Advertisement
Digitalisasi MTBS Percepat Deteksi Pneumonia Balita
Ilustrasi pneumonia pada anak. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) kembali disorot sebagai salah satu protokol paling efektif untuk mendeteksi penyakit serius pada balita, termasuk pneumonia yang masih menjadi penyebab kematian anak tertinggi. Upaya digitalisasi MTBS bahkan dinilai mampu memangkas waktu pelayanan signifikan, dari sekitar 25 menit menjadi hanya 10 menit.
Efektivitas tersebut terungkap dalam studi analisis kebijakan yang dilakukan Mahasiswa Magister Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Izza Fitrotun Nisa dan Alya Nursyifa Perwata, pada salah satu puskesmas di DIY. Penelitian menemukan bahwa konsistensi tenaga kesehatan dalam menerapkan MTBS berdampak langsung pada peningkatan deteksi dini pneumonia.
Advertisement
“Penerapan MTBS yang disiplin tidak hanya meningkatkan temuan kasus lebih awal, tetapi juga mengantarkan puskesmas itu meraih Juara Provinsi Inovasi Tumbuh Kembang Balita,” ujar Izza, Rabu (14/1/2026).
Namun demikian, Alya menjelaskan bahwa pelaksanaan MTBS di lapangan tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah mekanisme deteksi pasif, yang membuat tenaga kesehatan cenderung menunggu pasien datang. Kondisi ini membuka celah terjadinya missing cases, terutama ketika orang tua tidak memahami gejala awal pneumonia.
BACA JUGA
“Meski terbukti efektif, risiko kasus tidak terpantau tetap tinggi jika deteksi hanya bergantung pada kunjungan pasien,” kata Alya.
Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sulistyaningsih, menilai bahwa digitalisasi MTBS menjadi langkah krusial untuk menjawab persoalan tersebut. Dengan dukungan sistem digital, proses asesmen balita dapat berlangsung lebih cepat dan akurat.
“Digitalisasi MTBS terbukti memangkas waktu pelayanan menjadi hanya sekitar 10 menit. Integrasi dengan kecerdasan buatan juga memungkinkan pemantauan data secara real-time, sehingga balita tidak lagi luput dari pengawasan,” jelasnya.
Sulistyaningsih menegaskan bahwa upaya memerangi pneumonia tidak bisa hanya mengandalkan tenaga medis. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
“Kolaborasi teknologi, kader posyandu terlatih, dan orang tua yang waspada adalah pertahanan terbaik untuk melindungi masa depan anak-anak Indonesia,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





