NU Minta Pemerintah Jalankan Putusan MK soal Anggaran MBG
Muktamar ke-35 NU meminta pemerintah tidak memakai anggaran pendidikan untuk MBG mulai 2027 sesuai putusan MK.
Film Kuyank yang dibintangi Barry Prima mengangkat cerita rakyat Kalimantan dan dijadwalkan tayang Januari 2026. /Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Aktor Rio Dewanto dan aktor laga senior Barry Prima dipertemukan dalam film bertema cerita rakyat berjudul Kuyank yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Januari 2026.
Film produksi DHF Entertainment ini mengangkat kisah rumah tangga berlatar legenda urban Kalimantan dengan dialog bahasa Banjar. Sutradara Johansyah Jumberan mengatakan cerita dikembangkan dari cerita rakyat dengan penekanan pada emosi manusia serta tekanan keluarga dalam menentukan pilihan hidup.
“Kami menjadikan cerita rakyat sebagai dasar cerita dengan fokus utama pada emosi manusia serta tekanan keluarga dalam mempengaruhi keputusan seseorang,” ujar Johansyah di Jakarta, Selasa.
Kisah berpusat pada pasangan suami istri Rusmiati (Putri Intan Kasela) dan Badri (Rio Dewanto) yang nekat menikah meski dihantui ramalan adat bahwa persatuan mereka akan membawa kesialan. Tekanan keluarga semakin besar ketika mereka didesak untuk segera memiliki keturunan sebagai upaya mematahkan ramalan tersebut.
Cerita Kuyank mengambil latar waktu tujuh tahun sebelum peristiwa dalam Saranjana Universe. Himpitan keadaan memaksa tokoh utama mengambil keputusan sulit demi mempertahankan martabat dan keutuhan rumah tangga, namun justru memicu rangkaian peristiwa misterius yang mengancam keselamatan warga sekitar.
Aktris Putri Intan Kasela menilai perannya merepresentasikan keputusasaan perempuan yang berada dalam posisi terpojok oleh tekanan sosial dan keluarga. Film ini juga diperkuat akting Dayu Wijanto, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Ananda George, dan Betari Ayu.
Barry Prima memerankan tokoh Utuh Ampong sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Banjar kepada penonton. Film berdurasi 98 menit ini telah mengantongi klasifikasi usia 13+ dari Lembaga Sensor Film (LSF).
Selain mengangkat konflik rumah tangga, Kuyank juga menghadirkan unsur misteri dan budaya lokal Kalimantan yang jarang diangkat dalam film arus utama Indonesia.
DHF Entertainment berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang tekanan adat, keluarga, serta posisi perempuan dalam masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Muktamar ke-35 NU meminta pemerintah tidak memakai anggaran pendidikan untuk MBG mulai 2027 sesuai putusan MK.
Gelora Seni 17-an di Lemahdadi Bantul menghadirkan pertunjukan lintas generasi, dari tari hingga Jathilan, dalam HUT ke-81 RI.
BTN memperkuat penyaluran FLPP di Jambi dengan mendorong rumah subsidi berkualitas dan tingkat keterhunian yang mencapai 95,07%.
Kelok 23 JJLS Gunungkidul-Bantul hampir rampung dan bakal dilengkapi tiga gardu pandang untuk menikmati panorama Laut Selatan.
DPRD Jogja meminta kantong parkir disiapkan sebelum Malioboro full pedestrian untuk mencegah parkir liar, macet, dan pungutan tak sesuai aturan.
Kejagung menyita aset bos PT QSS Sudianto alias Aseng senilai Rp338,35 miliar terkait dugaan korupsi pertambangan bauksit.