Sultan Dorong Kerajinan Jogja Tembus Pasar Global Lewat INACRAFT
Sri Sultan HB X membuka INACRAFT Festival 2026 di JEC. Festival ini diharapkan memperluas pasar global kerajinan Jogja dan Indonesia.
Salah satu makanan cepat saji. /REUTERS-Eric Gaillard
Harianjogja.com, JOGJA- Menjamurnya gerai makanan cepat saji di Indonesia turut mendorong orang untuk mengonsumsinya lebih sering.
Adapun di Amerika Serikat, lebih dari sepertiga orang dewasa mengonsumsi makanan cepat saji pada hari tertentu menurut laporan 2018 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Selama ini, kenaikan berat badan adalah salah satu efek buruk dari konsumsi makanan cepat saji yang kerap digaungkan. Namun efek kesehatan lainnya jarang dibicarakan. Selain tinggi kalori, makanan cepat saji umumnya rendah zat gizi. Kurangnya serat dalam makanan cepat saji membuat kita tak cepat kenyang sehingga cenderung mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan.
"Tubuh Anda sementara penuh dengan makanan tanpa nutrisi, sehingga meski Anda telah mengonsumsi banyak kalori, Anda tidak akan kenyang dalam waktu lama," ujar Amy Shapiro, ahli gizi yang berbasis di New York.
Penelitian juga telah menghubungkan konsumsi makanan cepat saji yang sangat intens dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, lambung, dan saluran pernapasan. Sementara faktor-faktor lain seperti merokok kurang olahraga memang disebut-sebut berkontribusi untuk ini, para peneliti meyakini bahwa pola makan memainkan peranan penting.
Proses penyajian makanan cepat saji seperti digoreng dalam suhu tinggi dapat menghasilkan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker. Anda juga berisiko terpapar phthalate, kelompok bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam kemasan, sarung tangan, kotak pembungkus makanan cepat saji.
Sementara para peneliti masih memeriksa dampak pasti phthalate terhadap kesehatan, beragam penelitian menyebutkan bahwa tingkat phthalate yang tinggi terkait dengan risiko lebih tinggi masalah kesuburan dan beberapa komplikasi kehamilan.
Tahun lalu, sebuah studi dari Inggris mengungkapkan bagaimana diet olahan, tinggi lemak atau gula menyebabkan peradangan sistemik. Dr. Camille Lassale dari University College London mengatakan bahwa pola makan seperti ini dapat memicu depresi.
"Peradangan kronis dapat memengaruhi kesehatan mental dengan mengangkut molekul pro-inflamasi ke otak. Hal itu juga dapat mempengaruhi molekul neurotransmiter yang bertanggung jawab untuk pengaturan suasana hati," kata Dr. Lassale.
Selain lemak dan gula, makanan cepat saji juga mengandung kadar natrium atau garam yang lebih tinggi. Zat ini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan rasa makanan tetapi juga sebagai pengawet untuk membantu memperpanjang umur simpan makanan cepat saji.
Konsumsi terlalu banyak garam, seperti yang Anda tahu, dapat meningkatkan risiko hipertensi. Beberapa orang bahkan mungkin mengalami berjerawat akibat konsumsi terlalu banyak makanan ini. Jadi masih mau makan makanan cepat saji di jam makan siang nanti?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Sri Sultan HB X membuka INACRAFT Festival 2026 di JEC. Festival ini diharapkan memperluas pasar global kerajinan Jogja dan Indonesia.
Gabsi Sleman menggelar Kejurkab Bridge 2026 sebagai ajang seleksi atlet menuju Kejurda DIY dan Pelatkab Porda 2027.
FK-KMK UGM menggelar Summer Course 2026 bertema sistem kesehatan tangguh bencana yang diikuti 81 peserta dari 11 negara.
Kejagung menegaskan status Febrie Adriansyah tetap tersangka meski menerbitkan tiga sprindik baru terkait dugaan korupsi dan TPPU.
Menkop Ferry Juliantoro merespons isu pengadaan kipas angin Kopdes Merah Putih senilai Rp1,8 triliun dalam rapat bersama Komisi VI DPR.
Inggris unggul rekor pertemuan atas Argentina jelang semifinal Piala Dunia 2026. Simak head to head dan lima pertemuan terakhir.