Kabut Asap Tunda 12 Penerbangan di Bandara Pekanbaru
Kabut asap menyebabkan 12 penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru tertunda. Jarak pandang membaik menjadi 3.000 meter pada 13 Oktober 2026.
Ilustrasi depresi./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Penelitian Universitas Harvard dan Universitas Vermont menemukan seseorang yang depresi memposting foto yang lebih biru, lebih gelap, dan lebih abu-abu daripada gambar postingan orang lain.
Mengutip Bisnis.com-jaringan Harianjogja.com dari nbcnews.com, dalam riset tersebut peneliti menganalisis ribuan foto dari 166 pengguna Instagram dan 71 diantaranya memiliki riwayat depresi.
Orang yang depresi juga menyukai Inkwell, filter Instagram yang mengubah foto menjadi hitam putih. Foto mereka lebih sedih dan cenderung memposting gambar yang memiliki lebih sedikit wajah di dalamnya per foto.
Elyse Fox, pendiri Sad Girls Club, kelompok pendukung New York untuk anak perempuan yang mengalami penyakit mental dan depresi, mengaku melakukan apa yang dikatakan penelitian tersebut. Ia mengunggah foto-foto yang mencerminkan keadaan pikiran pada akun Instagramnya.
Berangkat dari penelitian tersebut, dirancang sebuah program komputer untuk menemukan detail-detail tersebut kemudian menelusuri foto-foto serta mengidentifikasi dengan tepat 70 persen orang yang depresi. Peneliti mengatakan bahwa temuan ini mungkin bisa menjadi blueprint untuk pemeriksaan kesehatan mental yang efektif.
Baca juga: Ini Hal yang Diduga Jadi Pemicu Ketidakharmonisan Ahmad Dhani-Once
Peneliti mengatakan bahwa penelitian ini adalah studi awal dan kecil karena sampel yang diambil hanya sedikit dan tidak menyeluruh. Walaupun demikian, Chaterine Steiner-Adair, psikolog klinis, mengatakan, “Jika kita dapat menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan kita kepada orang-orang yang menderita penyakit psikologis apa pun dan memberi mereka akses bantuan lebih cepat, itu adalah penggunaan yang sangat positif.”
Media sosial merupakan tempat yang sering dipilih untuk mengekspresikan emosi. Fox didiagnosis menderita depresi saat remaja, tetapi tidak memberi tahu siapa pun di keluarganya. Ia pun memilih melampiaskan emosinya ke media sosial sebab baginya tersebut sangat melegakan.
Steiner-Adair juga melihat dampak baiknya karena banyak yang terselamatkan dari depresi ketika mengekspresikan emosi melalui media sosial. Banyak orang tak segan untuk membantu jika melihat adanya tanda-tanda depresi pada seseorang di media sosial.
Jika Anda khawatir dengan foto profil Anda sendiri atau orang-orang terdekat, anak misalnya, cobalah memastikan terlebih dahulu. Bisa saja warna hitam atau biru adalah warna favorit dan tidak berhubungan dengan keadaan mental Anda. Jika masih khawatir, cari gejala-gejala awal depresi dan konsultasikan ke psikolog.
Untuk anak Anda, jangan langsung menanyakan bahwa dia depresi atau tidak. Perhatikan dalam kesehariannya dan tanyalah dengan pendekatan sehari-hari. Jika dia mulai terbuka dan Anda melihat gejala-gejala awalnya, cari bantuan dari psikologi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kabut asap menyebabkan 12 penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru tertunda. Jarak pandang membaik menjadi 3.000 meter pada 13 Oktober 2026.
KPK menetapkan tersangka kasus OTT Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Penyidik menyita uang sekitar Rp1,9 miliar.
Anggota DPRD Sleman Dara Ayu Suharto mendorong keterlibatan kader dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan kunjungan Posyandu Keluarga.
AS menjatuhkan sanksi terhadap 16 warga Iran dan 11 perusahaan di tengah konflik yang belum terselesaikan antara Washington dan Teheran.
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri mewaspadai ganda Thailand Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul di perempat final Denmark Open 2026.
PT Pegadaian meraih dua penghargaan di Indonesia In-House Counsel Awards 2026 atas inovasi fungsi hukum, penguatan tata kelola, dan pencegahan risiko bisnis.