Advertisement
Plus Minus Penggunaan Genteng Tanah Liat vs Atap Logam
Sidam Miharjo, salah seorang perajin genteng di Kalurahan Sambirejo, Ngawen saat memperlihatkan cetakan genteng yang dijemur di halaman tempat produksi, Kamis (5/2/2026). - Harian Jogja - David Kurniawan.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah mulai mengintensifkan kampanye penggunaan genteng tanah liat melalui program gentengisasi sebagai upaya menata lingkungan sekaligus menghidupkan kembali identitas arsitektur lokal di tengah dominasi hunian modern bermaterial logam.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat estetika kawasan pariwisata yang dinilai semakin kehilangan karakter tradisionalnya.
Advertisement
Langkah tersebut diambil menyusul perubahan lanskap perkotaan yang kian dipenuhi atap berbahan baja ringan, seng, hingga aluminium. Pergeseran tren ini terjadi seiring berkembangnya desain rumah minimalis yang mengedepankan kepraktisan, kecepatan pembangunan, serta efisiensi biaya konstruksi.
Disarikan dari beberapa sumber, selama puluhan tahun, genteng tanah liat sebenarnya menjadi material utama penutup atap rumah di Indonesia. Namun, keberadaannya perlahan tergeser oleh material logam yang dinilai lebih ringan dan mudah dipasang. Saat ini, genteng tradisional umumnya masih bertahan di wilayah pedesaan atau pada rumah bergaya klasik yang mengutamakan ketahanan jangka panjang.
BACA JUGA
Dari sisi teknis, genteng tanah liat memiliki keunggulan signifikan dalam hal umur pakai yang dapat mencapai lebih dari satu abad. Sebaliknya, atap logam rata-rata memiliki usia pakai sekitar 40 hingga 70 tahun dan berpotensi mengalami korosi seiring waktu, terutama di lingkungan lembap dan pesisir.
Genteng tanah liat juga unggul dalam kenyamanan hunian. Material ini mampu meredam suara hujan secara alami, berbeda dengan atap logam yang cenderung menimbulkan kebisingan jika tidak dilengkapi lapisan insulasi tambahan. Namun, bobot genteng tanah liat yang relatif berat menuntut struktur bangunan yang lebih kokoh, sehingga biaya konstruksi awal menjadi lebih tinggi.
Melalui program gentengisasi, pemerintah tidak hanya mendorong penggunaan material ramah iklim tropis, tetapi juga berupaya menyelamatkan industri pengrajin genteng lokal yang kian terdesak oleh produk fabrikasi modern. Keberlanjutan industri ini dinilai penting untuk menjaga rantai ekonomi daerah serta warisan keterampilan tradisional.
Selain aspek ekonomi, penggunaan genteng tanah liat dipandang mampu memperkuat citra kawasan pariwisata agar tampil lebih organik dan berkarakter. Atap tradisional dianggap selaras dengan lanskap alam dan nilai budaya lokal, terutama di daerah tujuan wisata yang mengandalkan keunikan visual sebagai daya tarik utama.
Meski demikian, tantangan gentengisasi tidak ringan. Pemerintah masih dihadapkan pada perubahan selera masyarakat yang telah terbiasa dengan material ringan dan murah, serta pertimbangan biaya tambahan akibat kebutuhan struktur bangunan yang lebih kuat. Program ini pun dinilai memerlukan insentif dan edukasi berkelanjutan agar dapat diterima luas oleh pasar perumahan modern.
Plus Minus Penggunaan Genteng Tanah Liat vs Atap Logam
| Aspek | Genteng Tanah Liat | Atap Logam (Seng/Baja/Aluminium) |
|---|---|---|
| Umur Pakai | 50–100+ tahun | 40–70 tahun |
| Berat | Berat, butuh struktur kuat | Ringan |
| Biaya Awal | Lebih mahal | Premium awal, efisien jangka panjang |
| Estetika | Klasik, beragam bentuk glasir | Modern, minim pilihan warna |
| Ketahanan | Tahan api/serangga, rawan lumut | Tahan cuaca ekstrem, rawan korosi |
| Perawatan | Glasir pudar, lumut | Sambungan termal rawan bocor |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Washington Post PHK Sepertiga Karyawan, Krisis Media di AS Kian Dalam
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Tiga Jembatan di Sleman Dibongkar 2026, DPUPKP Diganti Bangunan Baru
- Fina Mahardhika Luncurkan Buku Reflektif, Siap Diolah Jadi Pertunjukan
- Nyadran Makam Sewu Wijirejo Bantul Digelar 9 Februari 2026
- RSUD Wates Kembangkan Operasi Minim Sayatan, Pemulihan Lebih Cepat
- Kemiskinan di Dlingo Ditekan Lewat Agroforestry dan Kelapa Kopyor
Advertisement
Advertisement



