Advertisement
Serangan Jantung Mengintai Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi serangan jantung (Freepik)
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Anggapan bahwa penyakit jantung hanya mengancam usia lanjut kian terbantahkan, seiring meningkatnya kasus serangan jantung pada kelompok usia muda yang tampak sehat dan aktif, menurut pakar kardiologi.
Selama ini, penyakit jantung identik dengan usia lanjut. Namun kenyataannya, orang dewasa muda yang aktif dan tampak bugar pun tidak luput dari ancaman. Pola hidup modern, tekanan psikologis, faktor keturunan, hingga gangguan medis tersembunyi dapat bekerja diam-diam merusak kesehatan jantung.
Advertisement
Dalam wawancara bersama HT Lifestyle, Konsultan Kardiologi Rumah Sakit Dr. L. H. Hiranandani, Powai, Mumbai, India, Dr. Pratik Giri, menjelaskan mengapa kasus serangan jantung dan gagal jantung kini semakin banyak terjadi pada kelompok usia muda.
Seperti dikutip dari Hindustan Times, ia merujuk studi AIIMS–ICMR yang dimuat dalam Indian Journal of Medical Research (2025). Riset tersebut menemukan bahwa kematian mendadak pada warga India yang terlihat sehat, khususnya usia 18–45 tahun, sebagian besar berkaitan dengan penyakit jantung yang belum terdiagnosis.
BACA JUGA
Gangguan kardiovaskular menyumbang 42,6 persen kasus, sementara sebagian lainnya tidak dapat dijelaskan dan diduga berkaitan dengan gangguan kelistrikan jantung yang bersifat genetik.
Sehat di Luar, Rentan di Dalam
Menurut Dr. Giri, banyak anak muda mengalami apa yang ia sebut sebagai “kesehatan semu”. Mereka tampak prima, jarang sakit, dan tidak memiliki keluhan berarti, tetapi kondisi jantungnya sebenarnya bermasalah.
“Usia muda, tubuh atletis, dan ketiadaan gejala bukan jaminan jantung berfungsi normal. Pada banyak kasus, faktor risikonya tidak pernah terdeteksi,” ujarnya.
Risiko yang paling sering menjadi akar masalah adalah penyakit kardiovaskular aterosklerotik (ASCVD), yakni proses penumpukan kolesterol dan lemak di dinding arteri.
“Pada fase awal, penyakit ini nyaris tak terasa. Selama penyumbatan masih di bawah 50 persen, biasanya tidak ada gejala. Keluhan ringan baru muncul saat aktivitas ekstrem, dan gejala saat istirahat umumnya terjadi ketika penyumbatan melampaui 70 persen,” jelasnya.
Akibatnya, seseorang bisa merasa baik-baik saja hingga suatu saat plak pecah secara tiba-tiba, memicu serangan jantung hebat atau gagal jantung akut.
Pola Hidup Modern yang Mempercepat Risiko
Dr. Giri menilai perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir ikut mempercepat kerusakan jantung pada usia muda. Kebiasaan merokok dan penggunaan rokok elektrik (vape), penyalahgunaan zat seperti kokain atau ganja, pola makan buruk yang berujung obesitas, hingga minimnya aktivitas fisik atau gaya hidup malas bergerak (mager) menjadi faktor dominan. Kondisi ini kerap diperparah oleh stres berkepanjangan, pola tidur yang tidak teratur, konsumsi alkohol berlebihan, serta penggunaan obat tertentu yang dapat memicu kejang pembuluh darah jantung atau aritmia mendadak.
Gejala yang Kerap Dianggap Sepele
Banyak anak muda mengabaikan tanda awal gangguan jantung. Keluhan seperti sesak napas, keringat dingin, pusing, rasa tidak nyaman, mual, atau nyeri dada seperti dicubit sering disalahartikan sebagai maag atau kecemasan.
“Kesalahan persepsi ini membuat pasien menunda ke rumah sakit, padahal penundaan bisa berakibat fatal,” kata Dr. Giri.
Ia menyarankan pemeriksaan jantung rutin bagi anak muda yang memiliki diabetes atau tekanan darah tinggi, mengalami obesitas, memiliki riwayat merokok atau penyalahgunaan zat, menjalani gaya hidup pasif dengan pola makan tidak sehat, berada dalam tingkat stres tinggi dengan kualitas tidur buruk, serta memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung usia dini.
Mencegah Sejak Awal
Dr. Giri menegaskan pencegahan harus dimulai jauh sebelum gejala muncul. Pemeriksaan dasar seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sebaiknya dilakukan secara berkala.
Berdasarkan tingkat risiko, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan seperti EKG, ekokardiografi, atau uji beban jantung (treadmill test). Pada kelompok risiko tertentu, pemeriksaan noninvasif lanjutan seperti CT Coronary Calcium Scoring dan CT Coronary Angiography juga dapat dilakukan untuk mendeteksi penyumbatan tersembunyi sebelum terjadi serangan.
“Sebagian besar penyakit jantung sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya. “Olahraga teratur, pola makan seimbang, tidur cukup, pengelolaan stres, menjauhi rokok dan narkotika, serta pemeriksaan kesehatan berkala adalah fondasi jantung yang sehat. Skrining dini menyelamatkan nyawa. Pencegahan seharusnya dimulai sedini mungkin.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Hindustan Times
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Longsor Gedangsari Putus Akses Warga, BPBD Siapkan Alat Berat
- Cuaca Ekstrem Rusak 5 Wilayah DIY, Pohon Tumbang Paling Banyak
- 1.337 Keluarga di Bantul Lulus Mandiri dan Keluar dari Program PKH
- Pelajar Meninggal Ditabrak Bus di Dekat SPBU di Temon Kulonprogo
- Terjerat Kasus Penganiayaan, Valentino Reivan Jadi DPO Polresta Jogja
Advertisement
Advertisement





