Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Lato-lato/Shutterstock
Harianjogja.com, SOLO—Gim lato-lato lagi viral di Indonesia dan banyak dimainkan oleh anak-anak di Indonesia. Hal ini membuat masyarakat penasaran bagaimana sih awal mula permainan lato-lato viral?
BACA JUGA: Sederet Insiden yang Ditimbulkan Oleh Lato-Lato
Lato-lato merupakan permainan anak yang terbuat dari bahan plastik terdiri dua bandulan pendulum dan disambungkan dengan seutas tali atau benang nilon. Di bagian tengah tali terdapat sebuah cincin yang berfungsi sebagai pegangan untuk menggerakan dua bandulan tersebut.
Cara memainkan lato-lato pun terlihat cukup mudah bagi sebagia orang, yakni dengan membenturkan dua bendulan sehingga menimbulkan suara tek-tek-tek.
Lalu, bagaimana sih awal mula lato-lato viral?
Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari mengatakan, lato-lato viral dipengaruhi oleh adanya media teknologi yang memmbuat permainan ini dikenal banyak orang.
Dia menambahkan salah satu pihak yang mempopulerkan permainan ini adalah produsen permainan anak.
“Masing-masing zaman atau era selalu punya zeitgest atau yang kita sebut sebagai jiwa zaman. Kebetulan, sekarang permainan lato-lato. Siapa yang menyebabkan permainan tersebut populer, salah satunya produsen media permainan anak dan saya kira hal ini akan berulang pada waktu mendatang,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya yang ada di situs resmi Unair.
Bukan hanya produsen, awal mula lato-lato viral diduga juga karena keterlibatan Presiden Jokowi dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang ikut memainkan gim satu ini.
Aksi Jokowi dan Ridwan Kamil tersebut dilakukan saat mengunjungi salah satu pasar di Subang, Jawa Barat. Aksi Jokowi bermain lato-lato itu diunggah oleh Ridwan Kamil di akun Instagram resminya, @ridwankamil, Selasa (27/12/2022).
“Main nok-nok bareng Presiden dan Gubernur,” tulis pria yang akrab disapa Kang Emil itu.
Terkait nilai-nilai dalam permainan lato-lato, Ikhsan mengatakan hal tersebut sama seperti permainan anak-anak pada umumnya, yakni interaktif, kompetitif, hingga kesenangan.
“Apalagi lato-lato ini viral setelah pandemi. Anak-anak bisa berinteraksi sehingga permainan tersebut menjadi media interaksi bagi mereka. Di samping itu, nilai kompetitif dalam permainan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan atau skill mereka sehingga muncul perlombaan dan sebagainya,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Dispetaru Kabupaten Bantul menegaskan, pendirian bangunan di sempadan pantai harus mengikuti aturan merespons sejumlah bangunan yang rusak diterjang gelombang
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026