Harga Emas Perhiasan Turun 1 September 2026, Cek Daftarnya
Harga emas perhiasan hari ini 1 September 2026 turun. Simak daftar lengkap harga emas Lakuemas dan Rajaemas terbaru.
Ilustrasi/Shutterstock-Suara.com
Harianjogja.com, JAKARTA—Mungkin Anda pernah mengalami mata sering kedutan, yang kadangkala dianggap sebagai mitos seperti akan menangis. Padahal, mata kedutan bisa jadi tanda suatu penyakit, yang bahkan bisa berbahaya.
BACA JUGA: Sering Kedutan, Waspadai Gangguan Saraf
Kedutan myokymia atau kelopak mata sebenarnya adalah kondisi kontraksi terus menerus yang menyebabkan kejang kecil di kelopak mata, umumnya terjadi di kelopak mata bagian bawah.
Bagi kebanyakan orang, gejalanya cepat berlalu, tetapi beberapa orang mengalaminya selama berminggu-minggu.
Meskipun penyebab kondisinya belum bisa dipastikan, tapi kedutan mata juga bisa pertanda suatu penyakit.
Klinik Cleveland menjelaskan kedutan mata biasanya merupakan gangguan kecil yang biasanya terjadi cepat datang dan hilang.
"Jika itu terjadi Anda perlu melakukan dekompresi dan destress," tulisnya dilansir dari Express.
Klinik Cleveland menyatakan bahwa ada beberapa tanda yang mungkin memerlukan kunjungan ke dokter dan perlu penanganan lebih lanjut sebagai berikut:
Kedutan yang berlangsung lebih dari beberapa hari
Kedutan di bagian tubuh lain
Kelemahan, kelopak mata terkulai atau penglihatan ganda.
Jika mata tampak merah, kelopak mata bengkak, atau gejala lain seperti pusing muncul, ini mungkin juga memerlukan perhatian medis.
Orang yang hanya menderita kedutan mata lebih mungkin mengalami kejang sporadis yang disebabkan oleh stres.
Penyakit yang picu kedutan mata
Namun, beberapa penyebab serius juga dikaitkan dengan kedutan kelopak mata, termasuk penyakit autoimun, gangguan gerak, dan tumor kanker.
Dystonia, misalnya, adalah istilah medis yang menggambarkan serangkaian gangguan gerakan yang memicu kejang dan kontraksi otot.
Ada beberapa subtipe distonia, tetapi yang lebih sering dikaitkan dengan adanya kedutan mata adalah blefarospasme dan distonia serviks.
Dystonia serviks menyebabkan otot leher kejang dan miring dengan cara yang tidak biasa, mempengaruhi kedua mata juga dalam beberapa kasus.
Harvard Medical School menjelaskan bahwa dalam blepharospasm, "dystonia fokal kelopak mata menyebabkan kedutan yang tidak disengaja dan kelopak mata yang kuat.
Meskipun distonia tidak fatal, masalah yang terkait dengan kondisi di atas dapat mengancam jiwa jika diabaikan.
Kemungkinan penyebab kedutan lainnya adalah abrasi kornea, yang menggambarkan goresan kecil pada jendela di bagian depan mata akibat cedera.
“Penyebab umum termasuk kuku menggaruk mata, masuk suatu benda ke mata, terutama jika mata kemudian digosok,” kata Rumah Sakit Mata Moorfields.
Gejala utama abrasi kornea adalah nyeri, tetapi pasien mungkin juga mengalami kemerahan, kepekaan terhadap cahaya, dan mual.
The Moffitt Cancer Center menjelaskan mata berkedut adalah indikator lain yang jelas bahwa mungkin ada tumor otak.
Menurut mereka, tumor di otak dapat menyebabkan masalah optik jika lobus temporal, batang otak, atau lobus oksipital terpengaruh.
“Sementara beberapa perubahan penglihatan dapat terjadi secara bertahap, setiap perubahan mendadak harus segera didiskusikan dengan dokter.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Harga emas perhiasan hari ini 1 September 2026 turun. Simak daftar lengkap harga emas Lakuemas dan Rajaemas terbaru.
Arie Sujito menilai reshuffle kabinet Prabowo harus menjawab problem dan harapan publik, bukan justru memunculkan teka-teki baru.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.
Pengajuan pengunduran diri Dukuh Krapyak Wetan, Bantul, belum memenuhi syarat. Pemkab menyebut hasil klarifikasi tak menemukan unsur tuduhan.
BPS Gunungkidul masih mengolah data Sensus Ekonomi 2026. Sebanyak 1.033 petugas dikerahkan dengan sekitar 385.000 responden sasaran.