IHSG Hari Ini Dibuka Melemah, Saham BBCA, BREN, dan BBRI Tekan Indeks
IHSG hari ini dibuka melemah ke level 5.884,96 dipicu tekanan saham BBCA, BREN, dan BBRI. Investor masih menanti sentimen ekonomi dan arus modal asing.
Ilustrasi flexing atau pamer harta yang dilakukan para crazy rich di media sosial/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA– Belakangan, istilah flexing menjadi tren di media sosial. Bahkan, flexing juga membuat mantan kepala bea cukai Yogyakarta dan petinggi dirjen pajak diperiksa KPK.
Di kalangan selebriti juga flexing menjadi hal yang seolah umum di tengah ramainya media sosial.
Flexing merupakan istilah slang yang memiliki arti pamer, seperti fisik, barang, atau hal lain yang dianggap diri sendiri lebih unggul daripada orang lain.
Flexing dilakukan untuk menunjukkan kebanggaan atau kesenangan dengan sesuatu yang orang lakukan atau miliki. Biasanya flexing cenderung dilakukan dengan cara yang membuat orang lain kesal.
Kebanyakan orang yang flexing tergantung pada lingkungan dan orang yang ingin dia pamerkan.
Alasan ini merupakan alasan paling umum kenapa orang melakukan flexing. Orang melakukan pamer hanya saat diperlukan saja, yakni saat dia berpikir bahwa orang lain menganggapnya bukan apa-apa. Kegelisahan itu lah yang memicu perlakuan pamer untuk membuktikan diri.
Orang yang melakukan pamer terus menerus kemungkinan menunjukkan adanya masalah. Sebagai contoh, Anda sedang melakukan suatu proyek dan tidak berjalan dengan baik. Karena ingin percaya bahwa proyek tersebut berjalan baik padahal tidak, muncul lah konflik mental atau disonansi kognitif yang menyebabkan kemungkinan Anda membual tentang hal tersebut.
Pengalaman masa kecil kita membentuk perilaku di masa dewasa. Jika saat kecil diberi perhatian berlebih terus menerus, ia akan berusaha mencari dan mempertahankan perhatian tersebut. Sebagai orang dewasa, mencari perhatian mungkin bukan lah lagi dengan menangis dan merengek, tetapi meninggikan dirinya dengan pamer.
Pamer yang terus menerus akan merayap ke dalam kehidupan sehari-hari kita secara halus. Oleh karena itu, orang yang melakukan pamer cenderung akan memikirkan apa hal-hal yang membuatnya lebih hebat, seperti apa yang harus dibeli, bagaimana membuat orang terkesan, dan lainnya. Hal ini bisa memicu inferiority complex atau rasa rendah diri.
Menurut jurnal ‘The Influence of Social Media on Flexing Culture Phenomenon in Indonesian Society’, pamer yang dilakukan, khususnya di media sosial, bisa menaikkan popularitas. Hal ini dikarenakan adanya rasa penasaran oleh masyarakat mengenai hal yang dipamerkan oleh seseorang.
Stephen Garcia di Psychology Today menjelaskan bahwa beberapa orang tidak ingin berteman atau mencari teman yang memamerkan beberapa simbol statusnya, seperti kekayaan, kepintaran, dan lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
IHSG hari ini dibuka melemah ke level 5.884,96 dipicu tekanan saham BBCA, BREN, dan BBRI. Investor masih menanti sentimen ekonomi dan arus modal asing.
Polres Gunungkidul masih menyelidiki dugaan penipuan proyek KDMP. Dua terduga mangkir dari panggilan, sementara tujuh orang dipastikan korban.
PMI asal Sleman, Ponirah, dipulangkan dari Malaysia akibat stroke. Berikut kronologi perjalanan hingga tiba di rumah.
Gerbang Tol Trihanggo di Sleman dirancang bernuansa Ratu Boko, diproyeksikan jadi ikon baru tol Jogja-Solo.
Prediksi Mesir vs Argentina di 16 besar Piala Dunia 2026, duel Messi vs Salah, lengkap susunan pemain dan skor akhir.
compute cluster Indonesia, AI Indonesia 2026, Nezar Patria, ekonomi digital Indonesia, infrastruktur AI, talenta digital Indonesia, Visi Indonesia Digital 2045,