Prabowo Kirim Tim Pelajari Strategi Hapus Kelaparan di Empat Negara
Presiden Prabowo memerintahkan pengiriman tim ke India, Brasil, Tiongkok, dan Vietnam untuk mempelajari strategi penghapusan kelaparan.
Coffin dance digunakan untuk menghukum warga Ekuador yang tidak mengenakan masker.[YouTube/Video Tree via Suara.com]
Harianjogja.com, EKUADOR - Cara yang unik untuk menghukum para pelanggar protokol kesehatan Covid-19 tidak hanya dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia. Di Ekuador, orang-orang yang tidak mengenakan masker akan diajak \'menari\' peti mati yang belakangan viral di media sosial.
Salah satunya terlihat dalam sebuah video yang diunggah di akun YouTube Video Tree.
"Pandemic-shaming di depan umum dengan maskot Covid-19 dan coffin dancer," tulis akun tersebut. Dalam video tersebut tampak seorang pria diangkat oleh para petugas yang berpakaian putih hitam, seperti pengangkat peti mati pada coffin dance.
Para petugas tersebut tampak mengayun-ayunkan pria yang tidak mengenakan masker dan seolah akan dimasukkan ke dalam peti mati.
Aksi tersebut juga ditemani seseorang yang mengenakan kostum yang menggambarkan virus corona dan menakut-nakuti pria yang tidak memakai masker tersebut.
Setelah pria yang tidak memakai masker \'dipermalukan\' di depan umum, seorang polisi datang dan memberikannya sebuah masker. Melihat pria tersebut memakai masker, petugas kemudian menari dengan riang gembira.
Melihat aksi tersebut mengundang komentar dari warganet. "Saya bahkan tidak akan marah tentang hukuman tersebut," tulis salah satu warganet. "hahahahahahha itu sangat lucu," tulis warganet lainnya.
Ekuador merupakan salah satu negara yang cukup terpukul oleh gelombang virus corona. Di kawasan Guayas, Setidaknya 6.700 orang meninggal dunia di dua minggu pertama bulan April.
Kota tersebut juga merupakan area paling terdampak bukan hanya di Ekuador namun juga di seluruh Amerika Latin.
"Kami sudah melihat orang meninggal di mobil, di ambulans, di rumahnya, di jalanan," kata Katty Mejía, seorang pekerja di rumah duka di Guayaquil, ibu kota negara bagian dan kota terbesar di Ekuador dikutip dari BBC.
"Salah satu alasan mereka tidak dirawat di rumah sakit karena alasan kekurangan tempat tidur. Jika mereka ke klinik swasta, mereka harus membayar dan tidak semua orang punya uang," katanya.
Saking banyaknya korban akibat virus corona, rumah duka di kota dengan penduduk 2,5 juta tersebut sampai kewalahan.
Pihak keluarga banyak yang membiarkan mayat tergeletak di depan rumah, sebagian lainnya membiarkan di tempat tidur hingga berhari-hari.
Kota Guayaquil juga mulai kehabisan ruang untuk menguburkan mayat, memaksa sebagian orang untuk membawa jenazah ke kota tetangga untuk dimakamkan di sana.
Menurut data dari Worldometer hingga Senin (27/6/2020), Ekuador sudah mencatatkan 80.694 kasus dengan total kematian mecapai 5.515. Sebanyak 34.896 pasien sudah dinyatakan sembuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Presiden Prabowo memerintahkan pengiriman tim ke India, Brasil, Tiongkok, dan Vietnam untuk mempelajari strategi penghapusan kelaparan.
Dana kompensasi tenaga kerja asing menjadi penyumbang terbesar PNBP Kemnaker. Pemerintah kini mengkaji besaran kompensasi yang telah berlaku selama puluhan tahu
Revisi UU Hak Cipta berisiko rugikan media dan publik. Belajar dari negara lain, RI diminta hati-hati.
Polri menangkap buronan Interpol asal Palestina Abdul Karim Raed Miqdad di Indonesia. Ia diketahui membawa tiga paspor, dua di antaranya diduga palsu.
PT Danantara Sumber Daya Alam bersiap mengimplementasikan pengelolaan ekspor SDA satu pintu pada 1 September 2026 untuk memperkuat pengawasan ekspor.
KPK mempersilakan Menteri PU Dody Hanggodo memberikan klarifikasi terkait polemik surat perjalanan dinas ke Amerika Serikat untuk menghindari simpang siur infor