Advertisement

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 176 (Tamat)

Joko Santosa
Selasa, 29 Desember 2020 - 23:47 WIB
Budi Cahyana
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 176 (Tamat) Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan

Advertisement

176

Wajah Darsi yang tengadah itu pucat dan rambutnya kusut. Matanya dipejamkan akan tetapi air matanya keluar melalui sepasang pipi. Bibirnya gemetar, menggigil setengah menangis setengah tersenyum, hanya dapat tergerak perlahan mengangguk.

Advertisement

Kedua tangan lelaki mendekap muka itu, pada leher di bawah telinga, memandang seperti orang mengamati sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra. Ciuman ini membuat Darsi seakan mendapatkan kembali sebuah keindahan yang sudah lama sirna sehingga muncul sedu sedan dari dalam dada ke lehernya, menjadi satu dengan isak tangis dari dalam dada kekasihnya.

Pagi yang sudah bersolek mendadak tersaput mendung gelap. Titik-titik air mulai menetes dari langit, menghapus maskara pagi, memorakporandakan dandanannya. Dan laut yang tenang pelan-pelan bergelombang.

“Pangeranku, sungguh aku tidak pernah sedetik pun berhenti mencintaimu sebagaimana bunyi jantungku. Namun hubungan ini jangan berlanjut. Tetaplah berjarak supaya kerinduanku terjaga.”

Darsi menyentak lepas dari dekapan kekasihnya. Kemudian tertatih-tatih menuju tepi laut dan tak berapa lama tubuhnya ditelan gelombang yang bergulung-gulung membawanya ke tengah samudra. Tubuh Darsi timbul tenggelam, hanya kadang tampak tangannya melambai.

“Darsi, Darsi..”

Lelaki itu mengejar tapi langkahnya terhenti. Ia terpana melihat Darsi melangkah di atas ganasnya ombak laut selatan. Kadang gelombang menggunung menyelimuti Darsi, lalu muncul lagi. Darsi terus saja berjalan ke selatan sampai akhirnya bayangannya lenyap.

“Darsi…”

Lelaki itu berlari menyusul. Tapi di hadapannya gelombang putih kehitaman menghentikan langkahnya.

“Kangmas Dinar….”

Darsi berseru samar di tengah gemuruhnya ombak samudra.

Begawan Sempani, Pangeran Arumbinang, Ki Ageng Permana, Nimas Lembah Manah, Suradipa, Suragati, Dinar Saka, Latri Dewani, Martapura, Gayatri, Kertapati, Resi Kamayan dan Darsi, semua menghadap Ilahi Robbi dengan caranya sendiri: ada yang tergelincir, ada yang ketir–ketir, ada yang mlipir. Semua dicatat, semua dapat tempat.

Ohh, kyrie kyrie eleison, kyrie kyrie eleison.

Glenggangsari, Respati Corona, 2020

TAMAT

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kabar Anggaran Makan Siang Gratis Dijatah Rp7.500 per Anak, Menteri Keuangan Bilang Begini

News
| Jum'at, 19 Juli 2024, 14:27 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement