Kemenhaj Temukan 400 Ribu Data Invalid, Antrean Haji 14 Tahun
Kemenhaj memvalidasi 5,7 juta data jamaah dan menemukan 400 ribu data invalid. Antrean haji secara faktual kini rata-rata 14 tahun.
ilustrasi. /Reuters
Harianjogja.com, SOLO - Pagebluk atau wabah penyakit menjadi salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat Jawa, termasuk Solo.
Sebelum pandemi Covid-19, di Pulau Jawa pernah terjadi pagebluk yang merenggut nyawa ribuan orang. Seiring terjadinya pagebluk, muncul berbagai cerita irasional atau tak masuk akal.
Di abad ke-19, penyakit kolera belum ditemukan obatnya. Terlebih, masih sedikit tenaga medis atau dokter yang menangani kesehatan masyarakat. Faktor ekonomi juga membuat sebagian besar masyarakat tak bisa menjangkau obat-obatan modern.
Akhirnya, alam pemikiran masyarakat tradisional yang erat dengan mistik berusaha mencari sendiri cara untuk menanggulangi pagebluk. Perihal mitos dalam pagebluk ini menjadi tema bahasan webinar Tradisi Lisan dan Mitos Pagebluk di Jawa, yang digelar Solo Societeit, belum lama ini.
Bekerjasama dengan Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, ASCEE, dan beberapa lembaga lain, webinar itu mengupas mitos dan fakta sejarah yang tersurat dalam serat maupun data sezaman.
Webinar ini juga mengkritik selama ini jarang sekali akademisi memberi panggung kepada mitos untuk dibedah. Seolah mitos yang hidup dalam memori masyarakat Jawa itu bukan fakta berharga.
Sejarawan yang juga dosen Sejarah USD Yogyakarta, Heri Priyatmoko, menyampaikan banyak perilaku masyarakat Jawa, termasuk Solo, tempo dulu yang sulit dinalar saat terjadi pagebluk dan menjadi mitos.
Lintang Kemukus
Salah satu di antaranya warga Solo pada 1885 melihat Lintang Kemukus di Paseban dan Alun-alun Utara Keraton Solo. Mereka berkerumun menyaksikan ekor komet itu dan mempercayai bakal terjadi pagebluk.
Ternyata benar, siangnya muncul musibah banjir melumat Solo dan membawa penyakit. Juga mencuat cerita penderita kolera dan penyakit kulit lainnya bisa sembuh gara-gara minum air di umbul Pengging yang dipakai mandi raja Paku Buwana (PB) IX.
Fakta lain yang menarik terkait mitos pagebluk di Solo dan sekitarnya yakni sumur bor di Kolam Langenharjo mengalirkan air tawar dan air asin yang mampu mengobati aneka penyakit.
Berkat diliput jurnalis saat itu, masyarakat luar Soloraya berbondong-bondong ke Langenharjo membawa botol dan kendi mengambil air itu.
Muncul pula mitos ramuan rumput teki bisa mengobati masyarakat di Lereng Lawu yang terkena pagebluk kolera. Ramuan itu dikabarkan pemberian Sunan Lawu kepada petani setempat.
Menurut Heri, Sunan Lawu yang melegenda ini dihadirkan dalam cerita guna meyakinkan para warga agar memanfaatkan bahan alam itu tanpa merogoh kocek. “Mereka berpegang pada pemahaman bahwa obat ada di lingkungan sekitarmu,” ungkap Heri.
Mendorong Kalangan Medis Meriset
Melalui webinar tentang mitos di tengah pagebluk yang digelar Solo Societeit tersebut, Heri berharap bisa mendorong kalangan medis meriset atau mencari tahu khasiat air umbul dan rumput teki untuk memperkaya pengetahuan medis ala Timur.
Hal itu supaya masyarakat Indonesia tidak melulu mengagungkan dunia farmasi Barat, harusnya ada kemandirian sekaligus menghargai warisan kakek moyang.
Pembicara lainnya, Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, menekankan pentingnya menguak perilaku Jawa dalam perspektif filsafat Jawa. Jika dibaca dari sudut padang Barat, hal-hal itu pasti dikaitkan dengan klenik dan hal irasional.
“Perlu pula membaca kritis fakta historis yang tersekam dalam data berupa serat dan koran sezaman. Misalnya, pagebluk dikaitkan dengan kemunculan burung tertentu, lampor, atau lelembut. Hal ini mestinya diamati perubahan jagat kecil perihal lingkungan alam yang tidak lagi sehat. Ada disharmoni yang memicu terjadinya penyakit mewabah,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Kemenhaj memvalidasi 5,7 juta data jamaah dan menemukan 400 ribu data invalid. Antrean haji secara faktual kini rata-rata 14 tahun.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.