Advertisement

Diet Makan Sekali Sehari Berpotensi Picu Batu Empedu

Newswire
Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:47 WIB
Maya Herawati
Diet Makan Sekali Sehari Berpotensi Picu Batu Empedu Ftoo ilustrasi makanan diet. - ist - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pola diet makan sehari sekali atau One Meal A Day (OMAD) semakin populer sebagai strategi penurunan berat badan, namun pendekatan puasa intermiten ekstrem ini dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan apabila diterapkan tanpa perhitungan yang tepat.

Puasa intermiten sendiri merupakan metode pengaturan waktu makan dengan membatasi asupan kalori harian melalui periode makan tertentu dan berpuasa di sisa waktu. Dalam praktiknya, OMAD menjadi salah satu bentuk paling ketat karena hanya memperbolehkan konsumsi makanan satu kali dalam sehari, sehingga memicu kekhawatiran para ahli gizi.

Advertisement

Dikutip dari siaran Hindustan Times, Jumat (23/1/2026), ahli gizi Dasha mengamati adanya peningkatan kasus gangguan kantung empedu pada individu yang menjalani puasa intermiten ekstrem seperti OMAD. Kondisi ini berkaitan erat dengan fungsi kantung empedu dalam sistem pencernaan tubuh.

Ia menjelaskan bahwa kantung empedu memiliki peran vital dalam memecah lemak yang dikonsumsi tubuh.

"Empedu dilepaskan oleh kantung empedu untuk membantu Anda mencerna lemak sepanjang hari, apapun yang Anda makan," katanya.

Menurut Dasha, frekuensi makan yang terlalu jarang dapat mengganggu mekanisme alami tersebut.

"Sekresi empedu dirangsang ketika Anda makan, jadi jika Anda hanya makan sekali sehari, empedu itu hanya akan diam di kantung empedu, dan membentuk apa yang disebut endapan empedu, yang meningkatkan kemungkinan atau risiko terkena batu empedu," ia menjelaskan.

Berdasarkan temuan tersebut, Dasha menyarankan masyarakat memilih pola diet yang lebih seimbang, realistis, dan berkelanjutan dibandingkan OMAD. Salah satu alternatif yang dinilai lebih aman adalah puasa semalaman selama sekitar 12 jam.

Pola ini dapat diterapkan dengan membiasakan makan malam sebelum pukul 19.00 dan kembali makan pada pukul 07.00 keesokan harinya. Menurutnya, pendekatan tersebut masih memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat tanpa mengorbankan fungsi metabolisme.

Dasha juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan sekitar satu jam setelah bangun tidur guna menjaga tingkat energi dan kestabilan metabolisme. Selain itu, pengaturan jarak waktu makan setiap tiga hingga empat jam dinilai membantu mencegah makan berlebihan sekaligus mendukung pengendalian kadar gula darah.

Ia menambahkan, kebiasaan berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum tidur memberi tubuh waktu yang cukup untuk mencerna makanan dengan optimal. Proses pencernaan yang selesai sebelum waktu istirahat disebut berkontribusi pada kualitas tidur yang lebih baik dan pemulihan tubuh yang lebih maksimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Cuaca Ekstrem Hambat Pencarian Korban Longsor di Cisarua Bandung Barat

Cuaca Ekstrem Hambat Pencarian Korban Longsor di Cisarua Bandung Barat

News
| Sabtu, 24 Januari 2026, 16:47 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement