Advertisement
Lima Fakta Penting Stunting dan Tantangan Penanganannya
Ilustrasi anak/anak mengukur tinggi badan. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan manusia di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional mencapai 19,8% atau setara satu dari lima bayi.
Kondisi ini tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas ekonomi di masa mendatang. Meski berbagai intervensi telah dilakukan, stunting tetap menjadi persoalan serius di banyak daerah.
Advertisement
Berikut lima fakta penting mengenai stunting yang menjadi pengingat akan pentingnya upaya pencegahan berkelanjutan:
1. Stunting Dimulai Sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—mulai dari kehamilan hingga usia dua tahun—menjadi fase paling krusial bagi tumbuh kembang anak. Kekurangan gizi kronis pada tahap ini dapat menyebabkan gagal tumbuh serta menghambat perkembangan otak secara permanen.
BACA JUGA
2. Gizi Tidak Seimbang Jadi Akar Masalah
Minimnya asupan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral masih banyak ditemukan di tingkat rumah tangga. Rendahnya pemahaman soal pola makan seimbang membuat anak tidak memperoleh gizi optimal sesuai kebutuhan pertumbuhan mereka.
3. Sanitasi Buruk Hambat Penyerapan Gizi
Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko diare dan infeksi berulang pada anak. Kondisi ini mengganggu penyerapan nutrisi sehingga gizi yang dikonsumsi tidak dimanfaatkan secara optimal. Akses air bersih dan jamban sehat menjadi faktor mendesak untuk dipenuhi.
4. Edukasi Gizi Perlu Diperkuat Sejak Dini
Banyak keluarga belum memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Edukasi gizi yang berkelanjutan kepada orang tua—bahkan sejak usia remaja—menjadi kunci perubahan perilaku jangka panjang. Pencegahan stunting pun perlu dilakukan lintas generasi.
5. Kolaborasi Menjadi Kunci Solusi
Stunting tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap anak mendapatkan makanan bergizi dan layak.
Menjawab tantangan tersebut, BKKBN bersama Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengembangkan Program PASTI, yakni pendampingan dan dukungan nutrisi selama fase 1.000 HPK.
Program yang dijalankan Wahana Visi Indonesia (WVI) hingga Januari 2027 ini telah menjangkau lebih dari 1.276 bayi di bawah dua tahun (baduta) serta ribuan keluarga berisiko stunting. Program Director WVI, Eben Ezer Sembiring, menegaskan bahwa anak merupakan masa depan bangsa.
Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu berjalan bersama memastikan anak mendapat hak atas makanan bergizi dan layak. “Melalui pendampingan Program PASTI bersama pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan penguatan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak nyata dalam pencegahan stunting,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





