.
Fondasi Neurosains Perkembangan Anak
Dari perspektif neurosains atau ilmu saraf, masa anak usia dini bukanlah perlombaan menuju keunggulan akademik, melainkan tahap pembangunan fondasi perkembangan otak. Riset Harvard Center on the Developing Child menunjukkan hampir 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun dengan pembentukan koneksi saraf yang sangat cepat.
Koneksi saraf tersebut tidak terbentuk melalui hafalan pasif, tetapi melalui pengalaman aktif yang melibatkan sensorik. Aktivitas sederhana seperti memegang gunting, membentuk tanah liat, atau menggunakan krayon sebenarnya merupakan proses kognitif kompleks yang mendukung perkembangan fungsi eksekutif otak.
Ia menegaskan kreativitas merupakan bentuk berpikir visual yang melibatkan perencanaan, pengurutan, eksperimen, dan revisi. Proses ini menjadi dasar kemampuan matematika dan pemecahan masalah di masa depan. Penggunaan alat dalam kegiatan kreatif bahkan disebut sebagai bentuk “rekayasa saraf” yang membangun koordinasi penting bagi pembelajaran kompleks.
Risiko Mengejar Prestasi Akademik Dini
Namun, mengejar hasil akademik jangka pendek melalui lembar kerja atau latihan berulang dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang. Anak berisiko mengalami kecemasan, menurunnya ketangguhan (resilience), kesulitan mengelola emosi, serta berkurangnya motivasi intrinsik untuk belajar.
Permasalahan utama bukan karena anak belajar terlalu banyak, melainkan karena orang dewasa sering keliru membedakan performa dini dengan pembelajaran bermakna. Kemampuan menyelesaikan tugas lebih cepat tidak selalu mencerminkan pemahaman mendalam atau kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Pendekatan Belajar yang Seimbang
Pendekatan belajar berbasis permainan bukan berarti tanpa struktur akademik, melainkan menghormati kesiapan perkembangan anak. Literasi dan numerasi dapat diajarkan melalui pengalaman langsung, seperti memasak atau membangun sesuatu. Aktivitas luar ruangan juga penting untuk memperkuat kemampuan fisik sekaligus keterampilan sosial.
Ia menekankan tanggung jawab menciptakan masa kanak-kanak sehat bukan hanya tugas sekolah. Orang tua perlu mengurangi tekanan perbandingan dan lebih fokus pada kebahagiaan serta rasa ingin tahu anak. Pendidik perlu mengembangkan metode pembelajaran yang tidak sekadar hafalan, sedangkan pembuat kebijakan harus memahami bahwa percepatan akademik tidak selalu menghasilkan pembelajar yang lebih baik.
Menurutnya, masa kanak-kanak bukan sekadar persiapan menuju kehidupan dewasa, tetapi bagian penting dari kehidupan itu sendiri. Anak yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan berinovasi justru lahir dari pengalaman belajar yang bermakna, bukan tekanan pencapaian semata.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : The Times of India
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BGN Sebut SPPG Terima Rp500 Juta per Hari untuk Program MBG
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








