Advertisement

Hati-Hati! Stres Berkepanjangan Bisa Picu Anak Jadi Depresi

Tri Indah Lestari (ST22)
Senin, 06 Maret 2023 - 11:17 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Hati-Hati! Stres Berkepanjangan Bisa Picu Anak Jadi Depresi Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Psikolog dari Universitas Indonesia Rose Mini Agus Salim mengatakan anak yang mendapatkan tekanan seperti perundungan atau mengalami sesuatu kondisi yang tidak nyaman dalam kehidupannya. Ia dapat mengalami stres berkepanjangan bahkan berujung depresi.

"Kalau tidak ada teman atau lingkungan yang bisa membantu dia untuk melakukan sesuatu terhadap masalah dan dia juga tidak bisa menyelesaikan masalah itu, dia bisa saja menjadi stres yang berkepanjangan, bisa depresi," kata Rose melansir dari Antara.

Advertisement

Stres berkepanjangan terjadi karena kemampuan dan pengalaman anak masih sedikit dalam mengatasi dan menghadapi masalah serta tidak tahu cara menyelesaikannya sendiri.

Dosen fakultas psikologi itu mengatakan anak memiliki cara menanggapi stres secara berbeda-beda berdasarkan pengalaman dan apa yang pernah dilihat untuk menyelesaikan masalahnya dan cenderung bertindak melakukan apa pun yang menurut pemikiran anak adalah baik.

Baca juga: Khawatir Konsumsi Gas Melon Lebih Tinggi, Pertamina Perketat Penjualan dan Pembelian

"Kalau masalah yang berat sekali dan dia tidak bisa minta bantuan dan lingkungan, bisa menjadi sesuatu yang berat untuk dia. Stres itu bisa berdampak juga pada anak yang tidak bisa mengatasi masalah, anak-anak itu cenderung melihat apa yang dipikir baik sebagai jalan pintas dari masalah tersebut,” kata Rose.

Faktor lain seperti tontonan yang dikonsumsi anak juga berpengaruh terhadap tanggapannya dalam menyelesaikan masalah. Misalnya, menonton film atau konten di media sosial menunjukkan orang bunuh diri karena mengalami masalah, anak bisa saja menilainya sebagai cara menyelesaikan masalah.

Ciri anak yang mengalami stres berkepanjangan tampak pada perubahan perilakunya seperti menarik diri dari lingkungan, tidak mau bergaul dengan teman sebayanya, dan tidak nafsu makan. Jika melihat perubahan perilaku tersebut, sepatutnya orang tua atau guru menanyakan apa yang terjadi pada anak untuk memvalidasi perasaannya.

Rose menilai orang-orang yang berada di sekitar anak perlu memahami isu depresi pada anak karena anak belum bisa menceritakan kesedihannya secara terbuka kepada orang lain.

“Melalui perilakunya yang berbeda, kita mulai bisa kemudian menanyakan hal itu. Kadang-kadang anak sudah menceritakan, tapi, kemudian kita mengatakan 'tidak usah dipikirkan' atau 'tidak usah didengar'. Masalahnya, tidak semudah itu bagi seorang anak,” ujarnya.

Penting bagi orang tua untuk memvalidasi perasaan tidak nyaman pada anak supaya perasaan itu tidak membekas. Cara yang bisa dilakukan dengan membantu anak untuk menjawab siapa orang-orang yang merundung atau apa yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kabar Anggaran Makan Siang Gratis Dijatah Rp7.500 per Anak, Menteri Keuangan Bilang Begini

News
| Jum'at, 19 Juli 2024, 14:27 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement