Advertisement

Horor dan Tawa Berpadu dalam Film Sebelum Dijemput Nenek

Newswire
Rabu, 21 Januari 2026 - 17:07 WIB
Maya Herawati
Horor dan Tawa Berpadu dalam Film Sebelum Dijemput Nenek Foto poster film Sebelum Dijemput Nenek. / Youtube

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Film horor komedi Sebelum Dijemput Nenek siap menyapa penonton bioskop Indonesia mulai 22 Januari dengan sajian cerita yang memadukan ketegangan, mitos kematian, dan humor gelap khas Rapi Films.

Karya terbaru ini diarahkan oleh Fajar Martha Santosa, yang juga terlibat langsung dalam penulisan skenario bersama Sandi Paputungan. Kolaborasi tersebut menghadirkan alur cerita yang tidak monoton dan penuh kejutan, sekaligus menjaga ritme komedi di tengah atmosfer horor.

Advertisement

Keunikan film ini terletak pada konsep “mix universe” yang menyatukan berbagai ikon makhluk halus dari sejarah panjang Rapi Films sebagai rumah produksi film horor Indonesia. Pendekatan tersebut membuat penonton seperti menjelajahi kembali jagat mistis yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Penonton akan kembali berjumpa dengan jin Ummu Sibyan serta hantu guru pegawai negeri Bu Woro dari film “Waktu Maghrib” (2023) garapan Sidharta Tata. Kehadiran karakter-karakter ini menjadi penghubung semesta horor yang telah lebih dulu dikenal publik.

Selain itu, sejumlah entitas gaib populer seperti pocong dan kuntilanak juga dimunculkan, termasuk sosok yang pernah hadir dalam film “Pengabdi Setan 2: Communion”. Seluruh elemen tersebut diramu dalam satu cerita yang bergerak lincah antara rasa takut dan tawa.

Sosok yang paling mencuri perhatian adalah modifikasi karakter Suster Ngesot. Tidak lagi sekadar bergerak merayap, karakter ini ditampilkan mampu berlari, menciptakan momen kaget yang langsung berbalik menjadi gelak tawa di dalam bioskop.

Cerita bermula ketika Hestu, yang diperankan Angga Yunanda, menerima kabar duka tentang wafatnya sang nenek, Mbah Marsiyem (Sri Isworowati), pada Jumat, 6 Juni, tepat pukul 6 sore. Waktu kematian tersebut membentuk angka 666 yang dipercaya memiliki makna khusus.

Dalam mitos yang diangkat film “Sebelum Dijemput Nenek”, waktu kematian itu diyakini membuat arwah anggota keluarga yang meninggal tidak pergi ke alam baka sendirian. Kepercayaan inilah yang menjadi pemicu rangkaian petaka bagi Hestu dan saudara kembarnya, Akbar, yang diperankan Dodit Mulyanto.

Mereka hanya memiliki waktu tujuh hari untuk menemukan tumbal pengganti agar arwah Mbah Marsiyem tidak mengajak salah satu dari mereka meninggal bersamanya. Tekanan waktu tersebut mengubah suasana duka menjadi kepanikan yang terus meningkat.

Hestu kemudian dilanda penyesalan mendalam ketika teringat ucapannya di masa lalu. Ia pernah melontarkan kalimat sinis bahwa dirinya “baru akan menginjakkan kaki di rumah jika sang nenek telah meninggal dunia”.

Ucapan itu seakan menjadi kenyataan pahit. Setelah Mbah Marsiyem benar-benar wafat, Hestu terpaksa pulang ke desa, meninggalkan sementara kehidupan perantaunya di kota.

Situasi semakin mencekam saat prosesi pemakaman berlangsung. Arwah Mbah Marsiyem berulang kali menampakkan diri, mengingatkan cucunya akan keinginannya sambil berbisik lirih, “Temani mbah, ya.”

Dilanda ketakutan akibat teror tersebut, Hestu nekat menyusun rencana ekstrem untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, termasuk kemungkinan mengorbankan orang lain sebagai tumbal.

Dalam kondisi panik, Hestu dan Akbar menetapkan tiga kriteria calon tumbal, mulai dari lansia yang hidup sendirian, orang dengan penyakit berat dengan dalih mengurangi penderitaan, hingga individu yang dianggap sebagai pengganggu ketenteraman warga desa. Rencana inilah yang menjadi sumber konflik sekaligus humor gelap sepanjang film.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Prabowo dan Raja Charles Bahas Konservasi Gajah

Prabowo dan Raja Charles Bahas Konservasi Gajah

News
| Rabu, 21 Januari 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Wisata
| Senin, 19 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement