Advertisement

Perut Begah dan Demam Termasuk Gejala Kanker Darah?

Newswire
Kamis, 14 Februari 2019 - 06:17 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Perut Begah dan Demam Termasuk Gejala Kanker Darah? Ani Yudhoyono di RS bersama anak dan cucunya. - Ist/ Instagram @aniyudhoyono

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Masyarakat Indonesi baru saja dibuat terkejut atas kabar yang menimpa mantan ibu negara, Ani Yudhoyono. Istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini sudah sepekan dirawat di rumah sakit di Singapura karena mengidap sakit kanker darah. 

Hal ini dipastikan oleh pesan rekaman video SBY dari Singapura. Meski demikian belum diketahui pasti jenis kanker darah yang dialami Ibu Ani Yudhoyono.

Advertisement

Dalam temu media beberapa waktu lalu, dokter spesialis hematologi onkologi medik dari RS Kanker Dharmais, Hilman Tadjoedin, mengatakan, peningkatan jumlah sel darah putih yang cukup tinggi memang dikaitkan dengan diagnosis kanker darah CML atau Chronic Myleoid Leukemia (CML).

Sayangnya gejala kanker darah Chronic Myleoid Leukemia (CML) atau juga disebut Leukemia Granulositik Kronis tidak khas, hal ini menyebabkan banyak dokter salah mendiagnosis penyakit ini.

"Banyak yang salah diagnosis, kalau peningkatan sel darah putih bisa mengarah ke infeksi biasa atau TBC," ujar dr Hilman.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, banyak pasien datang dengan keluhan perut terasa begah dan demam, atau seperti masuk angin, sehingga hanya dianggap penyakit biasa. "Tapi setelah diambil darahnya, jumlah sel darah putihnya besar sekali," imbuhnya.

Untuk menegakkan diagnosis yang tepat, Hilman melanjutkan pasien harus menjalani pemeriksaan lainnya yaitu pemeriksaan darah tepi, yakni darah yang menuju ke jantung. "Setelah itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan mengambil sumsum tulang belakang dan pemeriksaan molekular," tambahnya.

Penyakit ini, lanjut dia memang belum diketahui pasti apa penyebabnya. Penelitian menunjukkan bahwa adanya gen BCR-ABL dalam tubuh yang bertanggung jawab memicu produksi sel darah putih menjadi lebih banyak.

"Kalau kita berpegang pada sejarah, pada saat perang dunia kedua, pasien CML di Jepang diteliti dari mana asal gen tersebut dalam tubuh mereka. Ternyata, mereka sama-sama berasal dari lingkungan yang tak jauh dari lokasi jatuhnya bom atom," lanjut dia.

Namun saat ini, meski tak menjadi penyebab pasti, Hilman menjelaskan bahwa paparan polusi, rokok dan bahan-bahan kimia bisa meningkatkan risiko adanya gen BCR-ABL ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : suara.com

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Uang Miliaran dan Emas Disita dari Kantor Tersangka TPPU

Uang Miliaran dan Emas Disita dari Kantor Tersangka TPPU

News
| Kamis, 16 April 2026, 20:27 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement