Advertisement
Mengenal Food Noise dan Cara Mengatasi Agar Kita Tidak Tergoda
Foto ilustrasi pedagang kaki lima makanan Indonesia. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Food noise atau kebisingan makanan menjadi tantangan berat dalam diet mengurangi berat badan.
Dikutip dari berita Medical Daily yang siar pada Kamis (30/1/2025), istilah ini merujuk pada keasyikan terus-menerus dengan rasa lapar atau obrolan internal tentang makanan yang dapat menggagalkan tujuan diet dan rencana penurunan berat badan.
Advertisement
Ahli pengobatan keluarga dan obesitas, Dr. Jennah LaHood Siwak, melalui sebuah video yang diunggah ke Instagram menyatakan bahwa meski istilah itu relatif baru, konsep tersebut sudah lama menarik minat para peneliti.
Dimana penelitian meneliti bagaimana aktivitas otak meningkat ketika individu terpapar gambar makanan.
Food noise adalah mekanisme alami yang membuat otak kita menginginkan makanan berdasarkan apa yang kita lihat, cium, atau bahkan dengar. Misalnya, suara daging babi yang mendesis dapat memicu keinginan kuat pada orang-orang meskipun mereka sebenarnya tidak lapar.
Meskipun dorongan untuk makan ini dulunya membantu untuk bertahan hidup saat makanan sulit ditemukan, saat ini, dengan begitu banyak makanan lezat dan mudah didapat di sekitar kita, naluri ini dapat menyebabkan makan berlebihan dan obesitas.
BACA JUGA: Pelantikan Kepala Daerah Terpilih Diprediksi Mundur, Ini Langkah Pemda DIY
"Suara makanan adalah pikiran yang tidak diinginkan yang terus-menerus atau berulang tentang makanan atau makan yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Itu adalah perenungan dan keasyikan obsesif terhadap makanan," katanya dalam video tersebut.
Dalam video terbaru lainnya di TikTok, Dr. Siwak membagikan kiat praktis untuk melawan suara makanan tanpa bergantung pada obat penurun berat badan.
"Satu hal yang dapat kita lakukan adalah mengubah isyarat makanan kita, jika memungkinkan, dengan mengubah lingkungan kita. Jadi, ini akan melibatkan mencari tahu apa pemicunya," ujar Siwak.
Misalnya, jika iklan TV membuat kita ingin makan, kita dapat menghindarinya. Jika memiliki makanan tertentu di rumah menyebabkan keinginan yang tak tertahankan, tidak menyimpan makanan tersebut di rumah dapat menjadi strategi yang membantu.
Faktor kunci lainnya adalah berfokus pada nutrisi dan makan dengan cara yang membuat kenyang, yang berarti memasukkan banyak protein dan serat dalam makanan kita.
Dokter Siwak memperingatkan bahwa mengabaikan rasa lapar fisik, menghindari kelompok makanan tertentu dari tubuh, atau mengikuti diet yang terlalu ketat justru dapat membuat suara makanan lebih keras pada sebagian orang.
"Merencanakan makanan dan camilan terlebih dahulu dapat membantu. Tidur yang cukup dan mengelola stres juga penting," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
- Libur Lebaran Ramai, Kamar Hotel DIY Justru Banyak Kosong
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
Advertisement
Advertisement






