Dugaan Love Scamming di Semarang, 4 WNA China Ditangkap
Imigrasi Semarang mengungkap dugaan love scamming internasional. Empat WN China diamankan bersama ratusan ponsel dan perangkat elektronik.
Nyamuk Aedes Aegypti - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Nyamuk Wolbachia kini sedang viral di media sosial karena dianggap buatan Bill Gates. Hal ini menimbulkan pro kontra dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Bahkan, terbaru ada juga masyarakat yang menolak disebarnya nyamuk wolbachia di daerahnya.
Padahal, Kementerian Kesehatan kini tengah menerapkan inovasi teknologi wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
Teknologi Wolbachia melengkapi strategi pengendalian yang berkasnya sudah masuk ke Stranas (Strategi Nasional) berdasarkan Keputusan Menteri kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaran Pilot project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan dengue.
BACA JUGA: Polemik Program Nyamuk Wolbachia, Begini Penjelasan Lengkap Peneliti UGM
Lantas apa sih sebenarnya wolbachia dan bagaimana asal usulnya? Dilansir dari imr.nih.gov.my, wolbachia adalah bakteri alami yang ditemukan di sekitar setengah dari seluruh spesies serangga, dan invertebrata lainnya seperti laba-laba dan nematoda.
Wolbachia hanya bisa hidup di dalam sel inang, tapi tidak di lingkungan. Wolbachia hanya dapat ditularkan secara alami kepada keturunannya melalui induk yang terinfeksi Wolbachia dan tidak dapat menular secara horizontal antar serangga.
Banyak nyamuk, termasuk beberapa spesies utama penular penyakit, membawa Wolbachia secara alami. Misalnya, Aedes albopictus membawa dua strain Wolbachia yang muncul bersamaan. Namun, Aedes aegypti secara alami tidak membawa Wolbachia.
Asal usul wolbachia
Pada tahun 2005, Wolbachia berhasil dipindahkan ke Ae. aegypti melalui teknik mikroinjeksi di laboratorium. Meskipun Wolbachia yang muncul secara alami tidak berpengaruh pada inang aslinya, Wolbachia yang baru diperkenalkan ke Ae. aegypti dapat mempengaruhi spesies nyamuk melalui 2 cara:
1. Ketidakcocokan sitoplasma (CI); terjadi ketika pejantan yang terinfeksi Wolbachia kawin dengan betina liar (tidak terinfeksi Wolbachia). Hal ini akan menghasilkan produksi telur yang tidak dapat hidup.
2. Gangguan patogen; terjadi ketika nyamuk jantan dan betina yang terinfeksi Wolbachia kawin dengan nyamuk jantan dan betina liar (tidak terinfeksi Wolbachia), telur yang dihasilkan akan menetas dan semua keturunannya akan membawa Wolbachia.
Demam berdarah dan virus lainnya, seperti virus Zika, tidak dapat tumbuh pada nyamuk betina yang terinfeksi Wolbachia. Ini dikenal sebagai gangguan patogen. Penemu wolbachia Genus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1924 oleh Marshall Hertig dan Simeon Burt Wolbach pada nyamuk Culex pipiens.
Mereka mendeskripsikannya sebagai "organisme pleomorfik, berbentuk batang, Gram-negatif, intraseluler yang hanya menginfeksi ovarium dan testis". Hertig secara formal mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1936, dan mengusulkan nama generik dan spesifik: Wolbachia pipientis.
BACA JUGA: Ribut Nyamuk dengan Wolbachia, Ini Sejarah Awal Munculnya Program Penyebarannya
Penelitian tentang Wolbachia meningkat setelah tahun 1971, ketika Janice Yen dan A. Ralph Barr dari UCLA menemukan bahwa telur nyamuk Culex dibunuh oleh ketidakcocokan sitoplasma ketika sperma laki-laki yang terinfeksi Wolbachia membuahi telur yang bebas infeksi.
Genus Wolbachia saat ini cukup menarik karena distribusinya luas, banyak interaksi evolusionernya yang berbeda, dan berpotensi sebagai agen biokontrol.
Samuel Wolbach adalah seorang ahli patologi lulusan Harvard yang memiliki reputasi mapan sebagai otoritas di bidang infeksi yang ditularkan melalui arthropoda. Studi kolaboratif Wolbach dan Marshall Hertig, seorang ahli entomologi mengarah pada penemuan Wolbachia pada tahun 1924.
Baik Hertig maupun Wolbach mungkin akan sangat terkejut mengetahui bahwa organisme mirip rickettsia yang tidak diketahui, yang pertama kali mereka isolasi dari nyamuk coklat (Culex pipentis) yang ditangkap di sekitar Boston, terbukti mewakili sekelompok besar bakteri yang menginfeksi 16 hingga 76% serangga dan sejumlah besar artropoda dan invertebrata lainnya.
Tentu saja, mereka tidak akan membayangkan bahwa di masa depan Wolbachia akan menjadi alat penting dalam memerangi demam berdarah, Zika, chikungunya, dan demam kuning yang ditularkan oleh nyamuk Aedes. Setelah 81 tahun penemuannya, temuan mereka akhirnya diterapkan untuk mengendalikan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Imigrasi Semarang mengungkap dugaan love scamming internasional. Empat WN China diamankan bersama ratusan ponsel dan perangkat elektronik.
Bank Sampah Berlian 08 di Jogja memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar pirolisis sampah plastik residu sehingga proses lebih cepat dan hemat.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.
PSEL Legok Nangka senilai Rp7,2 triliun mulai dibangun di Kabupaten Bandung. Proyek ini akan mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 40,79 M