Karhutla Landa Lima Kawasan Gunung di Jawa Timur, Api Belum Padam
Karhutla melanda lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan melakukan pemadaman manual dan pemantauan titik api.
Ilustrasi flexing atau pamer harta yang dilakukan para crazy rich di media sosial/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA– Belakangan, istilah flexing menjadi tren di media sosial. Bahkan, flexing juga membuat mantan kepala bea cukai Yogyakarta dan petinggi dirjen pajak diperiksa KPK.
Di kalangan selebriti juga flexing menjadi hal yang seolah umum di tengah ramainya media sosial.
Flexing merupakan istilah slang yang memiliki arti pamer, seperti fisik, barang, atau hal lain yang dianggap diri sendiri lebih unggul daripada orang lain.
Flexing dilakukan untuk menunjukkan kebanggaan atau kesenangan dengan sesuatu yang orang lakukan atau miliki. Biasanya flexing cenderung dilakukan dengan cara yang membuat orang lain kesal.
Kebanyakan orang yang flexing tergantung pada lingkungan dan orang yang ingin dia pamerkan.
Alasan ini merupakan alasan paling umum kenapa orang melakukan flexing. Orang melakukan pamer hanya saat diperlukan saja, yakni saat dia berpikir bahwa orang lain menganggapnya bukan apa-apa. Kegelisahan itu lah yang memicu perlakuan pamer untuk membuktikan diri.
Orang yang melakukan pamer terus menerus kemungkinan menunjukkan adanya masalah. Sebagai contoh, Anda sedang melakukan suatu proyek dan tidak berjalan dengan baik. Karena ingin percaya bahwa proyek tersebut berjalan baik padahal tidak, muncul lah konflik mental atau disonansi kognitif yang menyebabkan kemungkinan Anda membual tentang hal tersebut.
Pengalaman masa kecil kita membentuk perilaku di masa dewasa. Jika saat kecil diberi perhatian berlebih terus menerus, ia akan berusaha mencari dan mempertahankan perhatian tersebut. Sebagai orang dewasa, mencari perhatian mungkin bukan lah lagi dengan menangis dan merengek, tetapi meninggikan dirinya dengan pamer.
Pamer yang terus menerus akan merayap ke dalam kehidupan sehari-hari kita secara halus. Oleh karena itu, orang yang melakukan pamer cenderung akan memikirkan apa hal-hal yang membuatnya lebih hebat, seperti apa yang harus dibeli, bagaimana membuat orang terkesan, dan lainnya. Hal ini bisa memicu inferiority complex atau rasa rendah diri.
Menurut jurnal ‘The Influence of Social Media on Flexing Culture Phenomenon in Indonesian Society’, pamer yang dilakukan, khususnya di media sosial, bisa menaikkan popularitas. Hal ini dikarenakan adanya rasa penasaran oleh masyarakat mengenai hal yang dipamerkan oleh seseorang.
Stephen Garcia di Psychology Today menjelaskan bahwa beberapa orang tidak ingin berteman atau mencari teman yang memamerkan beberapa simbol statusnya, seperti kekayaan, kepintaran, dan lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Karhutla melanda lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan melakukan pemadaman manual dan pemantauan titik api.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo, 15 waktu keberangkatan dari Jogja ke Palur, daftar stasiun pemberhentian, dan tarif tiket Rp8.000.
Aigner merilis koleksi Munich di Indonesia melalui Adtime. Simak 18 tipe jam tangan terbaru dan strategi pengembangan bisnis merek ini.
Indonesia dan Singapura berencana membentuk satgas bersama untuk menindak korporasi yang diduga terlibat karhutla melalui pertukaran informasi dan bukti lintas
Ditjen Imigrasi mendeportasi warga Tiongkok berinisial SS yang masuk red notice Interpol dan DPO terkait dugaan pencucian uang di negara asalnya.
Kia Carens EV membuka pemesanan awal di Indonesia mulai 26 Oktober 2026. Simak empat varian, estimasi harga, dan fitur unggulannya.