Kopi Magelang Raih Skor di Atas 83, Kualitas Dinilai Menjanjikan
Hasil uji Puslitkoka menunjukkan sampel kopi Magelang meraih skor di atas 83. Produksi tahun ini sedikit menurun akibat faktor cuaca.
Salah satu makanan cepat saji. /REUTERS-Eric Gaillard
Harianjogja.com, JOGJA- Menjamurnya gerai makanan cepat saji di Indonesia turut mendorong orang untuk mengonsumsinya lebih sering.
Adapun di Amerika Serikat, lebih dari sepertiga orang dewasa mengonsumsi makanan cepat saji pada hari tertentu menurut laporan 2018 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Selama ini, kenaikan berat badan adalah salah satu efek buruk dari konsumsi makanan cepat saji yang kerap digaungkan. Namun efek kesehatan lainnya jarang dibicarakan. Selain tinggi kalori, makanan cepat saji umumnya rendah zat gizi. Kurangnya serat dalam makanan cepat saji membuat kita tak cepat kenyang sehingga cenderung mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan.
"Tubuh Anda sementara penuh dengan makanan tanpa nutrisi, sehingga meski Anda telah mengonsumsi banyak kalori, Anda tidak akan kenyang dalam waktu lama," ujar Amy Shapiro, ahli gizi yang berbasis di New York.
Penelitian juga telah menghubungkan konsumsi makanan cepat saji yang sangat intens dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, lambung, dan saluran pernapasan. Sementara faktor-faktor lain seperti merokok kurang olahraga memang disebut-sebut berkontribusi untuk ini, para peneliti meyakini bahwa pola makan memainkan peranan penting.
Proses penyajian makanan cepat saji seperti digoreng dalam suhu tinggi dapat menghasilkan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker. Anda juga berisiko terpapar phthalate, kelompok bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam kemasan, sarung tangan, kotak pembungkus makanan cepat saji.
Sementara para peneliti masih memeriksa dampak pasti phthalate terhadap kesehatan, beragam penelitian menyebutkan bahwa tingkat phthalate yang tinggi terkait dengan risiko lebih tinggi masalah kesuburan dan beberapa komplikasi kehamilan.
Tahun lalu, sebuah studi dari Inggris mengungkapkan bagaimana diet olahan, tinggi lemak atau gula menyebabkan peradangan sistemik. Dr. Camille Lassale dari University College London mengatakan bahwa pola makan seperti ini dapat memicu depresi.
"Peradangan kronis dapat memengaruhi kesehatan mental dengan mengangkut molekul pro-inflamasi ke otak. Hal itu juga dapat mempengaruhi molekul neurotransmiter yang bertanggung jawab untuk pengaturan suasana hati," kata Dr. Lassale.
Selain lemak dan gula, makanan cepat saji juga mengandung kadar natrium atau garam yang lebih tinggi. Zat ini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan rasa makanan tetapi juga sebagai pengawet untuk membantu memperpanjang umur simpan makanan cepat saji.
Konsumsi terlalu banyak garam, seperti yang Anda tahu, dapat meningkatkan risiko hipertensi. Beberapa orang bahkan mungkin mengalami berjerawat akibat konsumsi terlalu banyak makanan ini. Jadi masih mau makan makanan cepat saji di jam makan siang nanti?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Hasil uji Puslitkoka menunjukkan sampel kopi Magelang meraih skor di atas 83. Produksi tahun ini sedikit menurun akibat faktor cuaca.
Link cek pengumuman tenaga kesehatan haji 2027 yang lolos administrasi, jadwal CAT PPIH, ketentuan pakaian, dan tata tertib ujian.
Chelsea menang 4-3 atas Brighton pada pekan kedua Liga Inggris 2026/27. Emiliano Martinez debut dan Cole Palmer mencetak gol penentu.
PBNU masa khidmah 2021-2026 resmi demisioner dalam Muktamar ke-35 NU. Kiai Miftachul Akhyar meminta maaf dan berharap khidmah berakhir husnul khatimah.
PWI Pusat mendukung pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional dan siap mengawal proses administratif serta jalur strategis di tingkat pusat.
ARTJOG 2026 Catat Lebih dari 87 Ribu Pengunjung, Heri Pemad Soroti Dampak bagi Ekosistem Seni dan Ekonomi Jogja