Klasemen Akhir Liga Spanyol: Barcelona Tumbang, Mallorca Degradasi
Pekan terakhir Liga Spanyol 2025/2026 diwarnai kekalahan Barcelona, kemenangan Real Madrid, dan drama degradasi Mallorca serta Girona.
Ilustrasi pemakaian masker untuk menghindari penyebaran virus influenza./Reuters-Ivan Alvarado
Harianjogja.com, JAKARTA–Ilmuwan dan ahli penyakit infeksi asal Amerika Serikat Dr. Michael Osterholm mengatakan dunia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang sering dianggap remeh, namun kenyataannya berbahaya yakni influenza.
"Kita akan mengalami pandemi influenza yang buruk," kata Dr. Michael Osterholm dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Rabu (17/10/2018).
Menurut dia, pandemi influenza adalah epidemi yang terjadi di seluruh dunia.
Terkait hal ini, menurutnya, penting bagi Indonesia untuk merespons krisis kesehatan ini. Pasalnya Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat pandemi influenza yang tinggi.
Osterholm mengatakan betapa berbahayanya pandemi influenza. Menurut dia, 100 tahun silam yakni tahun 1918, pandemi telah menyebabkan 60% populasi kehilangan nyawa.
Persentase kematian akibat pandemi juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah kematian akibat perang dunia.
"Jumlah tentara Amerika yang meninggal di Eropa karena flu delapan kali lipat jumlahnya dibandingkan yang meninggal karena perang," katanya.
Menurut dia, saat ini kesiapan dunia dalam menghadapi pandemi influenza tidak lebih baik dibandingkan pada saat tahun 1918.
Dalam kesempatan tersebut, ia menambahkan bahwa dewasa ini dunia medis juga dihadapkan dengan tantangan vaksin termasuk jumlah stok vaksin dan efektifitas vaksin terhadap mikroba.
Selain itu, tantangan lainnya adalah resistensi mikroba terhadap antibiotik karena mikroba telah bermutasi.
"Kemudian tantangan lainnya tentang resistensi. Mikroba banyak yang bermutasi dan tidak dapat dihancurkan dengan antibiotik," katanya.
Osterholm bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengedukasi masyarakat tentang pandemi influenza.
"Saya tidak akan ada di Indonesia saat ini jika tidak ada kesempatan bekerja sama dengan Indonesia," katanya.
Selain itu pihaknya juga terus berupaya bekerja sama dengan para tenaga medis dan ahli kesehatan untuk memikirkan solusi menangani resistensi mikroba terhadap antibiotik.
"Bagaimana kita menggunakan antibiotik dengan lebih baik, bagaimana kita ciptakan antibiotik baru, bagaimana menangani sanitasi. Kuncinya keamanan kesehatan global, pandemi influenza dan resistensi terhadap antibiotik adalah prioritas yang harus ditangani," paparnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk menemukan vaksin flu yang dapat melindungi dari berbagai jenis influenza.
"Kita butuh vaksin flu yang lebih baik. Saya melihat nanti di masa depan bahwa kita hanya perlu divaksin satu kali dan (vaksin) bertahan hingga 10-20 tahun dan dapat melindungi diri dari berbagai strain influenza, tidak hanya strain musiman, tapi juga strain pandemi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/Antara
Pekan terakhir Liga Spanyol 2025/2026 diwarnai kekalahan Barcelona, kemenangan Real Madrid, dan drama degradasi Mallorca serta Girona.
Bareskrim Polri menyelidiki blackout massal di Sumatera setelah putusnya jaringan SUTET di Jambi memicu gangguan listrik luas.
Studi global ungkap gangguan mental kini menjadi penyebab utama kecacatan dunia dengan hampir 1,2 miliar penderita.
Timnas Iran resmi pindahkan markas latihan Piala Dunia 2026 dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Mehdi Taj sebut langkah ini imbas ketegangan geopolitik.
Daftar mobil mesin di bawah 1.400 cc yang irit BBM dan pajak ringan cocok untuk keluarga muda dan pemakaian harian.
Spotify luncurkan Studio, aplikasi AI desktop yang bikin podcast & briefing personal dari kalender, email, dan catatanmu. Pesaing Google NotebookLM.