Advertisement

Serangan Jantung Tak Selalu Nyeri Dada, Ini Peringatan Dokter

Newswire
Jum'at, 20 Februari 2026 - 14:07 WIB
Maya Herawati
Serangan Jantung Tak Selalu Nyeri Dada, Ini Peringatan Dokter Ilustrasi serangan jantung (Freepik)

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Gejala serangan jantung tidak selalu diawali nyeri dada sehingga banyak orang terlambat menyadari risikonya. Seorang dokter jantung mengingatkan pentingnya deteksi dini karena penyakit jantung kerap berkembang diam-diam bertahun-tahun sebelum muncul kondisi darurat.

Dalam dunia medis yang identik dengan penanganan darurat dan prosedur berisiko tinggi, seorang ahli jantung asal Amerika Serikat justru mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu tanda bahaya muncul. Ia menekankan bahwa gejala serangan jantung tidak selalu berupa nyeri dada seperti yang selama ini diyakini banyak orang.

Advertisement

Dr. Sanjay Bhojraj, seperti dikutip dari Hindustan Times, Jumat (20/2/2026) seorang kardiolog intervensi sekaligus ahli kedokteran fungsional dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, membagikan pandangannya melalui Instagram pada 18 Februari. Ia menyebut pemahaman umum mengenai serangan jantung sebagai salah satu mitos terbesar dalam kesehatan jantung.

Penumpukan Risiko yang Terjadi Diam-Diam

Dokter yang berbasis di California tersebut menjelaskan bahwa anggapan penyakit jantung muncul tiba-tiba seperti sambaran petir merupakan kesalahpahaman berbahaya. Menurutnya, kondisi ini justru berkembang perlahan tanpa disadari hingga akhirnya memicu kejadian serius.

"Saya telah menangani cukup banyak pasien untuk mengatakan ini dengan pasti: Masalahnya bukan karena penyakit jantung muncul secara tiba-tiba. Masalahnya adalah penyakit ini berkembang secara diam-diam. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka berisiko sampai ada sesuatu yang memaksa mereka menyadarinya."

Dr. Bhojraj menilai pencegahan yang efektif bukan hanya memantau gejala, tetapi juga mengenali perubahan mikroskopis dalam tubuh yang dapat terjadi bertahun-tahun bahkan puluhan tahun sebelum krisis kesehatan muncul.

Pemeriksaan Kesehatan Tidak Cukup Sekadar Normal

Sebagian besar edukasi yang ia bagikan menyoroti keterbatasan pemeriksaan kesehatan rutin yang sering dianggap cukup ketika hasilnya terlihat normal. Ia mendorong pasien untuk lebih aktif memahami kondisi tubuhnya secara menyeluruh, bukan sekadar menerima hasil laboratorium tanpa penjelasan mendalam.

"Izinkan saya bertanya sesuatu. Kapan terakhir kali seseorang benar-benar meninjau angka-angka (hasil tes) Anda bersama Anda? Bukan sekadar memesan tes lab. Bukan sekadar melirik grafik. Bukan sekadar mengatakan 'semuanya tampak oke'.

 Tetapi benar-benar duduk dan menjelaskan pola kolesterol Anda. Penanda peradangan Anda. Tren tekanan darah Anda. Dan apa arti angka-angka itu bagi masa depan Anda selama lima, 10, 15 tahun dari sekarang.

Perubahan Pendekatan: Dari Mengobati ke Mencegah

Pendekatan proaktif tersebut, menurut Dr. Bhojraj, terbentuk dari pengalamannya bertahun-tahun menangani pasien darurat pada fase awal kariernya. Ia mengaku sering mendengar kalimat serupa dari pasien yang mengalami serangan jantung secara mendadak.

"Apa yang saya lihat berulang kali adalah ini: Tanda-tanda peringatan itu sebenarnya ada. Risikonya sedang menumpuk. Hanya saja tidak ada yang menghubungkan titik-titik tersebut cukup awal," tambahnya.

Kini praktik medisnya lebih berfokus pada pencegahan kerusakan melalui strategi kesehatan yang dipersonalisasi berdasarkan kondisi fisiologis individu. Pesan tersebut terutama ditujukan bagi orang yang merasa sehat, tetapi belum memahami kondisi kesehatan internalnya secara menyeluruh, karena deteksi dini gejala serangan jantung dan faktor risiko penyakit jantung menjadi kunci pencegahan sebelum tubuh menunjukkan tanda bahaya yang lebih serius.

BACA JUGA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Mudik Lebaran 2026 Diperkirakan Tembus 144 Juta Orang

Mudik Lebaran 2026 Diperkirakan Tembus 144 Juta Orang

News
| Jum'at, 20 Februari 2026, 14:37 WIB

Advertisement

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wisata
| Senin, 16 Februari 2026, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement